Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan sistem monitoring penyu berbasis semidigital di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, untuk mendukung konservasi penyu di wilayah 3T.
Kepala Pusat Kebijakan Strategis KKP Syamdidi mengatakan program tersebut bertujuan meningkatkan peran masyarakat pesisir dalam melindungi penyu dan habitatnya melalui pendekatan yang sederhana, partisipatif, dan sesuai dengan kondisi setempat.
"Pendekatan yang sederhana, partisipatif, dan sesuai dengan kondisi setempat penting agar sistem monitoring dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat," kata Syamdidi dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti Desa Eilogo masih menghadapi keterbatasan infrastruktur telekomunikasi serta tingkat literasi digital yang beragam.
Baca juga: Kemenag Flores Timur melepas 250 tukik dukung konservasi laut
Karena itu, program tersebut memanfaatkan aplikasi KoboCollect yang dapat digunakan untuk menginput data meski tanpa jaringan internet.
Syamdidi menjelaskan aplikasi tersebut diadaptasi dari instrumen pendataan milik Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan penambahan parameter suhu dan pH tanah guna memperkaya data hasil observasi.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengisi formulir pemantauan sekaligus mendokumentasikan kondisi lapangan menggunakan telepon genggam.
Data yang direkam secara luring (offline) kemudian dapat disinkronkan ketika perangkat kembali terhubung dengan jaringan internet.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.