Karhutla 2026 meluas dan hanguskan ribuan hektare di tengah El Nino Godzilla – 'Tapi 90% akibat ulah manusia'

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
- Penulis, Raja Eben Lumbanrau
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
Telah diterbitkan 22 menit yang lalu
Waktu membaca: 19 menit
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sebagian wilayah Indonesia, dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra hingga Sulawesi. Ribuan hektare hutan dan lahan dilaporkan hangus terbakar.
Apa penyebab dan dampak karhutla di tengah fenomena El Nino Godzilla yang disebut paling kuat dalam 150 tahun terakhir? Serta, mengapa bencana yang menimbulkan kerugian triliunan rupiah ini terus berulang tiap tahun?
Sepekan berlalu, kobaran api dilaporkan masih menyelimuti wilayah Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.
Sedikitnya1.094 hektare lahan yang didominasi padang ilalang, pohon pinus dan kebun warga terdampak oleh bencana itu.
Bahkan, kobaran api kini disebut semakin mendekat ke permukiman warga.
"Saat itu saya tengah berjualan di kios. Orang-orang semua lari menghindar, api semua mendekat ke kios. Mereka lari ke atas, menghindar dari api," kata Lice Sanda, 71 tahun, warga yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Soputan.
Lice bilang, karhutla terjadi sejak Minggu malam (02/08) lalu dan "kejadian yang paling parah itu waktu hari Rabu."

Sumber gambar, Rahman Muchtar
Warga lain, Tommy, 43 tahun, mengaku kebakaran itu telah mengancurkan mata pencahariannya, yaitu buah kelapa dan pohon aren.
"Dampaknya sangat terasa bagi kita para petani kelapa dan buah-buahan. Apalagi pohon-pohon aren yang baru ditanam juga ikut terbakar," keluh Tommy.
Bagi warga Minahasa Tenggara, khususnya di kawasan lereng Soputan, pohon aren (enau) dan kelapa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Dia mengaku dirinya bersama warga lain yang dibantu petugas pemadam kebakaran telah berupaya untuk memadamkan api.
Namun, medan yang sulit dan besarnya kobaran api membuat proses pemadaman berjalan lambat dan api sulit dikendalikan.
"Kami berusaha memadamkan api, tapi pada akhirnya sudah tidak mampu," kata Tommy.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Selain itu, karhutla juga dilaporkan memupus harapan sejumlah petani yang bersiap memanen kemiri di wilayah Soputan.
"Kebun kemiri kami habis dilahap api, tak ada yang tersisa," ujar Irma.
Ibu dua anak itu bilang, karhutla di kawasan Gunung Soputan diduga dipicu oleh kebiasaan sebagian oknum yang masih membuka lahan dengan cara membakar.
"Kebiasaan ini yang akhirnya membuat kebakaran lahan dan hutan," katanya.
Baca artikel lainnya terkait karhutla:
- Mungkinkah fatwa agama membantu cegah kebakaran hutan di Indonesia?
- Petani terjepit tekanan rupiah melemah dan ancaman El Nino – 'Harga-harga naik, terancam gagal panen'
- 'Dada terasa panas saat menghirup udara' – Warga Aceh Barat terdampak karhutla di tepi area konsesi sawit
Dugaan itu juga diamini oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut Adolf Tumengkel.
"Dugaan sementara ada pendaki yang mungkin lupa dan membuang puntung rokok," kata Adolf yang menambahkan proses penyelidikan masih dilakukan.
Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Minahasa Tenggara, Mohammad Irwan Abdjulu berkata penyebaran api kini sudah mengarah ke wilayah timur Gunung Soputan.
Salah satu kendala yang dihadapi saat memadamkan api itu, kata Irwan, adalah "angin terlalu kencang dan medan lokasi berbukit-bukit. Kendaraan pemadam kebakaran juga masih susah untuk sampai ke titik-titik api yang ada."
Namun, Irwan mengklaim belum ada dampak karhutla ke pemukiman warga.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Masih di Pulau Sulawesi, karhutla juga dilaporkan membakar 3,5 hektare lahan di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, pada Kamis (06/08).
Lalu, sekitar 55 hektare lahan di Kabupaten Tana Toraja dilaporkan terbakar sejak Rabu (29/7) hingga Kamis (6/8).
Di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, enam hektare lahan terbakar pada Kamis (06/08).
Seberapa luas karhutla yang terjadi?
Selain di Sulawesi, karhutla juga menghantam sejumlah wilayah di Indonesia, seperti di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.
Jawa

