Jakarta (ANTARA) - Elliot Anderson riang gembira sampai-sampai menilai Manchester City adalah "Raja Manchester" ketika dia dibeli oleh klub asuhan Enzo Maresca itu pada April 2026, dengan harga yang memecahkan rekor transfer Liga Premier musim ini.
Dibeli dengan harga 116 juta pound (Rp2,7 triliun), Anderson adalah pemain Liga Inggris termahal ketiga sepanjang masa setelah Declan Rice dan Jack Grealish, yang juga dibeli City tapi kemudian dijual kepada Everton pertengahan tahun ini.
Anderson telah membuktikan harga mahalnya dengan kualitas canggih yang membuat City menjadi satu-satunya klub Liga Premier yang selalu menang dalam lima laga pertama musim ini sehingga memuncaki klasemen.
Tapi suasana hati Anderson, dan juga para bintang Manchester City lain, termasuk Erling Haaland, mungkin menjadi berubah muram oleh kabar mengejutkan bahwa klub mereka dinyatakan telah menyalahi aturan keuangan Liga Premier.
Kabar itu diletupkan oleh media massa yang mendapatkan bocoran hasil investigasi komisi independen yang ditugaskan otoritas Liga Premier untuk menyelidiki praktik keuangan Man City selama era kepemilikan konsorsium City Football Group Limited bentukan Khaldoon Al Mubarak.
Sebesar 81 persen saham City Football Group dikuasai oleh Abu Dhabi United Group for Development and Investment (ADUG).
Bocoran laporan itu pertama kali dilaporkan oleh The Athletic, BBC, The Guardian, The Times dan Sky Sports, pada 25 September.
Mereka mewartakan bahwa City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 tuduhan melanggar aturan keuangan liga.
Sampai akhir pekan lalu, otoritas Premier League bungkam. Namun empat hari kemudian, (29 September), Premier League akhirnya mengonfirmasi bocoran itu.
Dalam lamannya, Premier League menyatakan bahwa komisi independen yang mendapat tugas dari mereka telah menyatakan Manchester City FC bersalah atas semua tudingan berkaitan dengan berbagai pelanggaran berat terhadap aturan keuangan Premier League selama sembilan musim.
City juga dinyatakan bersalah atas hampir semua tudingan yang berkaitan dengan sikap tidak kooperatif mereka dengan investigasi Premier League.
Delapan kali laporan itu menulis kata sham, yang dalam Bahasa Indonesia berarti palsu atau bisa berarti abal-abal.
Tidak kooperatif
BBC menyebut dokumen setebal 40 halaman yang dipublikasikan Premier League itu menghebohkan jagat sepak bola Inggris.
Dokumen itu menyimpulkan bahwa pemilik City, Abu Dhabi United Group, tahu bahwa sejak 2009 sampai 2010 telah terjadi penggelembungan keuangan di dalam klub itu agar mencapai level dan status seperti kita lihat belakangan dari klub yang baru saja ditinggalkan Pep Guardiola, si legenda.
City dianggap telah membengkakkan pendapatan sponsor selama sembilan musim dengan menggelembungkan nilai kesepakatan-kesepakatan kontrak, melalui skema yang disebut Komisi Independen sebagai Disguised Funding Scheme (penyamaran asal-usul uang).
Skema ini pula yang menjadi titik utama dalam serangkaian dakwaan kepada Manchester City yang membuat klub ini dinyatakan bersalah oleh komisi independen Liga Premier.
Lewat skema ini City disimpulkan telah mengaburkan nilai dana sponsor senilai lebih dari 830 juta pound (Rp19,6 triliun), dan 90 juta pound (Rp2,1 triliun) lain dari metode-metode selain skema itu.
Komisi Independen Premier League menyimpulkan empat hal praktik nakal City dari musim 2009/2010 sampai 2017/2018.
Keempatnya adalah (1) City telah menyusun kontrak-kontrak palsu yang tak mencerminkan kesepakatan sebenarnya dengan sejumlah mitra komersialnya, dan mengandalkan perjanjian palsu dengan pihak lain guna merekayasa pendapatannya sehingga terlihat sehat.
