AKURAT.CO Penyerang Barcelona dan Timnas Spanyol, Lamine Yamal, menjadi sorotan setelah mengibarkan bendera Palestina dalam parade juara La Liga musim 2025/2026. Aksi pemain berusia 18 tahun itu memicu kritik dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, namun mendapat pembelaan langsung dari Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez.
Kontroversi bermula saat Yamal membawa bendera Palestina di atas bus terbuka dalam perayaan gelar juara Barcelona pada 11 Mei 2026. Momen tersebut menyebar luas di media sosial dan memunculkan beragam respons dari publik internasional.
Israel Katz mengecam tindakan Yamal dan meminta Barcelona mengambil sikap. Melalui akun media sosialnya, ia menyatakan tidak ada ruang bagi tindakan yang dinilainya sebagai bentuk hasutan maupun dukungan terhadap terorisme.
Baca Juga: Kala Lamine Yamal dan Pelatih Mesir Nyatakan Dukung Palestina, Israel Murka!
Menanggapi kritik tersebut, Perdana Menteri Pedro Sánchez membela Yamal. Ia menegaskan bahwa aksi pemain muda Barcelona itu merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina, bukan ajakan untuk menebar kebencian.
Sánchez juga menilai banyak warga Spanyol memiliki kepedulian yang sama terhadap situasi kemanusiaan di Palestina. Karena itu, menurutnya, tindakan Yamal tidak sepatutnya dipandang sebagai bentuk provokasi.
Dukungan terhadap Yamal juga datang dari Palestina. Sejumlah seniman di Gaza dilaporkan melukis mural bergambar Yamal yang sedang mengibarkan bendera Palestina sebagai simbol solidaritas terhadap perjuangan rakyat di wilayah tersebut.
Sementara itu, pelatih Barcelona Hansi Flick memilih bersikap hati-hati menanggapi polemik tersebut. Ia menegaskan tidak ingin mencampurkan urusan politik dengan sepak bola, namun tetap menghormati keputusan pribadi setiap pemain di luar lapangan.
Baca Juga: Milad ke-24, BSMI Perkuat Standar Global dan Luncurkan Rencana RS Lapangan untuk Palestina
Yamal sebelumnya beberapa kali menjadi perhatian karena menyuarakan isu-isu kemanusiaan. Pemain berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa itu juga pernah mengecam tindakan diskriminasi dan rasisme terhadap umat Muslim.
Aksi Yamal kembali memunculkan perdebatan mengenai batas antara olahraga, kebebasan berekspresi, dan isu politik. Di satu sisi, sebagian pihak menilai atlet memiliki hak menyampaikan solidaritas atas persoalan kemanusiaan. Namun di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa dunia olahraga sebaiknya tetap terpisah dari isu politik internasional.