Lima hingga enam ton minyak telah dibersihkan dari Perairan Semau
Senin, 3 Agustus 2026 04:54 WIB
Warga dan polisi membersihkan pantai dari tumpahan minyak di Kupang. ANTARA/HO-Humas Polda NTT
Kupang (ANTARA) - Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur menyebut sekitar lima hingga enam ton tumpahan oli telah dibersihkan dari perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, yang bocor saat pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas.
Direktur Polairud Polda NTT Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution mengatakan proses pembersihan masih terus berlangsung untuk memastikan tumpahan minyak tidak menyebar lebih luas dan meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan laut maupun aktivitas masyarakat pesisir.
"Pembersihan masih terus dilakukan, berkolaborasi juga dengan masyarakat," katanya di Kupang, Minggu, terkait penanganan tumpahan oli di perairan Kupang dan pulau Semau.
Dia menjelaskan penanganan pembersihan dilakukan melalui kerja sama antara pihak kontraktor, instansi terkait, dan masyarakat dengan menambah armada pembersihan dari dua menjadi empat unit perahu.
Selain itu, dilakukan pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, penyemprotan oil dispersant, serta penyedotan minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian.
"Kami bersama instansi terkait akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan di lapangan. Penyisiran lanjutan dilakukan pada titik-titik pesisir yang berpotensi terdampak guna memastikan proses pembersihan berjalan efektif," ujarnya.
Selain pembersihan di laut, kegiatan gotong royong juga dilakukan di sejumlah kawasan pesisir, antara lain Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing.
Dia menambahkan saat ini Ditpolairud Polda NTT bersama pemerintah daerah, KSOP, dan instansi terkait lainnya masih melakukan pemantauan serta koordinasi, sementara pihak kontraktor melanjutkan investigasi teknis untuk memastikan sumber kebocoran Marine Fuel Oil (MFO).
Penanganan akan terus dilakukan hingga kondisi perairan kembali aman bagi masyarakat dan ekosistem laut.
Sebelumnya Camat Semau, Kabupaten Kupang Morifali Y.E Mesakh melaporkan bahwa selain mencemari wilayah pesisir, tumpahan minyak diduga telah berdampak pada usaha
budidaya rumput laut milik masyarakat di Desa Huilelot.
Kawasan budidaya yang terdampak berada di sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak hingga Batuhopon dengan panjang sekitar 6 kilometer.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.