REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI mengungkapkan mayoritas investor Surat Berharga Negara (SBN) ritel adalah usia produktif, terutama generasi milenial. Hal itu menunjukkan, masyarakat berusia muda cenderung berminat pada jenis investasi yang aman karena dijamin negara.

"Kalau dilihat dari proporsi investor SBN ritel, itu ternyata 52 persen generaasi milenial, artinya yang 40 tahun ke bawah," kata Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu RI, Chandra AS Wibowo saat hadir dalam acara UOB Media Literacy Circle bertajuk 'Navigating Market Volatility: Building Portofolio Resilience with ORI030'  di Teras Ramayana, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026). 

Kemudian, kata Chandra, proporsi generasi X yang berinvestasi di SBN ritel mencapai 26,5 persen. Disusul oleh generasi Z mencapai sekitar 4,7 persen. Selebihnya adalah generasi-generasi lainnya. 

"Artinya mayoritas investor SBN ritel itu usia produktif. SBN ritel ini memang cocok sekali untuk profil investor seperti itu karena usia produktif kan sedang fokus berkarya dan bekerja," ucapnya di acara yang diadakan Bank UOB tersebut. 

Dibandingkan misalnya instrumen saham, menurut Chandra, ketertarikan nasyarakat usia produktif lebih kepada instrumen aman seperti obligasi negara. Tanpa perlu mantengin pergerakan saham, investor obligasi hanya perlu melakukan pembelian dan menerima manfaat berupa kupon di tiap bulannya. 

"Kan tinggal beli (instrument SBN ritel), sudah ditinggal saja, nanti tiap bulan ada tambahan cashflow. Jadi ini sangat cocok buat generasi-generasi yang produktif. Itu yang membuat, kalau dilihat struktur atau populasi investor SBN ritel didominasi oleh generasi milenial," terangnya.

Menurut Chandra, pemilihan masyarakat usia produktif terhadap instrumen SBN ritel seperti obligasi tidak terlepas dari perkembangan ekonomi yang terjadi. Masyarakat usia produktif dengan aksesibilitas yang tinggi terhadap informasi dan data cenderung memilih instrumen yang aman di tengah gejolak ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik. 

Chandra menerangkan, SBN ritel, seperti Obligasi Ritel Negara atau Obligasi Ritel Indonesia seri 030 (ORI030) yang dirilis pada 6 Juli 2026, merupakan produk yang memiliki karakteristik yang cocok untuk kondisi ekonomi saat ini. Hal itu usai pasar saham mengalami volatilitas yang tinggi sepanjang semester satu 2026. 

"In this economy, volatilitas sangat tinggi, maka investor yang dicari apa sih? Yang pertama: keamanan, yang kedua: kepastian, dan yang ketiga: fleksibilitas. SBN ritel, salah satunya ORI030 ini punya ketiga komponen ini," ujarnya.