ILUSTRASI. Teller Melayani nasabah di Kantor Cabang CIMB Niaga Syariah (KONTAN/Baihaki)

Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Likuiditas industri perbankan yang semakin mengetat turut menjadi perhatian perbankan syariah. 

Berdasarkan data analisis uang beredar Bank Indonesia (BI), rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) industri perbankan ada di level 92%, dengan total kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masing-masing mencapai Rp 8.970,2 triliun atau tumbuh 13% dan Rp 9.666,9 triliun atau tumbuh 7,7% secara tahunan. 

Ketatnya likuiditas juga dialami perbankan syariah. Di CIMB Niaga Syariah misalnya, level pembiayaan terhadap pendanaan (financing to deposit ratio/FDR) bank ada di level 104,99% per Juni 2026. Meski turun dari 122,84% pada tahun sebelumnya, posisi ini masih mencerminkan likuiditas yang ketat. 

Dalam kondisi ini, Direktur Bank Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara mengaku pihaknya bakal menerapkan strategi lebih konservatif diterapkan oleh CIMB Niaga Syariah. 

Pandji bilang target pembiayaan CIMB Niaga Syariah pada tahun ini bakal lebih moderat. Toh, menurutnya permintaan pembiayaan secara keseluruhan sebenarnya memang cenderung menurun.

Selain itu, CIMB Niaga Syariah kini tengah berkonsentrasi mempersiapkan proses spin-off yang diharapkan dapat terealisasi sebelum akhir tahun. Persiapan tersebut mencakup kebutuhan pendanaan dan permodalan UUS sebelum berubah menjadi bank umum syariah (BUS).

Baca Juga: Likuiditas Ketat, Bank Digital Genjot Dana Murah untuk Jaga Margin

Namun sejatinya, meski likuiditas ketat, Pandji bilang posisi CIMB Niaga Syariah sebagai Unit Usaha Syariah (UUS) membuat likuiditas CIMB Niaga secara keseluruhan sebagai induk masih dapat menopang aktivitas UUS.

"Secara umum likuiditas mengetat. Tapi satu hal yang mendukung likuiditas CIMB Niaga Syariah adalah bahwa masih dalam kelompok UUS dari CIMB Niaga," kata Pandji kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).

Adapun BCA Syariah mencatatkan FDR di level 86,68% per Juli 2026, naik dari posisi 85,54% pada tahun lalu. Meski begitu, Direktur BCA Syariah Pranata menyebut kondisi likuiditas saat ini masih sehat dan memadai. 

Pasalnya, DPK masih berhasil tumbuh 9,9% secara tahunan menjadi Rp 15,25 triliun. Meski, sejatinya pembiayaan tumbuh lebih melaju 11,68% secara tahunan menjadi Rp 13,22 triliun. 

Untuk memperkuat basis pendanaan, Pranata bilang pihaknya bakal terus mengembangkan layanan transaksi digital. Salah satunya melalui pengembangan produk tabungan valuta asing atau Saku Valas.

“Optimalisasi layanan digital ini, diharapkan dapat semakin memenuhi kebutuhan nasabah, sekaligus mendorong pendapatan dana,” tutur Pranata. 

Tak jauh berbeda, Bank bjb Syariah juga mencatatkan kenaikan level FDR menjadi 97,81% per Juli 2026, dari posisi 94,7% pada tahun sebelumnya. Kendati begitu, Sekretaris Bank bjb Syariah, Yusuf Abadi memastikan kondisi likuiditas masih memadai untuk mendukung kebutuhan transaksi nasabah serta aktivitas bisnis.

Lebih lanjut ia bilang pihaknya terus mencermati perkembangan likuiditas industri, khususnya perbankan syariah, beserta dampaknya terhadap kondisi likuiditas bank.

Baca Juga: Likuiditas Perbankan Makin Ketat, LDR Sejumlah Bank Besar Naik pada Semester I-2026

Untuk menjaga kualitas pembiayaan, bjb Syariah bakal menyalurkan pembiayaan secara selektif kepada sektor-sektor yang dinilai memiliki prospek baik. Prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko tetap menjadi perhatian utama.

"Target pertumbuhan pembiayaan hingga akhir tahun masih berada pada rentang yang moderat dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada, termasuk perkembangan likuiditas industri," kata Yusuf.

Dari sisi pendanaan, bjb Syariah bakal mengoptimalkan penghimpunan DPK, baik dari nasabah existing maupun melalui perluasan basis nasabah baru. Strategi tersebut bakal tetap memperhatikan kebutuhan likuiditas sekaligus efisiensi biaya dana.

Tampil berbeda, Bank Syariah Indonesia BSI terpantau berhasil menurunkan posisi FDR menjadi 86,41% per Juni 2026, dari posisi 90,75% pada tahun sebelumnya. Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho bilang pertumbuhan pembiayaan dan DPK yang signifikan pada semester I-2026 menjadi salah satu pendorong kinerja bank.

Baca Juga: CIMB Niaga Syariah Sebut Tiga Tantangan Perbankan Syariah

Menurutnya, salah satu mesin pertumbuhan BSI berasal dari pengembangan bisnis sebagai bank syariah sekaligus bank emas. BSI melihat momentum tersebut masih dapat menopang pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun.

"Untuk itu kami masih optimis, kita menemukan target financing growth double digit di kisaran 12%-15%," ujar Ade.

BSI juga mencermati permintaan pembiayaan pada Juli 2026 yang masih cukup baik, khususnya dari segmen konsumer. Bahkan, menurut Ade, permintaan mulai menunjukkan perbaikan pada sejumlah produk.

Di sisi pendanaan, BSI mengakui kondisi likuiditas industri masih cukup ketat. Namun, bank melihat peluang pertumbuhan DPK dari sejumlah produk, terutama tabungan haji dan tabungan emas.

Dengan kondisi tersebut, BSI tetap berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan biaya dana. Selain mengejar pertumbuhan pembiayaan, BSI menargetkan kualitas aset tetap terjaga dengan cost of credit di bawah 1%.

Bank juga berharap margin tetap terjaga melalui pengelolaan keseimbangan antara yield dan cost of fund, yang didukung pertumbuhan fee based income.

Kendati begitu, FDR BSI juga berpotensi naik begitu bank menyetor balik dana saldo anggaran lebih (SAL) pada September 2026 mendatang. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo memprediksi, FDR bisa meningkat ke kisaran 89%. 

Baca Juga: NPF Bank Syariah Mulai Merangkak Naik, Bank Perketat Kualitas Pembiayaan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News