Malang Raya (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengemukakan program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) merupakan wadah meningkatkan daya saing mahasiswa untuk masuk ke dunia kerja di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).

Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Kemkomdigi, Gunawan Hutagalung saat menghadiri Workshop 1 Artificial Intelligence Talent Factory di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, mengatakan lulusan perguruan tinggi sekarang tidak cukup berbekal transkrip nilai dan sertifikasi, tetapi perlu dibekali pengetahuan dan kemampuan mengembangkan proyek AI.

"Pasar dunia kerja ada yang membutuhkan kemampuan berpikir dan tenaga untuk bekerja, keduanya bisa digantikan AI, sehingga tantangan sekarang adalah mempersiapkan mahasiswa memiliki kemampuan mengadopsi AI," kata Gunawan.

Para peserta yang mengikuti program AITF terus didorong meningkatkan kemampuannya dalam menggagas inovasi teknologi berbasis AI, khususnya untuk menunjang perkembangan berjalannya program dari pemerintah.

"Ketika nanti mereka bekerja di dunia yang merumuskan strategi, kebijakan berpikir, meneliti itu sudah siap," ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Ir Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., mengatakan AITF kali ini merupakan batch kedua yang dijalankan dan menjadi keberlanjutan dari program serupa pada 2026.

Tim dari Universitas Brawijaya mendapatkan studi kasus mengenai sistem monitoring di Sekolah Rakyat untuk jenjang SD dan SMP berbasis sistem AI.

"Tadi disampaikan oleh Kemensos itu terkait dengan pengawasan, harapannya dengan use case ini bisa dibantu untuk memonitor," kata dia.

Sistem yang dirancang nantinya difungsikan untuk memudahkan tugas wali asrama untuk memantau aktivitas pelajar sehari-hari dan diintegrasikan dengan CCTV di bangunan sekolah rakyat.

Apabila ada pelajar yang melakukan kegiatan tak sesuai ketentuan, bisa terdeteksi oleh sistem dan informasinya langsung diketahui oleh wali asrama.

"Tadi diskusi dengan Bapak Kepala Pusat Pengembangan ada aspek psikologis yang dipertimbangkan, karena mereka masih SD dan SMP," ucapnya.

Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.