Jakarta (ANTARA) - Kesenian tradisi asal Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Talempong Uwaik-uwaik hadir memeriahkan Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest 2026.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Ahmad Zakri mengatakan Saraso Fest 2026 sengaja dirancang sebagai etalase hidup untuk memperkenalkan kembali seni tradisi kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
"Kehadiran Talempong Uwaik-Uwaik di panggung utama membuktikan bahwa warisan leluhur Minangkabau mampu tetap relevan dan memancarkan daya tarik yang kuat di tengah era modernisasi," katanya di Taman Budaya Sumatera Barat di Padang, Senin.
Talempong Uwaik-uwaik itu dimainkan oleh Sanggar Seni Pauah Saiyo dengan anggota tertua berusia sekitar 77 tahun yang juga memainkan harmonika.
Dimainkan secara apik oleh kelompok ibu-ibu lansia, alunan harmoni dari enam buah talempong yang dipadukan dengan gandang tambua, gandang katindiak, dan aguang (gong) berhasil menghidupkan suasana festival.
Kasi Produksi dan Kreasi Seni Budaya UPTD Taman Budaya Sumatera Barat Ade Efdira menjelaskan, nama "Uwaik-Uwaik" yang melekat pada kesenian ini merujuk kepada para perempuan paruh baya atau lanjut usia yang menjadi penjaga utama tradisi musikal tersebut.
Seni pertunjukan ini, kata dia, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, dengan penyerahan sertifikat resmi yang telah berlangsung pada Agustus 2026 lalu.
"Nama Uwaik-Uwaik sendiri diambil dari panggilan adat Minangkabau untuk menghormati wanita atau ibu-ibu yang sudah tua. Keterlibatan para lansia ini menjadi simbol kuat bagi peran penting perempuan dalam menjaga dan merawat warisan leluhur," jelas Ade.
Dalam setiap pertunjukannya, kesenian ini memadukan harmoni dari enam buah talempong dengan dentuman instrumen tradisional lainnya, seperti gandang tambua, gandang katindiak, dan aguang (gong).
Alunan musik ini melahirkan repertoar lagu tradisional yang khas, di antaranya lagu bertajuk Kudo Lari Kakang Tingga dan Siamang Tagagau.
Hingga saat ini, Talempong Uwaik-Uwaik terus hidup di tengah masyarakat Agam dan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga menjadi pengisi penting dalam berbagai upacara adat, mulai dari pesta pernikahan hingga prosesi agung batagak panghulu.
Pengakuan dari pemerintah ini diharapkan dapat memicu generasi muda untuk terus melestarikan musik tradisional Minangkabau agar tidak lekang oleh waktu, tutupnya. (*)