Gorontalo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan adsorben ramah lingkungan untuk mengatasi limbah cair, khususnya pada industri pembuatan tahu.
Ketua tim peneliti muda UNG Nola Charmelita Bagenda di Gorontalo, Rabu, mengatakan industri tahu merupakan urat nadi ekonomi rakyat di banyak daerah di Indonesia, termasuk Gorontalo.
Sayangnya, kata Nola, dibalik gurihnya produk protein ini, tersimpan tantangan lingkungan yang pelik, yaitu limbah cair dengan kandungan organik tinggi.
Tanpa pengolahan yang memadai, limbah ini memicu bau menyengat dan merusak ekosistem sungai akibat tingginya kadar Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD).
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti muda UNG hadir dengan solusi brilian yang mengusung konsep ekonomi sirkular.
Nola mengatakan mereka berhasil menyintesis material komposit dari abu terbang (fly ash ) dan zeolit sebagai media penyerap (adsorben) limbah yang efektif sekaligus ekonomis.
Penelitian tersebut bertajuk Sintesis dan Aplikasi Komposit (Fly Ash-Zeolit) sebagai Media Adsorben untuk Reduksi BOD dan COD pada Limbah Cair Industri Tahu.
"Kami menggagas ini melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE)," kata Nola.
Penelitian tersebut mengusung pendekatan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan abu terbang, limbah hasil pembakaran batu bara dari industri, yang dikombinasikan dengan zeolit untuk menghasilkan material komposit berdaya serap tinggi.
Pendekatan ini menarik, karena memanfaatkan limbah untuk mengatasi persoalan limbah lainnya.
Abu terbang yang selama ini kurang termanfaatkan, diolah menjadi material fungsional yang mampu mengadsorpsi senyawa pencemar organik dalam limbah cair tahu.
“Melalui proses sintesis komposit fly ash–zeolit, adsorben yang dihasilkan terbukti mampu mereduksi nilai BOD dan COD secara signifikan, sehingga berpotensi menekan dampak pencemaran air,” katanya.
Selain efektif, teknologi ini dinilai lebih ekonomis dan mudah diaplikasikan oleh pelaku usaha kecil menengah.
Penggunaan bahan baku dari limbah industri menjadikan biaya produksi relatif rendah, sekaligus memberikan nilai tambah pada material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya berorientasi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi.
Hasil penelitian diharapkan menjadi alternatif teknologi pengolahan limbah cair ramah lingkungan, membantu industri tahu memenuhi baku mutu limbah sesuai regulasi, serta menjaga kelestarian ekosistem perairan.
"Pengembangan teknologi adsorpsi berbasis material lokal ini berpotensi direplikasi di berbagai daerah dengan karakteristik industri serupa,” kata Nola.
Penelitian ini juga mendukung upaya pemerintah dalam pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek air bersih dan sanitasi serta industri yang berkelanjutan.
Inovasi ini menjadi bukti peran mahasiswa dalam menghadirkan solusi ilmiah yang aplikatif bagi permasalahan nyata di masyarakat
Pewarta: Susanti Sako
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.