Ketika heritage hidup di layar

Jumat, 2 Oktober 2026 10:25 WIB

Image Print

Para pengunjung acara Kotabaru Heritage Film Festival sedang menonton film dari atas becak, di Halaman Pasar Terban pada Jumat, (17/9/2026). Sebanyak 184 film didaftarkan dalam kesempatan event tersebut. ANTARA/Agustiano Fernando Pepo

Yogyakarta (ANTARA) - Malam itu, deretan becak listrik di Halaman Pasar Terban menjelma menjadi kursi bioskop dadakan, berjajar menghadap layar tancap yang siap menampilkan karya film dalam Kotabaru Heritage Film Festival 2026 (KHFF).

Sekitar seribu pengunjung memenuhi halaman pasar secara cuma-cuma pada pembukaan festival untuk menyaksikan pemutaran film di tengah kota yang kaya sejarah. Sementara itu, 50 becak listrik yang disiapkan khusus untuk program Becak Drive-In Cinema diisi oleh penonton yang telah mengamankan tiketnya melalui situs resmi KHFF.

Festival yang digelar sejak 2023 itu, kini memasuki tahun keempat. Selama tiga hari, 17–19 September 2026, KHFF membawa pengalaman baru bagi para penonton: Menyaksikan film di tengah pasar dan bangunan lama, dalam kesederhanaan becak membawa pengalaman yang lebih dekat dengan cerita masa lalu.

Tidak ada ruang megah atau kursi mewah yang serba tertata. Mereka yang mendapatkan tempat duduk di becak menikmati film dari sana, sementara penonton lainnya mengambil tempat di sekitar halaman pasar. Anak tangga, ruang kosong di sekitar layar, hingga area tempat orang berlalu-lalang berubah menjadi ruang menonton.

Pemandangan itu membuat malam pembukaan terasa seperti bioskop yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Angin malam berembus di antara penonton, aroma dupa sesekali tercium, sementara suara kendaraan dan aktivitas pasar tetap terdengar dari sekitar layar. Di tengah semua itu, perhatian penonton tertuju pada cerita yang bergerak di layar.

Di Pasar Terban, film tidak hanya menjadi tontonan. Layar tancap mempertemukan cerita baru dengan ruang yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kotabaru menyimpan ingatan melalui ruang dan bangunannya, sementara film menghadirkan cerita melalui gambar dan suara. Pertemuan keduanya menunjukkan bahwa merawat heritage tidak selalu berarti menjaga sesuatu agar tetap berada di masa lalu. Melalui layar, membuat masa lalu tidak sekadar dikenang tetapi kembali dibaca dan diceritakan.

Film Jembatan Lintas Generasi

Heritage dan refleksi sejarah tidak selalu hadir melalui bangunan fisik atau benda yang diwariskan dari masa lalu. Sejarah juga dapat dirawat melalui cerita, ingatan, dan cara setiap manusia memaknainya kembali.

Pemutaran film di kawasan Pasar Terban Kotabaru menjadi salah satu cara mempertemukan ingatan tersebut dengan kehidupan masa kini. Film hadir di ruang terbuka yang menyimpan jejak masa lalu, membuat penonton menikmati cerita sambil merasakan suasana heritage di sekitarnya.

Direktur acara Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) Siska Raharja menyebut film dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan zaman dan perubahan yang terjadi pada setiap generasi.

“Film memberikan pandangan yang lebih luas tentang heritage, karena nilai yang termuat di dalam film memberikan dampak bagi keberlangsungan hidup manusia ke depannya,” kata Siska.

Pengalaman berbeda dirasakan sutradara Para Perasuk, Wregas Bhanuteja, ketika karyanya diputar di ruang terbuka pada kesempatan itu. Angin, aroma dupa, hingga suasana Pasar Terban menjadi bagian dari pengalaman menonton yang tidak ditemui ketika film diputar di dalam bioskop.

Pertemuan antara film dan ruang heritage itu membuat cerita masa lalu tidak hadir sebagai sesuatu yang jauh dari generasi sekarang. Ia hadir dalam pengalaman yang lebih dekat, melalui medium yang akrab dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia mengungkapkan film menjadi media soft power dalam memperlihatkan kebudayaan kepada generasi muda. Beragam unsur kebudayaan yang hadir dalam film dinilai dapat turut memperkuat jati diri bangsa pada generasi muda.

