Jakarta -
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak langsung pada habitat orang utan. Dalam tiga pekan, sebanyak enam orang utan dievakuasi.
Terbaru, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi induk dan anak orang utan di area perkebunan kelapa sawit.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul mengatakan, kedua orang utan tersebut diberi nama Mama Yayuk dan Yayuk. Keduanya ditemukan di dalam konsesi PT SKM, Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Informasi keberadaan orang utan itu pertama kali diterima tim pada 25 Agustus 2026. Saat itu, beredar video yang memperlihatkan keberadaan orang utan di sekitar perkebunan," kata Silverius, dikutip dari detikKalimantan, Selasa (1/9/2026).
Tim kemudian menelusuri sumber dan lokasi video tersebut. Pada pencarian awal, petugas belum menemukan orang utan secara langsung, tetapi menemukan tanda-tanda keberadaan satwa berupa bekas sarang.
Setelah dilakukan pemantauan lebih lanjut, tim akhirnya menemukan Mama Yayuk dan Yayuk pada 27 Agustus. Keduanya kemudian dievakuasi pada 28 Agustus 2026.
"Dokter hewan YIARI memastikan kondisi Mama Yayuk dan Yayuk sehat. Keduanya tidak mengalami luka dan masih menunjukkan perilaku liar," ujarnya.
Setelah menjalani perjalanan sekitar lima jam melalui jalur darat dan air, kedua orang utan tersebut kemudian dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Lokasi dipilih karena dinilai aman serta memiliki hutan dan sumber pakan yang memadai.
"Mama Yayuk dan Yayuk menjadi penyelamatan orang utan ketiga di Ketapang selama Agustus 2026," kata dia.
Sebelumnya, pada 6 Agustus, tim mengevakuasi orang utan jantan bernama Wak yang masuk ke kebun buah warga di Desa Kuala Tolak. Wak kemudian dipindahkan ke kawasan hutan yang aman dalam konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha).
Kemudian pada 21 Agustus, tim kembali mengevakuasi tiga orang utan, yakni Mama Yuni, Pura, dan Yuni, dari kebun warga di Desa Tanjungpura. Ketiganya dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Palung.
Silverius mengatakan, enam orang utan telah diselamatkan dalam tiga pekan. Menurutnya, evakuasi diperlukan untuk melindungi orang utan sekaligus masyarakat. Namun, pencegahan karhutla dan perlindungan habitat tetap menjadi solusi utama.
"Enam orangutan diselamatkan dalam tiga pekan. Ini peringatan serius. Kebakaran membuat orang utan kehilangan makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan," kata Silverius.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan pihaknya saat ini dalam kondisi siaga menghadapi karhutla sekaligus penyelamatan satwa liar. Setiap laporan masyarakat mengenai satwa liar yang membutuhkan evakuasi akan ditindaklanjuti.
"Saat ini Balai KSDA Kalbar dalam situasi siaga karhutla dan siaga rescue satwa liar. Setiap laporan dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui call center tentang adanya satwa liar yang perlu dievakuasi, kami tindaklanjuti sesegera mungkin," kata Murlan.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, mengatakan Mama Yayuk dan Yayuk merupakan translokasi kedua di kawasan tersebut selama Agustus 2026.
"Pada kawasan Taman Nasional Gunung Palung, ini adalah translokasi kedua selama bulan Agustus 2026 dengan total lima individu orang utan," ujarnya.
Prawono mengatakan lokasi pelepasliaran telah melalui kajian dan dinilai aman serta layak bagi orang utan. Ketersediaan hutan dan sumber pakan juga dinilai memadai.
"Setelah dilepasliarkan, kedua orangutan akan tetap dilakukan pemantauan," katanya.
Masyarakat diminta tidak mendekati, mengejar, memberi makan, maupun melukai orang utan yang masuk ke area perkebunan atau permukiman. Warga diminta menjaga jarak dan segera melaporkan keberadaan orang utan kepada BKSDA Kalimantan Barat agar proses penanganan dapat dilakukan dengan aman.
(fem/fem)