Jakarta -
Tiga puluh tahun setelah Sega menggandeng Nvidia untuk membawa game arcade pertarungan legendaris Virtua Fighter ke PC lewat kartu multimedia NV1, kedua raksasa teknologi ini kembali berkolaborasi.
Sega dan Nvidia resmi mengumumkan kolaborasi untuk merilis seri terbaru dari waralaba tersebut, yakni Virtua Fighter Crossroads, yang akan hadir untuk laptop dan desktop bertenaga chip berbasis Arm terbaru dari Nvidia, yakni RTX Spark. Kolaborasi ini dipastikan tidak hanya berhenti pada satu judul saja, melainkan akan meluas ke berbagai game Sega lainnya di masa mendatang.
Menurut keterangan resmi Nvidia, deretan game terbaru Sega nantinya akan mendukung teknologi upscaling dan rendering mutakhir mereka, termasuk ray tracing dan DLSS. Nvidia juga mengisyaratkan bahwa perangkat kecerdasan buatan (AI) terbarunya akan terintegrasi secara penuh, yang merujuk pada pemanfaatan teknologi neural rendering bertenaga AI seperti Reflex dan G-Assist.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski Nvidia maupun Sega belum mengungkap daftar pasti game apa saja yang akan mendarat di ekosistem RTX Spark, spekulasi di dunia maya sudah berhembus kencang. Beberapa bocoran menyebutkan bahwa judul-judul besar seperti Alien: Isolation 2 garapan Creative Assembly, Total War: Warhammer 40.000, hingga instalmen terbaru dari waralaba raksasa Yakuza dan Persona berpotensi besar mendapatkan dukungan serupa.
Sejarah Sega Selamatkan Nyawa Nvidia
Pengumuman kolaborasi besar ini disampaikan langsung oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam sebuah acara spesial di Tokyo yang merayakan 30 tahun kemitraan Sega dan Nvidia. Acara tersebut menjadi momen reuni emosional antara Huang dan mantan Presiden Sega era 90-an, Shoichiro Irimajiri. Petinggi lain seperti CEO Sega saat ini Haruki Satomi, COO Shuji Utsumi, dan desainer game legendaris Yu Suzuki turut hadir memeriahkan acara.
Dalam pidatonya, Huang kembali mengenang masa-masa kritis ketika Irimajiri menjadi pahlawan yang menyelamatkan Nvidia dari jurang kebangkrutan pada 1990-an. Irimajiri memberikan suntikan dana darurat sebesar USD 5 juta tepat ketika Nvidia benar-benar kehabisan modal. Huang mengakui bahwa kebaikan hati dan pengertian Irimajiri adalah satu-satunya hal yang membuat Nvidia tetap hidup hari ini.
Kala itu, sejarah mencatat bahwa Sega awalnya menunjuk Nvidia untuk mengembangkan GPU khusus bagi konsol legendaris Dreamcast. Namun di tengah jalan, Sega membatalkan pesanan tersebut dan beralih menggunakan GPU PowerVR buatan NEC karena menganggap teknologi Nvidia tidak mampu bersaing.
Hebatnya, Irimajiri tidak meninggalkan Nvidia begitu saja. Ia tetap membayarkan biaya kontrak senilai USD 5 juta tersebut, namun merestrukturisasinya sebagai investasi saham. Dana segar dari kegagalan proyek Dreamcast itulah yang akhirnya digunakan Nvidia untuk mengembangkan GPU gaming Riva 128 dan GeForce 256 yang sukses besar di pasaran.
Penyesalan Ratusan Miliar Dolar
Ketika Nvidia akhirnya melakukan penawaran saham perdana (IPO) di bursa pada tahun 1999, Sega memutuskan untuk mencairkan sahamnya seharga USD 15 juta. Keputusan itu membuat Sega meraup untung tiga kali lipat dari nilai investasi awalnya.
Meski pada saat itu langkah Sega tampak sangat masuk akal dan menguntungkan secara bisnis, sejarah berkata lain. Saat ini, kapitalisasi pasar Nvidia telah meroket menyentuh angka sekitar USD 5 triliun. Jika saja Sega bersabar dan menahan saham tersebut hingga hari ini, kepemilikan mereka diperkirakan akan bernilai hingga ratusan miliar dolar AS, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (16/7/2026).
(asj/rns)
TAGSLIHAT LAINNYA