Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim Masa Khidmat 2025—2030 memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mencegah kerentanan sosial serta mengembangkan dakwah digital moderat di tengah tantangan era digital.
"Kami meyakini, di bawah kepemimpinan yang baru, MUI Jatim akan terus menjadi pilar penyejuk, pembimbing, sekaligus benteng moral bagi masyarakat Jawa Timur yang berkarakter, religius, moderat, dan majemuk," ujar Khofifah di Surabaya, Selasa.
Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar dikukuhkan sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur menggantikan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.
Khofifah mengatakan tantangan sosial di era digital semakin kompleks, mulai dari penyebaran hoaks, disinformasi, judi daring, penyalahgunaan media sosial, hingga dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang turut memengaruhi anak-anak dan generasi muda.
"Kerentanan sosial banyak terjadi di masyarakat kita, tidak hanya menyasar orang dewasa dan berumur, tetapi juga anak-anak kita, banyak diantara mereka terpapar hal-hal destruktif dari media sosial," ungkapnya.
Menurut Khofifah, MUI memiliki peran strategis bukan hanya sebagai lembaga pemberi fatwa, tetapi juga mitra pemerintah dalam membimbing kehidupan beragama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga nilai-nilai Islam yang moderat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
"MUI tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi fatwa, tetapi juga sebagai mitra umat dan pemerintah dalam membimbing kehidupan beragama, memperkuat ukhuwah, menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat," tegasnya.
Ia juga menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memperoleh referensi keagamaan. Menurut dia, lebih dari 60 persen masyarakat kini mengakses literatur keagamaan melalui media digital sehingga ruang digital perlu diisi konten dakwah yang kredibel, moderat, dan memiliki sanad keilmuan yang jelas.
"Tingginya persentase tersebut harus benar-benar dimanfaatkan untuk syiar atau dakwah kita agar apa yang dijadikan referensi oleh masyarakat kita sanadnya benar-benar bersambung dan terhubung," katanya.
Karena itu, Khofifah mendorong MUI Jatim melibatkan dai muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi untuk memperkuat dakwah melalui berbagai platform digital.
"Platform digital harus menjadi ruang strategis bagi MUI untuk mendiseminasikan berbagai pemikiran yang mencerahkan, menyejahterakan kehidupan masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi terhadap kesehatan mental masyarakat," ujarnya.
Khofifah menambahkan sinergi ulama dan umara juga penting untuk memanfaatkan bonus demografi melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, sekaligus memperkuat ekonomi syariah dan ekosistem industri halal.
"Sinergi yang kuat ulama dan umara akan menjadi motivasi tersendiri bagi umat untuk semakin berdaya melalui penguatan ekonomi syariah dan pengembangan ekosistem industri halal," katanya.
Sementara itu, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar mengatakan kepengurusan baru akan memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
MUI Jawa Timur memiliki 23 badan, komisi, dan lembaga yang didukung tenaga profesional.
"Sinergi itu akan terus kita lakukan antara MUI dan kelompok-kelompok strategis baik itu jajaran pemerintahan secara horizontal maupun secara vertikal," kata Abdul Halim Soebahar.
Ia menambahkan MUI juga telah menyiapkan penguatan dakwah melalui platform digital sebagai langkah antisipatif terhadap berbagai persoalan sosial yang dipengaruhi media sosial.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.