5 Kebiasaan Buruk Ini Bikin Identitasmu Rawan Dicuri saat Traveling
CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 20:00 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Traveling memang menyenangkan, tetapi di balik serunya perjalanan, ada risiko keamanan yang sering diabaikan. Saat kita sibuk memesan tiket, hotel, atau transportasi secara online, celah untuk penipuan digital juga ikut terbuka.
Banyak pelaku kejahatan memanfaatkan kebiasaan pelancong yang tergesa-gesa, kurang waspada, atau terlalu percaya pada informasi yang muncul di layar. Akibatnya, pencurian identitas bisa terjadi hanya karena satu klik yang salah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Supaya perjalanan tetap aman, penting untuk mengenali kebiasaan buruk yang sebaiknya segera dihindari. Ini dia beberapa di antaranya yang perlu dihindari:
1. Langsung klik pesan dari maskapai atau hotel tanpa verifikasi
Selama traveling, notifikasi email dan pesan dari platform pemesanan memang datang terus-menerus. Karena merasa itu pesan penting, banyak orang langsung membuka tautan tanpa mengecek keasliannya.
Pilihan Redaksi
- Pencuri Beraksi di Pesawat, Jam Tangan Rolex Rp651 Juta Penumpang Raib
- 7 Barang di Pesawat yang Boleh Kamu Bawa Pulang, Apa Saja?
- Cek Sebelum Liburan ke Eropa, 3 Negara Ini Paling Rawan Pencurian
"Masalahnya sering muncul bukan karena serangan teknis yang canggih, tetapi karena kelengahan sesaat," kata Terry Brown, direktur senior bidang teknik di perangkat lunak manajemen perhotelan Mews, dilansir Travel + Leisure.
Penipu sering membuat email phishing yang tampak meyakinkan. Jika ada pesan yang mencurigakan, jangan klik link apa pun. Buka langsung situs resmi atau cek lewat aplikasi dan kontak yang tertera di bukti pemesanan.
2. Percaya nomor customer service dari hasil pencarian
Saat butuh bantuan cepat, kita sering mencari nomor layanan pelanggan lewat Google. Sayangnya, nomor yang muncul paling atas belum tentu nomor resmi. Penipu bisa memanipulasi hasil pencarian dan berpura-pura menjadi pihak maskapai atau hotel.
Solusi terbaik, yakni hubungi nomor yang ada di email konfirmasi, aplikasi resmi, atau situs terverifikasi. Cara ini jauh lebih aman untuk mencegah pencurian identitas ataupun penipuan yang mengharuskanmu membayar biaya palsu.
3. Memakai password yang sama di banyak akun
Akun aplikasi maskapai, hotel, platform booking, hingga kartu kredit perjalanan biasanya menyimpan banyak data pribadi. Kalau kamu memakai password yang sama di semua akun, peretas hanya perlu membobol satu akun untuk membuka akses ke yang lain.
Gunakan password unik untuk tiap akun, kalau perlu aktifkan verifikasi dua langkah (2FA). Anda juga bisa memakai password manager di Google misalnya, agar lebih mudah mengatur semuanya.
4. Mengirim data penting lewat Wi-Fi publik
Wi-Fi publik memang menggoda, terutama saat kuota internet terbatas saat bepergian. Namun menurut laman Equifax, jaringan ini sering tidak aman dan mudah disusupi. Peretas bisa mengintip email, lampiran dokumen, atau data login kita.
Jika terpaksa menggunakan Wi-Fi publik, hindari transaksi keuangan dan pastikan hanya membuka situs terenkripsi. Menggunakan VPN juga bisa menambah lapisan perlindungan.
5. Meninggalkan dokumen penting sembarangan di hotel
Banyak orang merasa kamar hotel aman asal terkunci dengan baik, padahal tidak selalu demikian. Paspor, laptop, kartu identitas, dan dokumen penting sebaiknya tidak dibiarkan tergeletak begitu saja di kamar hotel.
Simpan semua barang penting di brankas hotel jika tersedia. Selain itu, jangan pernah memberikan data akun ke penelepon yang mengaku staf hotel tanpa verifikasi langsung. Ini bisa menjadi salah satu pintu masuk pencurian identitas yang paling sering diabaikan.
Saat traveling, keamanan digital sama pentingnya dengan keamanan barang bawaan. Dengan menghindari sejumlah kebiasaan buruk di atas, kamu bisa menekan risiko pencurian identitas dan menikmati perjalanan dengan lebih tenang.
(rti)
[Gambas:Video CNN]