Jakarta (ANTARA) - Edukator dari perusahaan keamanan siber, Kaspersky, menyatakan bahwa peran manusia masih sangat penting dalam memastikan keandalan keamanan siber meski saat ini kecerdasan artifisial (AI) sudah makin banyak diimplementasikan untuk menangani bidang tersebut.
Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky Evgeniya Russkikh menyatakan, meski AI kini sudah cakap dalam hal mempertahankan suatu sistem keamanan siber ataupun melakukan serangan, tetap saja penilaian dan pemikiran kritis manusia memainkan peran yang krusial.
"Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting," kata Evgeniya lewat acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu.
Dalam acara tersebut, ia mengatakan saat ini secara global terjadi masalah kekurangan tenaga ahli keamanan siber di tengah peningkatan implementasi AI untuk menangani keamanan siber.
Kondisi implementasi AI di bidang ini terungkap lewat studi International Information System Security Certification Consortium (ISC2) 2025. Studi itu menunjukkan bahwa AI telah benar-benar mengubah lanskap industri terkait dengan pekerjaan yang berkaitan keamanan siber.
Bahkan saat ini 47 persen organisasi bisnis di dunia menempatkan pelatihan AI untuk keamanan siber. Di samping mulai tingginya implementasi AI untuk menjaga keamanan siber, ancaman serangan siber oleh AI juga meningkat.
Maka dari itu, sebenarnya peran manusia dalam keamanan siber masih sangat penting meski AI kini sudah semakin cakap, baik dalam menjaga keamanan siber maupun menciptakan serangan dan menjadi ancaman.
"Jika model AI kini sudah dapat kini sudah bisa melancarkan penyerangan siber, maka manusia yang melawannya harus memahami cara kerja dari model AI itu," katanya.
Membahas lebih detail, Evgeniya menjelaskan ternyata kawasan Asia Pasifik menyumbang 60 persen dari kesenjangan talenta siber dunia tersebut.
Baca juga: BSSN sebut keamanan siber menjadi aspek utama dalam RUU SDI
Dalam lingkup yang lebih kecil lagi yaitu kawasan Asia Tenggara, masalah ahli keamanan siber ternyata turut disebabkan oleh faktor pengalaman yang membuat para talenta digital keamanan siber pemula justru tidak mendapatkan kesempatan untuk mengasah diri.
Studi yang sama menyebut 65 persen pekerjaan keamanan siber di Asia Tenggara mensyaratkan perlunya pengalaman kerja minimal tiga tahun dan hal ini justru menjadi penyumbang terjadinya kesenjangan akan talenta siber secara global.
Berkaca dari hal itu dibutuhkan solusi pencetakan talenta digital khususnya untuk bidang keamanan siber agar kesenjangan ini dapat diatasi dan tetap bisa menjaga AI terkendali saat diimplementasikan di dunia nyata.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Evgeniya mengatakan bahwa dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara akademisi, industri, dan pembuat kebijakan di tiap negara sehingga proses pencetakan talenta digital keamanan siber bisa berjalan optimal dan mengatasi kesenjangan yang saat ini terjadi.
Khusus untuk kawasan Asia Tenggara, kolaborasi itu juga diharapkan dapat menangani masalah kurangnya instruktur keamanan siber yang kompeten untuk melatih generasi yang lebih muda serta dapat menangani terbatasnya ketersediaan materi pelatihan dalam bahasa lokal masing-masing negara.
"Kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan sektor publik akan sangat penting untuk membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan demi masa depan digital yang tangguh,” ujar Evgeniya.
Pewarta : Livia Kristianti
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026