Padang (ANTARA) - Memasuki perguruan tinggi merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Setelah bertahun-tahun terbiasa dengan lingkungan sekolah, teman-teman yang relatif sama, guru yang dikenal, serta pola belajar yang sudah familiar, mahasiswa kini berhadapan dengan dunia yang jauh lebih beragam. Mereka bertemu teman dari daerah, budaya, keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda. Mereka juga memasuki relasi baru dengan dosen, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, serta berbagai komunitas di kampus.
Bagi sebagian mahasiswa baru, masa awal perkuliahan terasa menyenangkan. Bertemu teman baru, mengenal lingkungan kampus, mengikuti berbagai kegiatan, dan mulai membayangkan kehidupan sebagai mahasiswa merupakan pengalaman yang membahagiakan. Namun, bagi sebagian lainnya, masa transisi ini tidak selalu mudah. Ada yang merasa canggung, takut salah berbicara, bingung memulai percakapan, minder, atau bahkan merasa sendirian meskipun berada di tengah banyak orang.
Di sini komunikasi menjadi salah satu kekuatan penting dalam proses adaptasi mahasiswa baru. Namun, kemampuan berkomunikasi bukan sekadar keberanian untuk berbicara. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita berbicara, apa yang kita sampaikan, kepada siapa kita menyampaikannya, serta bagaimana sikap dan bahasa tubuh kita ketika berhadapan dengan orang lain.
Bukan Sekadar Pandai Berbicara
Mahasiswa baru sering kali berpikir bahwa untuk mendapatkan teman dan mudah beradaptasi, mereka harus menjadi pribadi yang banyak bicara dan mudah bergaul. Padahal, komunikasi yang membuat seseorang mudah diterima bukanlah sekadar banyaknya kata yang keluar, melainkan kualitas pesan dan cara menyampaikannya.
Cara berbicara merupakan bagian dari komunikasi verbal. Pilihan kata, intonasi, volume suara, kesantunan, serta kemampuan menyesuaikan bahasa dengan siapa yang sedang diajak berbicara menjadi penting.
Ketika berbicara dengan teman sebaya, gaya komunikasi tentu dapat lebih santai. Namun, ketika berbicara dengan dosen, tenaga kependidikan, senior, atau orang lain yang baru dikenal, diperlukan penyesuaian cara berkomunikasi. Mengucapkan salam atau sapaan, memperkenalkan diri, menyampaikan maksud dengan jelas, menggunakan kata-kata yang sopan, dan menghindari nada yang terkesan menuntut merupakan hal sederhana yang dapat menunjukkan penghargaan kepada lawan bicara.
Misalnya, ada perbedaan kesan antara mengatakan, “Pak, tugasnya kapan dikumpulkan?” dengan “Selamat siang, Pak. Mohon izin bertanya, untuk tugas yang kemarin, batas pengumpulannya kapan ya, Pak?”
Pesannya sama, tetapi cara menyampaikannya berbeda. Pilihan kata dapat menunjukkan apakah seseorang memahami etika komunikasi atau tidak.
Dalam bukunya How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere: The Secrets of Good Communication, Larry King bersama Bill Gilbert menekankan pentingnya bagaimana seseorang membangun percakapan, memilih topik, memahami lawan bicara, mendengarkan, serta membuat orang lain merasa nyaman dalam proses komunikasi.
Gagasan tersebut relevan bagi mahasiswa baru. Apa yang disampaikan memang penting, tetapi bagaimana cara menyampaikannya tidak kalah penting. Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang baik, tetapi jika disampaikan dengan nada merendahkan atau tanpa memperhatikan perasaan orang lain, pesan yang sebenarnya baik dapat diterima secara berbeda. Sebaliknya, gagasan sederhana yang disampaikan dengan bahasa santun, ekspresi ramah, dan sikap menghargai dapat membangun kesan positif.
Dengan kata lain, bukan hanya isi pembicaraan yang membentuk kesan tentang diri kita, tetapi juga cara kita menyampaikannya.
Wajah dan Gestur Juga Berbicara
Selain komunikasi verbal, ada komunikasi nonverbal yang sering kali justru lebih dahulu ditangkap oleh orang lain.
Senyum ketika berkenalan, kontak mata yang wajar, ekspresi wajah yang ramah, posisi tubuh yang terbuka, anggukan ketika mendengarkan, serta tidak sibuk dengan telepon genggam ketika seseorang sedang berbicara merupakan bentuk-bentuk komunikasi sederhana yang memiliki makna.
Bayangkan seorang mahasiswa baru datang ke sebuah kelompok. Ia ingin bergabung, tetapi wajahnya terlihat tidak tertarik, jarang melakukan kontak mata, tubuhnya membelakangi orang lain, dan ketika diajak berbicara justru sibuk melihat telepon genggam. Bisa jadi sebenarnya ia hanya gugup. Namun, orang lain belum tentu memahami kegugupan tersebut. Mereka mungkin menangkapnya sebagai sikap tidak peduli, tidak tertarik, atau tidak menghargai.
Di sini pentingnya memahami bahwa komunikasi nonverbal dapat memperkuat atau bahkan bertentangan dengan pesan verbal.
Seseorang mungkin mengatakan, “Saya senang bertemu dengan kalian,” tetapi jika disampaikan dengan wajah datar, nada suara dingin, dan tanpa perhatian kepada lawan bicara, pesan yang diterima bisa berbeda.
Karena itu, mahasiswa baru perlu belajar menghadirkan keselarasan antara apa yang dikatakan dan bagaimana tubuh menyampaikannya.
