ILUSTRASI. Penyaluran kredit kepada UMKM per Juli 2026 hanya tumbuh 1,6% menjadi Rp 1.520,9 triliun. Kenaikan lebih baik dari bulan sebelumnya 1,0% (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih bergerak lambat. Namun, perbankan syariah justru mampu mencatatkan pertumbuhan pembiayaan UMKM yang signifikan di tengah kondisi tersebut.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit kepada UMKM per Juli 2026 hanya tumbuh 1,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1.520,9 triliun. Pertumbuhan tersebut memang membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,0% YoY, tetapi masih menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan UMKM belum terlalu kuat.
Di tengah perlambatan industri, beberapa bank syariah mencatat pertumbuhan pembiayaan segmen usaha kecil dan menengah (SME) di atas 20%.
Baca Juga: Kontribusi Produk Endowment 27,01% terhadap Total Premi Asuransi Jiwa per Juni 2026
Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan, sepanjang 2026 pembiayaan SME BCA Syariah menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Hingga Juli 2026, pembiayaan SME BCA Syariah meningkat 21,2% YoY menjadi Rp1,1 triliun.
"Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang oleh peningkatan pembiayaan pada sektor perdagangan eceran dan besar. Segmen tersebut memberikan kontribusi sekitar 21,7% terhadap total pembiayaan SME BCA Syariah," ungkap Pranat kepada kontan.co.id, Rabu (2/9/2026).
Selain perdagangan, pertumbuhan pembiayaan juga didukung oleh sektor industri rumah tangga dan industri pengolahan.
Pranata mengatakan, BCA Syariah tetap menjaga kualitas pembiayaan di tengah ekspansi tersebut. Hingga Juli 2026, rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) berada di level 1,94%.
"BCA Syariah tetap optimistis dapat terus meningkatkan penyaluran pembiayaan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga pembiayaan tumbuh sesuai dengan yang direncanakan dengan NPF senantiasa dapat terjaga di level yang rendah," ujarnya.
Untuk menopang pertumbuhan pembiayaan SME, BCA Syariah juga menjalankan strategi customer deepening. Strategi ini dilakukan dengan memperluas jangkauan ke ekosistem rantai pasok maupun mitra UMKM dari nasabah existing.
Ekspansi tersebut dilakukan antara lain melalui skema distributor financing dan supplier financing. Dengan demikian, bank tidak hanya menggarap nasabah utama, tetapi juga membuka peluang pembiayaan kepada pelaku usaha yang berada dalam rantai bisnis nasabah.
Baca Juga: OJK: Medical Advisory Board Punya Peran Penting bagi Perusahaan Asuransi
BCA Syariah juga terus memperkuat fitur layanan keuangan pada aplikasi mobile banking BSya. Penguatan layanan digital tersebut ditujukan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan berbagai transaksi keuangan.
" Dengan pendekatan tersebut, BCA Syariah optimistis dapat menjadi mitra strategis bagi pengusaha SME," kata Pranata.
Pertumbuhan pembiayaan SME juga dicatatkan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Hingga Juni 2026, outstanding pembiayaan SME Bank Muamalat mencapai Rp 3,2 triliun, tumbuh 21% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Bank Muamalat Ricky Rikardo Mulyadi mengatakan, SME merupakan segmen yang prospektif untuk dikembangkan. Karena itu, perseroan berkomitmen memperkuat ekosistem SME, terutama melalui digitalisasi dan pendampingan usaha.
"Bank Muamalat terus memperluas jangkauan pembiayaan SME ke nasabah. Salah satunya melakukan transformasi digital untuk kecepatan transaksi dan proses pembiayaan," ujar Ricky.
Digitalisasi menjadi salah satu strategi Bank Muamalat untuk memperluas akses pembiayaan ke berbagai daerah, khususnya bagi pelaku usaha yang belum tersentuh layanan kantor cabang.
"Dengan akses pembiayaan yang semakin luas dan cepat, sektor SME diharapkan dapat berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional," lanjutnya.
Baca Juga: OJK Cabut Izin BPRS Gaido Indonesia di Cianjur, Ini Penyebab & Nasib Dana Nasabah
Selain mengejar pertumbuhan, Bank Muamalat juga menaruh perhatian terhadap kualitas portofolio SME. Perseroan berupaya menjaga kualitas pembiayaan dengan mengacu pada risk appetite yang acceptable.
Pembiayaan SME Bank Muamalat terutama diarahkan ke sektor-sektor produktif, di antaranya pendidikan, haji dan umrah, serta kesehatan.
Untuk 2026, Bank Muamalat menargetkan pertumbuhan pembiayaan SME sekitar 30% dibandingkan realisasi 2025. Target tersebut akan dikejar dengan memperkuat target market pada ekosistem pendidikan, haji dan umrah, serta kesehatan.
Perseroan juga mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan jaringan yang dimiliki untuk menciptakan inovasi sekaligus meningkatkan produktivitas pelaku usaha.
Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga terus memperkuat pembiayaan ke sektor UMKM melalui pendekatan pembiayaan inklusif sekaligus pendampingan.
Hingga Juni 2026, outstanding pembiayaan inklusif BSI mencapai Rp114,17 triliun. Adapun Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) BSI mencapai 33,65%, berada di atas batas minimum 30% yang ditetapkan BI.
Direktur Human Capital & Compliance BSI Arief Adhi Sanjaya mengatakan, dukungan terhadap UMKM tidak hanya dilakukan melalui pembiayaan, tetapi juga dengan membangun ekosistem pendampingan secara terintegrasi.
"Sektor UMKM mempekerjakan 114,7 juta orang dan memberikan kontribusi lebih dari 60% terhadap PDB Republik Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar, BSI hadir memberikan solusi finansial, sosial, dan spiritual untuk mendampingi UMKM agar bisa naik kelas, bankable, hingga mampu menembus pasar global," ujar Arief.
Baca Juga: Begini Peluang Perbaikan Pembiayaan Investasi Multifinance pada Semester II-2026
Selain pembiayaan inklusif, BSI mencatat pembiayaan berkelanjutan telah menembus lebih dari Rp 75 triliun hingga Juni 2026. Portofolio tersebut terdiri dari pembiayaan sosial sebesar Rp 59 triliun, dengan sekitar 90% di antaranya disalurkan kepada UMKM.
Sementara pembiayaan hijau mencapai Rp 16 triliun dan didominasi produk eco-efficient sebesar 65,2%.
Dari sisi pendampingan, BSI memiliki BSI UMKM Center di Aceh, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar, serta menyiapkan UMKM Center di Bandung. Secara keseluruhan, terdapat 6.037 UMKM binaan dalam ekosistem pendampingan tersebut.
BSI juga mengembangkan Portal Go UMKM dan Salam Digital untuk mempermudah pengajuan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Pendekatan hyperlocal dilakukan melalui Lapak BSI yang hadir di pasar tradisional maupun modern.
Selain itu, BSI telah menginisiasi 23 Desa Binaan Bangun Sejahtera Indonesia, termasuk Kampung Nelayan BSI Warloka yang berfokus pada pengembangan klaster perikanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- Bank Syariah
- pembiayaan UMKM
- pembiayaan UMKM syariah