Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:16 WIB
Jakarta, VIVA –Kebutuhan listrik nasional diperkirakan melonjak dalam beberapa dekade ke depan. Konsumsi listrik Indonesia yang pada 2025 berada di angka 539 TWh diproyeksikan mencapai 1.813 TWh pada 2060.
Baca Juga
Sektor rumah tangga diperkirakan menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan tersebut dengan porsi sekitar 28 persen dari total kebutuhan listrik. Sementara itu, penggunaan kendaraan listrik diproyeksikan menyumbang sekitar 11 persen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Lonjakan kebutuhan listrik juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Di sisi lain, peningkatan penggunaan listrik menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk mencapai target net zero emissions sekaligus mengurangi emisi melalui proses dekarbonisasi.
Baca Juga
Salah satu sumber pertumbuhan permintaan listrik dari rumah tangga berasal dari rencana pengalihan penggunaan kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik. Berdasarkan penelitian Tenggara Strategics bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, program tersebut berpotensi menjadi sumber permintaan listrik rumah tangga terbesar.
Apabila konversi kompor LPG ke kompor induksi diterapkan secara penuh, kebutuhan listrik tambahan yang dihasilkan diperkirakan berada di kisaran 27,62 GW hingga 53,43 GW. Besarnya tambahan kebutuhan tersebut akan bergantung pada tingkat efisiensi kompor induksi yang digunakan.
Baca Juga
Tambahan permintaan listrik dari program konversi itu selanjutnya dapat menjadi sumber kebutuhan listrik yang stabil dan dapat diandalkan untuk mendukung pengembangan program energi surya berkapasitas 100 GWp.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penggunaan kompor LPG saat ini diketahui berkontribusi signifikan terhadap konsumsi energi rumah tangga sekitar 41,46 persen. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik, dengan sekitar 77,6% kebutuhan LPG nasional dipenuhi melalui impor. Dengan demikian, program konversi kompor LPG ke kompor induksi akan menghemat devisa dan bahkan akan menghemat subsidi apabila kompor induksi yang paling efisien yang dipakai.
Selain itu, elektrifikasi transportasi melalui adopsi kendaraan listrik (EV) juga menjadi bagian penting dari upaya dekarbonisasi sekaligus mendukung industrialisasi Indonesia. Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter (KL), atau sekitar 65% konsumsi bensin nasional, masih harus dipenuhi melalui impor. Peningkatan adopsi EV dapat mengurangi ketergantungan tersebut, dengan setiap tambahan 1 juta EV diperkirakan dapat menghemat sekitar 1.250 KL konsumsi bensin per tahun.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, pengembangan industri EV di dalam negeri juga berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru, sehingga elektrifikasi transportasi tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan impor BBM, tetapi juga mendukung pengembangan industri dan penciptaan lapangan kerja.