KSP: Atlet pelajar jangan dipaksa pilih prestasi atau sekolah

Jumat, 25 September 2026 21:24 WIB

Image Print

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Lindsey Afsari Puteri (keempat kanan) bersama sejumlah pemangku kepentingan dalam talkshow “Mimpi Besar, Sekolah Kelar: No Drop Out, Just Level Up!” di SMAN 1 Jakarta, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut membahas penguatan ekosistem pembinaan talenta olahraga sejak bangku sekolah tanpa mengabaikan pendidikan. (ANTARA/HO-KONI)

Jakarta (ANTARA) - Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan talenta olahraga sejak di bangku sekolah tidak semestinya dipaksa memilih antara mengejar prestasi atau menyelesaikan pendidikan.

“Tugas pemerintah adalah membuka jalan bagi anak-anak untuk meraih mimpinya. Kalau hari ini ada talenta yang ditemukan di sekolah, jangan berhenti pada penemuan,” kata Tenaga Ahli Utama KSP Lindsey Afsari Puteri dalam keterangan resminya saat talkshow “Mimpi Besar, Sekolah Kelar: No Drop Out, Just Level Up!” di SMAN 1 Jakarta, Jumat.

Menurut Lindsey, talenta yang ditemukan di sekolah harus memiliki jalur yang jelas untuk dibina, mengikuti kompetisi, berprestasi, sekaligus tetap menyelesaikan pendidikan dan menyiapkan masa depan.

Ia mengatakan hal tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden RI yang antara lain menekankan penguatan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, sains dan teknologi, serta prestasi olahraga.

Pemerintah juga telah memiliki landasan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan dan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

Dalam pelaksanaannya, KSP mendorong keterhubungan antara sekolah sebagai tempat penjaringan talenta, KONI dan induk cabang olahraga sebagai pembina, kementerian terkait, pemerintah daerah, hingga akses kompetisi dan pendidikan lanjutan.

“Kalau ada hambatan lintas sektor, harus kita carikan jalan keluarnya. Talenta yang ditemukan di sekolah harus punya jalan untuk naik level,” ujar Lindsey.

Menurut dia, akses pendidikan tinggi, termasuk melalui program beasiswa atlet, juga penting agar perjalanan mengejar prestasi tidak memutus masa depan akademik atlet.

KSP turut mendorong agar pembinaan tidak hanya menyasar cabang olahraga konvensional, tetapi juga e-sport yang kini membuka ruang prestasi semakin luas bagi generasi muda.

“Mau menjadi atlet olahraga konvensional atau e-sport, prinsipnya sama, disiplin, latihan, kesehatan, kemampuan mengatur waktu dan pendidikan harus berjalan bersama. Bermimpi besar boleh, tetapi sekolah juga harus kelar,” katanya.

Ketua Bidang Media dan Humas KONI Pusat M. Tirto Prima Putra mengatakan hubungan antara KONI, sekolah dan lingkungan pembinaan olahraga perlu diperkuat agar talenta potensial dapat ditemukan sejak dini dan diarahkan sesuai kemampuannya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum II KONI DKI Jakarta Defrizal Siregar menilai masa depan atlet perlu dipersiapkan sejak awal karena setiap cabang olahraga memiliki karakteristik dan masa puncak prestasi yang berbeda.

Dalam kegiatan tersebut, atlet e-sport Shogun juga berbagi pengalaman kepada pelajar mengenai pentingnya komitmen serta kemampuan mengatur waktu antara pendidikan, latihan dan kompetisi.

Pewarta : Muhammad Ramdan
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026