REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis air tidak selalu ditandai dengan sungai yang mengering. Di banyak daerah, air tersedia dalam jumlah melimpah, tetapi kualitasnya tidak lagi layak digunakan akibat pencemaran.

Alquran telah memberikan pelajaran lewat kisah Nabi Yusuf Alaihissalam tentang dampak musim kemarau panjang dan pentingnya mengelola sumber daya secara bijaksana. Pada saat yang sama, Allah SWT mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut merupakan akibat dari ulah manusia sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ar-Rum Ayat 41.

Krisis air adalah kata lain dari kekurangan air, istilah yang diterapkan untuk mendeskripsikan keadaan ketika jumlah air yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia. Ketika krisis air terjadi, tidak hanya manusia yang ditimpa penderitaan, tetapi semua makhluk hidup, utamanya hewan dan juga tumbuh-tumbuhan.

Dijelaskan dalam buku Tafsir Ilmi berjudul Air dalam Perspektif Alquran dan Sains, krisis air telah banyak terjadi di masa lampau dan masih sering dijumpai pada masa kini. Salah satu kisah terkenal tentang krisis air di masa lalu yang diceritakan kitab-kitab suci, terjadi pada zaman Nabi Yusuf yang melanda daerah-daerah Mesir, Palestina, dan sekitarnya, yang terjadi karena adanya variabilitas iklim.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ

Ṡumma ya'tī mim ba‘di żālika sab‘un syidāduy ya'kulna mā qaddamtum lahunna illā qalīlam mimmā tuḥṣinūn(a).

Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. (QS Yusuf Ayat 48)

"Sehabis masa yang makmur itu akan datang masa yang penuh kesengsaraan dan penderitaan selama tujuh tahun pula. Pada waktu itu ternak habis musnah, tanaman-tanaman tidak berbuah, udara panas, musim kemarau panjang. Sumber-sumber air menjadi kering dan rakyat menderita kekurangan makanan. Semua simpanan makanan akan habis, kecuali tinggal sedikit untuk kamu jadikan benih." (Tafsir Kementerian Agama)

Sedangkan pada masa kini, krisis air banyak dijumpai di daerah-daerah yang memang beriklim kering. Di samping itu, sering pula kelangkaan air terjadi dalam tataran kualitas. Artinya, masyarakat kesulitan mendapatkan air berkualitas baik, meski secara kuantitas air berlimpah di wilayah tersebut. Ambillah contoh lahan gambut di Kalimantan. Lahan gambut hampir selalu digenangi air, tetapi air genangannya itu bersifat asam akibat tingginya kandungan asam organik. Contoh lainnya adalah kawasan muara dan pesisir beriklim kering. Air permukaan dan air tanah dangkal di wilayah ini seringkali asin atau payau karena intrusi atau limpahan air laut.

Pada saat ini, krisis air dalam tataran kualitas banyak pula dijumpai di daerah urban atau di kawasan padat penduduk. Perpaduan antara padatnya penduduk dan intensifnya aktivitas menghasilkan limbah yang pekat. Dengan terbatasnya lahan, air yang tercemar limbah ini tidak mendapatkan ruang untuk mengalir dan membersihkan dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya limbah ini mencemari pula air tanah yang biasa dimanfaatkan sebagai sumber air.