Intervensi gizi pada awal kehidupan merupakan investasi modal manusia. Manfaatnya memang tidak selalu terlihat dalam jangka pendek, tetapi tercermin dalam kualitas kesehatan, kemampuan belajar, produktivitas, dan kapasitas ekonomi generasi mendatang.

Jakarta (ANTARA) - Tengkes atau stunting selama ini lebih sering dipahami sebagai persoalan gizi. Padahal, dampaknya jauh lebih luas karena menyangkut kualitas manusia yang akan menentukan kemampuan belajar, produktivitas, dan daya saing bangsa pada masa depan.

Pada tingkat yang lebih mendasar, stunting adalah persoalan hilangnya sebagian potensi manusia sejak awal kehidupan. Gangguan pertumbuhan yang terjadi pada fase awal tidak hanya memengaruhi kondisi fisik anak, tetapi juga dapat membatasi perkembangan kognitif, kapasitas belajar, hingga peluang ekonomi ketika memasuki usia dewasa.

Perspektif inilah yang membuat upaya pencegahan stunting tidak dapat ditempatkan semata-mata sebagai program kesehatan. Ia merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia karena kualitas generasi masa depan ditentukan sejak fase kehidupan yang paling awal.

Dalam kerangka tersebut, perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD melalui skema MBG 3B memiliki arti strategis. Program ini tidak hanya menjangkau peserta didik, tetapi juga menyasar kelompok yang berada pada fase paling menentukan dalam pembentukan kualitas manusia.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, mengatakan bahwa hingga awal Agustus 2026, MBG 3B telah menjangkau sekitar 9,6 juta penerima manfaat. Perluasan sasaran tersebut menunjukkan perubahan pendekatan, yakni mendorong intervensi sebelum gangguan pertumbuhan terjadi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hambatan pertumbuhan pada 1.000 hari pertama kehidupan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif, kemampuan belajar, produktivitas, dan kesehatan seseorang. Karena itu, periode tersebut menjadi titik krusial dalam menentukan kualitas manusia pada masa mendatang.

Baca juga: Mendukbangga wajibkan SPPG beri MBG untuk kelompok 3B

Titik awal kehidupan

Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode ketika fondasi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak mulai terbentuk.

Kekurangan asupan gizi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Kondisi tersebut berpotensi berlanjut menjadi gangguan pertumbuhan yang sulit diperbaiki pada fase kehidupan berikutnya. Atas dasar itu, intervensi gizi pada masa kehamilan menjadi salah satu komponen penting dalam strategi pencegahan stunting.

Di sinilah nilai strategis MBG 3B semakin terlihat. Program ini menggeser pendekatan dari penanganan setelah masalah muncul menjadi pencegahan sejak risiko mulai terbentuk. Semakin dini intervensi dilakukan, semakin besar peluang menjaga tumbuh kembang anak secara optimal.

Namun, cakupan program yang besar harus berjalan seiring dengan ketepatan sasaran. Dalam program nasional, kualitas data menjadi fondasi agar manfaat benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.