Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

27 July 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Swedia tengah menyiapkan badan intelijen luar negeri baru yang dirancang menyerupai Secret Intelligence Service Inggris atau MI6. Langkah ini diambil setelah badan intelijen militernya gagal membaca rencana Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Mengutip The Economist, badan intelijen AS dan Inggris telah memperingatkan bahwa Rusia sedang bersiap menyerang Ukraina. Namun, sejumlah badan intelijen Eropa saat itu tidak yakin Presiden Rusia Vladimir Putin benar-benar akan melancarkan perang besar.

Salah satunya adalah badan intelijen militer Swedia, Militära underrättelse- och säkerhetstjänsten (MUST). Lembaga tersebut selama ini dikenal memiliki pengetahuan mendalam mengenai kekuatan militer Rusia.

MUST, bersama badan intelijen Prancis dan Jerman, menilai perang dalam skala penuh terlalu berisiko dan tidak masuk akal untuk dijalankan Putin. Perkiraan tersebut ternyata keliru ketika Rusia benar-benar menginvasi Ukraina.

Swedia kini ingin memastikan kesalahan serupa tidak terulang.

Swedia Bentuk MI6 Versi Sendiri

Pada Mei 2026, pemerintah Swedia mengumumkan pembentukan Utrikes underrättelsetjänst (UND) atau Badan Intelijen Luar Negeri.

Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard mengatakan UND akan menjadi badan sipil yang dapat dibandingkan dengan MI6 milik Inggris.

UND akan berdiri berdampingan dengan MUST, tetapi mengambil alih sebagian tanggung jawab badan intelijen militer tersebut.

Salah satunya adalah pengawasan terhadap Special Collection Office, unit rahasia yang menjalankan operasi terselubung menggunakan agen-agen di luar negeri.

Parlemen Swedia diperkirakan menyetujui pembentukan UND pada 13 Agustus 2026, menjelang pemilihan umum pada September 2026. Badan intelijen baru tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Januari 2027.

Pembentukan UND berasal dari usulan Carl Bildt, mantan perdana menteri Swedia yang menerbitkan hasil kajian mengenai sistem intelijen negaranya pada tahun lalu.

Kajian tersebut menemukan adanya kelemahan yang ikut menjelaskan kegagalan Swedia membaca rencana invasi Rusia pada 2022.

Berbeda dengan banyak negara sekutunya, Swedia tidak memiliki badan intelijen luar negeri sipil yang berada di luar komando militer dan bertugas melapor langsung kepada pemerintah.

Menurut Bildt, sistem lama Swedia sebenarnya sangat baik dalam memantau pergerakan dan perkembangan militer di lapangan.

Namun, badan intelijen Swedia kurang mampu membaca politik Rusia dan arah yang akan ditempuh para pemimpinnya.

"Kami tidak cukup baik dalam melihat politik Rusia dan ke mana arah mereka bergerak," kata Bildt.

Karena itu, Swedia membutuhkan badan intelijen sipil yang tidak hanya memantau tank, pesawat, dan pasukan Rusia, tetapi juga mampu memahami cara berpikir para pemimpin di Moskow.

Dinilai Terlalu Terburu-buru

Angkatan bersenjata Swedia dan sejumlah partai oposisi memperingatkan bahwa pembentukan UND berisiko dilakukan terlalu cepat.

Waktu persiapannya dinilai sangat pendek karena badan tersebut ditargetkan mulai bekerja pada Januari. Namun, hanya sedikit pihak yang menolak gagasan pembentukannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Swedia memang bergerak cepat dalam mengambil keputusan besar di bidang keamanan.

Swedia mengajukan diri menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada 2022 dan resmi bergabung kurang dari dua tahun kemudian.

Keputusan tersebut mengakhiri sekitar 200 tahun kebijakan Swedia untuk tidak bergabung dengan aliansi militer.

Pemerintah Swedia kini mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 2,8% dari produk domestik bruto (PDB). Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,5% dari PDB pada 2030, sesuai dengan target belanja pertahanan NATO.

Produsen senjata Swedia juga telah menjual berbagai perlengkapan militer kepada Ukraina, termasuk 16 jet tempur Gripen.

