Jakarta (ANTARA) - Menjadi seorang juru parkir harian dengan penghasilan pas-pasan membuat Windu Hadianto (41) sempat berniat merelakan masa depan pendidikan anak-anaknya, sebelum akhirnya terbantu oleh kehadiran program Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 1 Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Warga asal Gabus, Bekasi Utara tersebut sehari-hari mencari nafkah sebagai juru parkir di kawasan Cabe Ijo dengan penghasilan berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari. Dengan tanggungan empat orang anak, penghasilan tersebut membuat keluarganya kerap hidup keteteran dan kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan.
"Sebelumnya saya kelimpungan. Buat sehari-hari saja banyak kurangnya. Niatnya malah mau nyerah, paling anak cukup lulus SD saja, karena enggak ketemu biayanya," kata Windu yang ditemui saat menjenguk anak-anaknya di SRT 1 Kabupaten Bekasi, Minggu.
Titik balik kehidupan keluarganya bermula ketika seorang penyuluh atau pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mendatangi Posyandu setempat dan menawarkan program Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Berkat informasi tersebut, Windu menawarkan kesempatan itu kepada anak-anaknya dan disambut dengan antusias.
Baca juga: Kementerian PU targetkan SR Kabupaten Bekasi tuntas 20 Juni 2026
Melalui program tersebut, tiga dari empat anak Windu kini berhasil mengenyam pendidikan gratis dengan fasilitas asrama penuh di SRT 1 Bekasi.
Ketiga anak tersebut masing-masing adalah Desi Winda Narni (13) yang duduk di bangku kelas 7 SMP, Muhammad Rizky Langit Ramadan (11) kelas 5 SD, serta Nadia Muharam Lestari (6) yang baru memasuki usia SD. Kakak beradik itu semua bersekolah satu lokasi di SRT 1 yang memang sudah dibangun permanen untuk siswa SD, SMP dan SMA.
Windu mengaku beban ekonominya kini terasa jauh berkurang dan hatinya jauh lebih lega setelah anak-anaknya mendapatkan jaminan pendidikan, tempat tinggal, serta kebutuhan harian yang ditanggung penuh oleh negara.
Bahkan, hanya untuk menjenguk anaknya di asrama Sekolah Rakyat ini, dia mesti menabung beberapa hari dari hasil parkir untuk menyewa sebuah sepeda motor.
"Saya gak ada motor. Motor ini sewa, karena baru ada duitnya saya sewa untuk ke sini sekalian ngasih sendal anak saya. Dia mengadu melalui wali asrama sendalnya hilang. Ya, Alhamdulillah plong bener saya, lega banget. Dibawa tiga-tiganya. Saya enggak muluk-muluk, sampai sekolah SMA saja sudah senang banget saya," kata Windu didampingi istrinya di gerbang utama sekolah.

Selain meringankan beban ekonomi keluarga, Windu juga melihat perubahan positif pada diri anak-anaknya setelah tinggal di asrama. Menurutnya, anak-anaknya kini menjadi lebih disiplin, mandiri, serta tidak lagi tertutup karena terbiasa berinteraksi dan bergaul dengan banyak teman dari berbagai daerah.
Sementara itu, Desi Winda Narni (13), putri sulung dari tiga bersaudara yang bersekolah di tempat tersebut, menceritakan berbagai pengalaman barunya selama menjalani kehidupan asrama di SRT 1 Bekasi.
Selain mendapatkan gemblengan kedisiplinan dan latihan fisik seperti peraturan baris-berbaris (PBB) dari mahasiswa kadet Kementerian Pertahanan, ia juga dilatih kemandirian mengurus diri sendiri oleh para wali asrama yang mendampingi mereka selama 24 jam.
Baca juga: Sekolah Rakyat Kabupaten Bekasi siap beroperasi pada tahun ajaran baru
Baca juga: Mensos pantau perkembangan siswa Sekolah Rakyat Bekasi
"Kegiatannya paling bersih-bersih, terus cuci seragam dan sepatu sendiri. Nyuci baju sendiri kadang capek, tapi seru juga jadi ada waktu luang buat berpikir sambil mencuci," tutur Desi.
Di bidang akademik, Desi mengaku paling menyukai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) serta antusias mengikuti pembelajaran teknologi, termasuk pengenalan koding dan kecerdasan artifisial (coding and artificial intelligence) menggunakan laptop yang disediakan pihak sekolah.
"Tidak boleh bawa (ponsel). Kalau mau belajar kami pakai laptop, di kasih, ya. Gak boleh bawa ke kamar juga kecuali ada tugas (pekerjaan rumah/PR). Saya suka, senang sekali, banyak teman di sini," kata Desi, yang bercita-cita jadi prajurit TNI itu.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.