Bandarlampung, Lampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengoptimalkan potensi nilai ekonomi karbon sebagai upaya pengembangan konsep ekonomi biru dan hijau di daerah.

"Cakupan inisiatif karbon tidak hanya diarahkan pada ekosistem hutan. Potensi karbon pada kawasan mangrove dan ekosistem pesisir turut dipertimbangkan dalam pendekatan ekonomi biru dan hijau," ujar Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan berdasarkan keterangannya di Bandarlampung, Kamis.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong pengembangan konsep ekonomi biru dan hijau, melalui optimalisasi potensi nilai ekonomi karbon dari sektor kehutanan, perhutanan sosial, mangrove, hingga ekosistem pesisir.

Konsep ekonomi biru dan hijau tersebut akan mengintegrasikan pemanfaatan dan perlindungan ekosistem daratan, serta laut untuk mendorong kesejahteraan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

"Lampung memiliki peluang dalam pengembangan nilai ekonomi karbon, terutama melalui hutan, perhutanan sosial, mangrove, dan ekosistem pesisir," ucap dia.

Ia mengatakan pengembangan ekonomi hijau dan biru di Lampung diarahkan melalui pendekatan terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak, inovasi pembiayaan, serta partisipasi masyarakat.

"Pengembangan inisiatif karbon hutan tidak boleh berhenti pada pembentukan tim melalui keputusan gubernur. Tim tersebut harus bekerja sesuai tugas dan menghasilkan keluaran yang memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat," katanya.

Menurut dia, seluruh pelaksanaan program harus berlandaskan regulasi yang berlaku, termasuk peraturan pemerintah dan peraturan menteri terkait. Di sisi lain, tim juga dituntut menghadirkan inisiatif dan inovasi agar pengembangan karbon memberikan dampak nyata bagi Lampung.

Ketua Harian Tim Inisiatif Karbon Lampung Anshori Djausal mengatakan perubahan cakupan diperlukan karena peluang ekonomi karbon tidak hanya terdapat di kawasan hutan.

Karena potensi juga terdapat pada pesisir, mangrove, limbah pertanian, agroforestri, hingga berbagai aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem.

"Jadi kita akan memperluas cakupannya. Bukan hanya hutan," ujar Anshori.

Ia mengatakan perluasan tersebut mencakup kawasan di dalam dan luar hutan, termasuk pesisir dan limbah pertanian.

"Dalam roadmap yang dibahas, lanskap karbon Lampung dikelompokkan ke dalam sejumlah ekosistem. Green carbon mencakup hutan, kebun, agroforestri dan biodiversitas, sedangkan blue carbon mencakup mangrove, rawa dan sungai. Ada pula konsep silvofishery yang menggabungkan konservasi ekosistem dengan kegiatan budidaya seperti kepiting dan kerang serta pengembangan pariwisata," kata dia.

Dia menjelaskan pengembangan inisiatif tersebut diharapkan dapat menghubungkan dengan upaya perlindungan ekosistem dan peluang ekonomi masyarakat, sehingga pemanfaatan nilai karbon tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Lampung.

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.