Respek Adalah Modal Penting
Lingkungan perguruan tinggi mempertemukan mahasiswa dengan orang-orang yang beragam. Tidak semua orang memiliki cara berbicara, kebiasaan, humor, latar belakang, atau sudut pandang yang sama.
Karena itu, salah satu modal penting agar seseorang mudah diterima dalam lingkungan baru adalah respek.
Respek bukan berarti harus selalu setuju dengan orang lain. Respek berarti mampu memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang memiliki nilai dan pandangan yang patut dihargai.
Jangan memotong pembicaraan. Jangan menertawakan cara bicara teman. Jangan meremehkan daerah asal seseorang. Jangan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan. Jangan merasa diri paling tahu hanya karena berasal dari sekolah atau daerah tertentu.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan kualitas hubungan sosial.
Mahasiswa baru juga perlu memahami bahwa tidak semua candaan dapat diterima oleh semua orang. Humor yang dianggap lucu oleh satu kelompok belum tentu nyaman bagi kelompok lain. Karena itu, kepekaan membaca situasi menjadi bagian penting dari kecakapan komunikasi.
Belajar Membaca Situasi
Berkomunikasi dengan orang yang beragam membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Mahasiswa perlu belajar membaca siapa lawan bicaranya, bagaimana situasinya, apa yang sedang dibicarakan, dan bagaimana respons orang tersebut.
Ketika seseorang terlihat sedang serius, mungkin bukan saat yang tepat untuk bercanda. Ketika teman sedang bercerita tentang masalah pribadi, mungkin yang dibutuhkan bukan komentar panjang, tetapi kesediaan untuk mendengarkan.
Begitu pula ketika berada dalam diskusi. Tidak semua kesempatan harus digunakan untuk berbicara. Terkadang, kemampuan untuk diam, mendengarkan, dan memberikan respons yang tepat justru menunjukkan kematangan komunikasi.
Mahasiswa juga perlu belajar bahwa perbedaan pendapat bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Dalam lingkungan akademik, perbedaan gagasan merupakan sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana pendapat tersebut disampaikan dengan argumentasi, bahasa yang santun, dan tetap menghargai orang yang berbeda pandangan.
Dengan demikian, mahasiswa yang mudah diterima bukan selalu mahasiswa yang paling aktif berbicara, melainkan mahasiswa yang mampu menempatkan dirinya dengan tepat dalam berbagai situasi komunikasi.
Jangan Takut Bertanya kepada Dosen
Kemampuan berkomunikasi juga penting dalam membangun hubungan akademik dengan dosen. Di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut lebih mandiri. Dosen tidak selalu mengetahui kesulitan yang sedang dihadapi mahasiswa jika mahasiswa tersebut tidak mengomunikasikannya.
Ketika tidak memahami materi, bertanyalah dengan sopan. Ketika mengalami kesulitan dalam tugas, komunikasikan dengan baik. Ketika memiliki pendapat berbeda, sampaikan dengan argumentasi dan tetap menghargai.
Mahasiswa perlu memahami bahwa bertanya bukan tanda tidak pintar. Justru keberanian bertanya menunjukkan kemauan untuk belajar.
Begitu pula ketika menghubungi dosen melalui pesan digital. Cara menulis pesan juga merupakan bagian dari pendidikan komunikasi. Sapaan, pengenalan diri, tujuan pesan, pilihan waktu, serta bahasa yang digunakan menunjukkan bagaimana seorang mahasiswa menghargai orang lain.
Tidak Harus Langsung Pandai
Kemampuan komunikasi bukan sesuatu yang langsung sempurna ketika seseorang memasuki perguruan tinggi. Ia tumbuh melalui pengalaman dan latihan.
Mahasiswa baru mungkin masih gugup ketika memperkenalkan diri. Mungkin masih salah memilih kata ketika berbicara dengan dosen. Mungkin belum terbiasa berdiskusi dengan orang yang berbeda pendapat.
Semua itu adalah bagian dari proses belajar.
Yang penting adalah memiliki kemauan untuk memperbaiki diri.Mulailah dari hal sederhana: sapa orang lain, dengarkan ketika mereka berbicara, jaga ekspresi wajah, perhatikan gestur, pilih kata yang sopan, hormati perbedaan, dan jangan takut meminta maaf
ketika melakukan kesalahan.
Pada akhirnya, kehidupan kampus bukan hanya tentang mendapatkan nilai dan menyelesaikan pendidikan. Perguruan tinggi juga menjadi ruang untuk belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, terbuka, dan mampu bekerja bersama orang lain.
Mahasiswa baru tidak perlu berusaha menjadi orang lain agar diterima. Jadilah diri sendiri, tetapi belajarlah menjadi pribadi yang menyenangkan untuk diajak berkomunikasi.
Satu sapaan dapat membuka pertemanan. Satu senyuman dapat menghilangkan kecanggungan. Satu cara bicara yang santun dapat menumbuhkan penghargaan. Dan satu sikap mau mendengarkan dapat membuat seseorang merasa dihargai.
Karena itu, ketika memasuki dunia kampus, membawa buku, cita-cita, dan semangat belajar itu sangat penting. Namun penting juga membawa kecakapan berkomunikasi: kemampuan berbicara dengan baik, mendengarkan dengan tulus, membaca situasi, menghargai orang lain, serta menghadirkan bahasa tubuh yang menunjukkan respek.
Sebab di tengah lingkungan kampus yang penuh keberagaman, cara kita berkomunikasi sering kali menjadi pintu pertama yang menentukan bagaimana orang lain mengenal dan menerima kita.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
Oleh Dr. Ernita Arif, M.Si.
COPYRIGHT © ANTARA 2026