Selain memperkuat militer, pemerintah berusaha membangun kembali kesiapan pertahanan sipil masyarakatnya.

Matthew Hefler dari Stockholm School of Economics mengatakan Swedia sedang berusaha mengembalikan "ingatan lama" masyarakat dalam menghadapi ancaman perang. Langkah ini dilakukan agar warga Swedia dapat ikut menjaga keamanan bersama di Eropa.

Eropa Ikut Benahi Badan Intelijen

Swedia bukan satu-satunya negara Eropa yang membenahi sistem intelijennya.

Jerman tengah berusaha memberi ruang lebih besar kepada badan intelijen luar negerinya, Bundesnachrichtendienst (BND). Selama ini, aturan perlindungan privasi yang ketat membatasi kemampuan BND dalam memantau sejumlah sasaran.

Perubahan tersebut bukan hanya didorong oleh meningkatnya ancaman Rusia.

Negara-negara Eropa juga semakin khawatir terhadap ketergantungan mereka kepada informasi intelijen AS di tengah hubungan transatlantik yang sedang renggang.

Pembicaraan mengenai peningkatan kerja sama intelijen antarnegara Eropa pun semakin ramai.

Politikus di Jerman dan Belanda telah mengusulkan pembentukan jaringan pertukaran intelijen Eropa yang menyerupai Five Eyes.

Five Eyes merupakan aliansi intelijen yang beranggotakan AS, Australia, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru.

Namun, membangun jaringan serupa di Eropa tidak mudah.

Kekuatan utama Five Eyes terletak pada signals intelligence atau intelijen sinyal. Kegiatan ini mencakup penyadapan, pengumpulan, dan penerjemahan komunikasi serta data elektronik.

Di Swedia, tugas tersebut tetap akan dijalankan oleh badan lain yang terpisah dari UND maupun MUST.

Menurut Bildt, kerja sama penyadapan membutuhkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Karena itu, model Five Eyes tidak mudah diterapkan melalui sebuah jaringan baru yang beranggotakan banyak negara.

Pilihan yang lebih memungkinkan adalah pertukaran analisis secara informal antara negara-negara Eropa yang memiliki pandangan serupa.

Badan intelijen Eropa juga dapat memperkuat penggunaan data sumber terbuka, mulai dari citra satelit komersial, media sosial, pemberitaan, hingga basis data publik. Proses analisisnya dapat dipercepat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Bildt optimistis pembentukan UND akan membuat Swedia lebih siap menghadapi perubahan geopolitik yang semakin sulit diprediksi.

"Saya pikir ini seharusnya sudah dilakukan sepuluh tahun lalu," kata Bildt.

Terlambat memang, tetapi masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Langkah Swedia membentuk UND kembali menunjukkan pentingnya intelijen dalam membaca ancaman sebelum berubah menjadi krisis. Kemampuannya kini tidak hanya ditentukan oleh operasi rahasia, tetapi juga jaringan global, analisis data, teknologi, dan pertahanan siber.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa kekuatan intelijen setiap negara memiliki karakter berbeda. AS unggul melalui jangkauan global CIA, Rusia membagi operasi domestik dan luar negeri antara FSB dan SVR, sementara Israel dikenal melalui operasi rahasia Mossad yang presisi.

China mengembangkan sistem yang lebih tertutup melalui MSS, sedangkan India dan Pakistan menggunakan RAW serta ISI untuk menjaga kepentingan masing-masing di Asia Selatan.

Di Eropa, MI6, DGSE, dan BND menjadi pemain utama dalam pengumpulan informasi luar negeri, operasi siber, dan analisis geopolitik. Turki melalui MIT juga semakin diperhitungkan seiring meningkatnya peran Ankara di Timur Tengah dan kawasan sekitarnya.

Pembentukan UND belum langsung menempatkan Swedia sejajar dengan badan-badan intelijen tersebut. Namun, badan baru itu menjadi langkah Stockholm untuk memperkuat kemampuannya membaca ancaman politik dan keamanan sebelum terlambat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add

as a preferred
source on Google