Film pada akhirnya tidak hanya mempertemukan generasi muda dengan cerita masa lalu, tetapi juga membuka ruang untuk memaknainya melalui cara pandang zamannya. Dari pertemuan tersebut, warisan masa lalu tidak berhenti sebagai sesuatu yang dikenang, tetapi dapat bergerak menjadi cerita dan gagasan baru.

Wadah Kreatif

Satu per satu cerita muncul pada layar tancap. Beberapa di antaranya membawa penonton pada ingatan tentang sebuah tempat, ada pula yang merekam keresahan hari ini. Di festival itu, film tidak hanya menjadi tontonan tetapi ruang bagi generasi muda untuk menceritakan dan menggambarkan pengalaman dalam kepingan gambar yang tersusun dengan baik.

Sebanyak 184 film didaftarkan dalam Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF). Beragam karya membawa cerita, gaya dan sudut pandang para sineas, sekaligus menunjukkan bagaimana lingkungan, identitas, dan kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi gagasan kreatif.

Salah satu karya yang hadir adalah Para Perasuk garapan Wregas Bhanuteja. Film ini membawa penonton ke Desa Latas, tempat ritual kerasukan roh atau pesta sambetan menjadi hiburan sekaligus pelarian warga dari realitas kehidupan. Namun, di balik ritual tersebut, tersimpan persoalan tentang keberlangsungan sumber mata air keramat desa yang terancam oleh perusahaan Wanaria.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana ritual, ruang hidup, dan identitas masyarakat dapat diolah menjadi cerita melalui film.

Wregas Bhanuteja melihat film bukan sekadar karya yang dinilai benar atau salah, melainkan bentuk ekspresi diri pembuatnya. Menurut dia, apa yang ditampilkan sineas di layar merupakan bagian dari pengalaman dan pandangan mereka terhadap kehidupan.

“Film itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Film itu adalah ekspresi diri,” kata Wregas.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa film memberikan ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan cerita berdasarkan pengalaman, lingkungan, dan cara pandang mereka sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan sejarah dan kehidupan masyarakat dapat menjadi sumber cerita ketika generasi muda memperoleh ruang dan cara yang tepat untuk mengolahnya.

“Ketika diberikan ruang dan cara yang tepat, sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat justru dapat menjadi sumber cerita yang sangat kaya bagi sineas,” kata Yetti.

Melalui film, warisan masa lalu tidak berhenti sebagai sesuatu yang dikenang. Ia dapat ditafsirkan kembali dan hadir melalui sudut pandang generasi yang hidup hari ini.

Merawat Tanpa Membekukan

Bagi Siska Raharja, heritage tidak selalu merujuk pada sesuatu yang berasal dari masa lalu. Warisan budaya juga hidup dalam keseharian dan terus mengalami perubahan sesuai cara masyarakat memaknainya.

“Orang mengira bahwa heritage itu semua tentang masa lalu, padahal tidak juga. Warisan budaya itu selalu hidup di kehidupan sehari-hari kita,” kata Siska.

Pemaknaan tersebut turut mendasari KHFF dalam memilih karya maupun ruang penyelenggaraannya. Kawasan Kotabaru tetap menjadi bagian dari festival sebagai upaya memperkenalkan kawasan cagar budaya, sementara pemilihan ruang seperti Pasar Terban mempertemukan heritage dengan bentuk kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Bagi Siska, film tidak hanya menjadi medium untuk membicarakan warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari warisan itu sendiri.
Film dapat mengarsipkan cara masyarakat melihat masa lalu, menghidupkannya kembali pada masa kini, sekaligus merekam kehidupan yang kelak diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Film itu sendiri bisa menjadi warisan budaya sebenarnya,” kata Siska.

Ketika layar padam dan penonton meninggalkan halaman Pasar Terban, cerita yang hadir malam itu tidak serta-merta berakhir. Film telah merekam cara masyarakat memandang lingkungan, kehidupan, dan kebudayaan pada zamannya.

Di Kotabaru, masa lalu tidak hanya dipertahankan sebagai sesuatu yang pernah ada. Ia kembali hadir melalui cerita yang dibuat, ditonton, dan dimaknai oleh generasi hari ini.

Warisan tidak selalu berhenti pada apa yang ditinggalkan. Ia dapat terus hidup melalui apa yang diceritakan, direkam, dan dimaknai kembali.


Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026