Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Jakarta, VIVA – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan Universitas Lampung (Unila) meneken Nota Kesepahaman (MoU), terkait tentang kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Baca Juga

Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna menjelaskan, kolaborasi ini bertujuan mendukung penugasan pemerintah kepada PTPN III, dalam mengembangkan komoditas ubi kayu sebagai pilar ketahanan pangan dan energi nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Fokus utama kerja sama meliputi penguatan riset, pengembangan varietas unggul, peningkatan produktivitas, pendampingan budidaya, serta dukungan teknis untuk pengembangan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol," kata Denaldy dalam keterangannya, Jumat, 14 Agustus 2026.

Baca Juga

PTPN III

Photo :

  • [Istimewa]

Dia menegaskan, kemitraan dengan Unila memiliki nilai strategis karena mereka telah memiliki National Cassava Center (NCC), sebagai pusat studi dan pengembangan ubi kayu nasional yang akan menjadi rujukan inovasi dan teknologi di Indonesia.

Baca Juga

"Kolaborasi ini sejalan dengan penugasan yang kami emban, untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui pengembangan komoditas strategis. Sehingga kami optimis kerja sama ini dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif, dan memberikan dampak nyata di lapangan,” ujarnya.

Denaldy mengatakan, pengembangan ubi kayu akan diarahkan untuk mendukung industri bioetanol, sebagai bagian dari penguatan energi terbarukan nasional.

Berbeda dengan bahan baku yang selama ini banyak menggunakan molase tebu, pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu dilakukan agar tidak mengganggu stabilitas pasokan komoditas tebu yang saat ini menjadi fokus pemerintah dalam mendukung swasembada gula.

Diketahui, PTPN III dan Unila akan memfokuskan pengembangan pada varietas ubi kayu, yang sesuai untuk kebutuhan industri bioetanol. Termasuk pengembangan melalui sistem tanam Mukibat, yang memiliki potensi produktivitas tinggi, kadar pati tinggi, serta karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan industri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan hasil penelitian dari para peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang (Budhi S. Radjit, Nila Prasetiaswati, dan E. Ginting), dari segi percepatan pencapaian produksi, ubi kayu stek sambung (Mukibat) mempunyai prospek yang baik untuk memenuhi kebutuhan industri dan pangan.

Secara ekonomi ubi kayu stek sambung layak dikembangkan, karena dapat berproduksi 65,1 persen lebih tinggi dengan kadar pati 52,4 persen lebih besar. Ubi kayu stek sambung dapat dipanen pada umur 10 bulan, dan tidak mengurangi kadar bahan kering umbi dan kadar gula total. Sehingga jika sistem ini diterapkan di PTPN, dapat meningkatkan produktivitas rata-rata nasional saat ini.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso

Bertemu Toyota, Mendag Busan Minta Industri Otomotif Maksimalkan Perjanjian Dagang

Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong pelaku usaha di sektor otomotif untuk terus meningkatkan ekspor dan memanfaatkan berbagai perjanjian dagang yang dimiliki.

VIVA.co.id

12 Agustus 2026