Kedua, City dinilai telah mengeluarkan laporan keuangan yang memuat informasi yang keliru dan menyembunyikan kondisi keuangan mereka yang sebenarnya, dari auditor dan otoritas regulasi sepak bola.
Ketiga, City telah melanggar batas belanja yang sudah ditentukan baik oleh Liga Premier maupun oleh badan sepak bola Eropa, UEFA.
Keempat, Manchester City dianggap tak beritikad baik dan tak kooperatif dengan penyelidikan yang digelar Liga Premier.
Namun yang paling banyak disorot dari semua laku itu adalah City berusaha mengakali kontrak kesponsoran sebagai kanal untuk menyalurkan dana langsung dari pemiliknya di Abu Dhabi, termasuk untuk belanja pemain, dan agar kinerja keuangan mereka terlihat tetap sehat, walau jor-joran berbelanja.
Tudingan-tudingan semacam itu mulai dialamatkan kepada City pada 2018, sampai mendorong UEFA menggelar investigasi.
Dua tahun kemudian, pada 2020, UEFA menyatakan City bersalah dengan melanggar aturan belanja klub. Sanksinya, mereka dilarang mengikuti kompetisi Eropa selama dua tahun. Tetapi putusan ini batal setelah City memenangkan banding.
Bisa dikeluarkan
Kini City juga akan mengajukan banding, dan diberi waktu sampai Jumat pekan ini untuk mengajukan banding.
City, yang kecewa atas putusan komisi independen Premier League, menyatakan bandingnya akan berpijak pada anggapan bahwa putusan komisi independen itu cacat materiil, baik dari segi hukum, prinsip, maupun fakta, selain juga tak bisa dipertanggungjawabkan.
Namun, menurut Simon Leaf dari firma hukum Three Points Law seperti dilaporkan The Financial Times pada Rabu (30/9), City menghadapi tantangan yang sangat berat jika ingin membatalkan putusan komisi independen Liga Premier itu.
Leaf beranggapan kasus ini bukan sekadar sengketa teknis keuangan, tapi juga tentang skema yang sengaja dilakukan City untuk menyamarkan pendanaan dari pemiliknya sebagai pendapatan sponsor. Praktik ini sudah berlangsung selama sepuluh tahun dengan melibatkan jajaran manajemen tertingginya.
Leaf justru menilai City harus bersiap menghadapi sanksi berat dari otoritas Liga Inggris, yang bisa berupa denda sangat tinggi, pengurangan poin, dan terberat dikeluarkan dari Liga Premier.
Bentuk sanksi yang terakhir itu didasarkan pada anggapan bahwa City telah membohongi Liga Premier, yang artinya juga tidak jujur kepada 19 klub lain di Liga Premier. City juga dianggap tak menghormati aturan Liga Premier, bahkan dituding telah mengakali aturan liga.
"Semestinya sekarang ada alasan kuat untuk mengusir (City dari Liga Premier)," kata kolumnis World Soccer yang juga wartawan olah raga The Guardian, Jonathan Wilson, dalam tulisannya di The Guardian, Rabu.
Pendapat sama diutarakan oleh Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy yang menilai City dapat dikeluarkan dari Liga Premier karena sudah dinyatakan terbukti bersalah telah melanggar aturan keuangan liga oleh komisi independen Liga Premier.
Manajemen City tentu akan mati-matian membela diri dari putusan itu. Tapi suasana dalam klub itu mungkin tak akan lagi senormal dulu, termasuk suasana hati Elliot Anderson, Haaland, dan rekan-rekannya yang lain.
Mereka bisa kembali senang jika hanya denda yang dijatuhkan kepada klubnya, tapi jika sanksi itu berupa pengurangan poin dan apalagi degradasi dari liga utama, maka itu sungguh petir di siang bolong bagi mereka.
Semoga saja tidak merembet ke pencapaian City selama rentang waktu sepuluh tahun yang diinvestigasi oleh komisi independen Liga Premier. Dalam kurun waktu ini, City tiga kali juara liga, dua kali juara Piala FA, dan tiga kali juara Piala Liga.
Tapi mungkin masih perlu waktu lama untuk bisa sampai ke epilog seperti itu. Namun begitu, dunia sepak bola akan tergoda untuk terus mengikuti seperti apa akhir dari kisah Manchester City.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.