Jakarta -

Pemerintah mulai menggeser fokus pengembangan kecerdasan artifisial (AI) dari sekadar adopsi teknologi global menuju penguatan kemampuan Indonesia untuk menciptakan solusi sendiri. Pusat AI berbasis universitas didorong menjadi salah satu fondasi untuk membangun talenta, riset, hingga kapasitas komputasi nasional.

Hal tersebut ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat meluncurkan NVAITC Joint Center UGM-Indosat Ooredoo Hutchison-NVIDIA di Innovation and Creativity Center (GIK), Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (13/8/2026).

Meutya mengatakan kedaulatan AI tidak berarti Indonesia harus menutup diri dari teknologi yang dikembangkan perusahaan dan negara lain. Justru, kolaborasi global perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan nasional, selama Indonesia memiliki kapasitas untuk menguasai, mengembangkan, dan menghasilkan nilai tambah dari teknologi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Let us build AI in Indonesia, for Indonesia," ujar Meutya.

Meutya menilai Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi AI. Jika ingin menjadikan AI sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru, Indonesia harus memiliki talenta, kemampuan riset, infrastruktur komputasi, serta ekosistem industri yang mampu mengubah teknologi tersebut menjadi produk dan solusi.

Kebutuhan tersebut semakin penting di tengah target pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi nasional 8% pada 2029.

Meutya mengutip laporan e-Conomy SEA 2025 yang menunjukkan ekonomi digital Indonesia telah mencapai USD 99 miliar pada 2025 dan diproyeksikan menembus USD 340 miliar pada 2030.

Besarnya ekonomi digital tersebut, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, inovasi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan penguatan kemampuan teknologi nasional.

Pemerintah juga menargetkan ekonomi digital dapat berkontribusi 19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2045.

Oleh sebab itu, pengembangan AI tidak bisa berdiri sendiri. Meutya mengatakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengarahkan transformasi digital melalui tiga agenda, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.

Artinya, pembangunan konektivitas, pusat data, cloud, dan komputasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan inovasi, sekaligus dibarengi keamanan data, perlindungan sistem, serta kepercayaan publik.

Dalam kerangka tersebut, NVAITC Joint Center menjadi bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence yang dipimpin Kemkomdigi.

Pusat ini mempertemukan perguruan tinggi, industri, perusahaan teknologi, dan pemerintah untuk mempercepat riset serta pengembangan talenta AI.

Salah satu infrastrukturnya adalah GPU Merdeka, yang memberikan akses komputasi berperforma tinggi kepada mahasiswa dan peneliti melalui skema GPU-as-a-Service.

Keberadaan akses komputasi tersebut menjadi penting karena pengembangan model AI membutuhkan sumber daya komputasi yang besar. Tanpa akses terhadap GPU, talenta dan peneliti di dalam negeri akan menghadapi keterbatasan ketika mengembangkan model, melakukan eksperimen, maupun mengolah dataset berskala besar.

Keberadaan pusat AI berbasis kampus ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai ruang penelitian, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur AI nasional.

Meski memiliki infrastruktur komputasi, pemerintah menilai teknologi tidak akan menghasilkan dampak ekonomi tanpa sumber daya manusia yang mampu menggunakannya. Untuk itu, Komdigi bersama UGM mengembangkan Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) untuk mencetak AI Practitioner dan AI Specialist.

Program tersebut menggunakan studi kasus dunia nyata dengan melibatkan akademisi internasional dan praktisi industri. Pada kesempatan yang sama, pemerintah juga meluncurkan angkatan kedua AITF.

Pendekatan berbasis kasus ini diarahkan agar talenta AI tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi mampu menerapkan AI untuk menyelesaikan persoalan nyata di Indonesia.

Sejumlah proyek yang disebut Meutya antara lain Tech4Disaster untuk mitigasi bencana, SmartAgri untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi irigasi, serta e-Nose TB untuk membantu skrining tuberkulosis secara non-invasif.

Jika dikembangkan lebih jauh, model seperti ini dapat mempertemukan kebutuhan industri dan pemerintah dengan kemampuan riset perguruan tinggi. Kampus tidak hanya menjadi tempat mencetak lulusan, tetapi juga menjadi salah satu sumber inovasi teknologi nasional.

(agt/fay)

TAGS

LIHAT LAINNYA