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Kebakaran menghanguskan sekitar 520 hektare lahan di wilayah Gunung Bromo, Jawa Timur. Sejak 3 hingga 10 Agustus lalu, api dilaporkan masih berkobar.
Api membakar lahan yang didominasi rumput kering khas pegunungan, sejumlah vegetasi, hingga bunga edelweiss, dan kini api dikabarkan sudah mendekati wilayah permukiman warga.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pun memutuskan menutup semua akses wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Dari udara, tiga helikopter water bombing dikerahkan untuk menyiram sejumlah titik api. Sementara itu, dari jalur darat, petugas mengerahkan tujuh unit mobil pemadam kebakaran, tiga drone water spray, serta ratusan personel gabungan dari berbagai unsur.
Otoritas terkait menyebut penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Namun dugaan sementara disebabkan oleh ulah manusia, yaitu perapian yang ditinggalkan oleh pelintas di jalur tradisional (jalur tikus).
"Yang kami duga sampai saat ini ada kemungkinan faktor manusia. Bukan faktor alam, karena awal api itu ada di puncak tebing yang terdapat jalur tradisional," ujar Kepala BB TNBTS, Rudjanta Nugraha.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Selain Bromo, karhutla juga melanda Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Dilaporkan hutan yang terbakar seluas 838 hektare, sejak Mei sampai Agustus 2026.
Karhutla juga membakar 10 hektare lahan di wilayah Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, pada Sabtu, (08/08). Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Di Provinsi Jawa Tengah, karhutla terjadi di Kabupaten Wonogiri dengan luasan terdampak sekitar 2,5 hektare pada Rabu (05/08). Api dilaporkan telah padam pada Kamis (06/08) dan tidak mengancam permukiman.
Kemudian di Kabupaten Banyumas, karhutla melanda tiga hektare lahan, yang dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan.
Di Kabupaten Jepara dilaporkan dua hektare lahan di Kecamatan Keling terbakar pada Sabtu (08/08).
Di Jawa Barat, dilaporkan terjadi 88 karhutla dari Januari hingga 29 Juli 2026. Detailnya, yaitu 29 kasus akibat pembakaran sampah, lima kasus karena unsur kesengajaan, satu kasus akibat puntung rokok, dan 53 kasus lainnya belum diketahui penyebabnya.
Sumatra

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Karhutla terjadi di Aceh. Di Kabupaten Pidie Jaya, tiga hektare lahan terbakar pada Rabu (05/08).
Di Aceh Besar sekitar 10 hektare lahan terbakar dan di Aceh Barat meluas hingga 20,5 hektare.
Di Provinsi Riau, karhutla melanda 100 hektare lahan di Kabupaten Pelalawan dan Inderagiri Hulu, pada Sabtu (08/08).
Total, karhutla di Riau pada semester pertama 2026 mencapai 15.477,9 hektare, yang mayoritas terjadi di lahan gambut.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Kemudian, Di Sumatra Selatan, karhutla melanda wilayah Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir.
Puluhan hektare lahan dilaporkan terdampak dan hingga kini petugas masih melakukan upaya pemadaman di sejumlah titik.
Bahkan, dalam satu hari, pada Minggu (02/08), BPBD Sumatra Selatan melaporkan 37 karhutla, dan menjadi yang terbanyak secara harian sepanjang 2026.
BPBD Sumsel mencatat sejak 1 Januari hingga 27 Juli 2026, total karhutla mencapai 575 kasus dengan luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare.
Di Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, karhutla menghanguskan sekitar 13 hektare lahan dan telah dipadamkan pada Kamis (06/08).
Papua
Karhutla juga terjadi di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, pada Rabu (05/08). Sekitar 10 hektare lahan di Desa Malasilen dan lima hektare di Disrik Sorong Utara, terbakar. Api telah dipadamkan di dua wilayah itu.
Kemudian di Fakfak, Papua Barat, karhutla membakar 75 hektare lahan perkebunan dan semak belukar di Distrik Bomberai dan Distrik Tomage, pada Kamis (30/07).
Kalimantan

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Di Kalimantan Tengah dilaporkan terjadi 151 kejadian karhutla selama periode 1 Juni hingga 5 Agustus 2026. Ratusan kejadian itu mengakibatkan sekitar 162,49 hektare lahan terbakar.
Salah satunya terjadi di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Karhutla diperkirakan meluas hingga sekitar 10 hektare, Senin (10//08).
Data BMKG mendeteksi 593 titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah berdasarkan pemantauan satelit pada 7 Agustus 2026.
Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan149 titik, Kapuas 78 titik, Palangka Raya 59 titik, Pulang Pisau 57 titik, dan wilayah lainnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Kemudian karhutla juga meluas di Kalimantan Barat.
Salah satunya di Kabupaten Ketapang. Hingga kini api dilaporkan masih sulit dikendalikan meski upaya pemadaman terus dilakukan.
"Luasan terbakar yang jelas di atas 40 hektare karena kendala utama kami di lapangan adalah susahnya pasokan air. Ini menjadi kendala klasik yang juga terjadi di wilayah lain," kata Kepala BPBD Kabupaten Ketapang Yunifar Purwantoro, Rabu (05/08).
Bahkan, karhutla di Ketapang menyebkan satu orang tewas dan satu lainnya terluka.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Karhutla juga dilaporkan berdampak pada hewan endemik Kalimantan, yaitu orang utan.
BPBD Ketapang bilang ada beberapa kendala penanganan karhutla, yaitu minimnya pasokan air, kondisi kanal mengering, akses sulit menuju titik api sulit, dan banyaknya titik api yang harus ditangani bersamaan.
BMKG Kalimantan Barat mencatat pada 8 Agustus 2026, terdapat 3.242 titik panas karhutla, yang tersebar di 14 kabupaten seperti Ketapang, Sanggau, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Sebagai perbandingan, tahun 2025 wilayah terbakar sebesar 26.703 hektare.
Namun hingga Juni 2026, karhutla terjadi di 28.680 hektare.
'74% hotspot di kawasan konsesi perusahaan'
Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dari Januari hingga Juli 2026, terdapat 118.420 hotspot di seluruh Indonesia dengan luas indikatif areal karhutla mencapai 107.649 hektare.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 17.236 titik dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Secara keseluruhan, Pulau Kalimantan mencatat 34.262 hotspot dengan luas indikatif karhutla mencapai 33.837 hektare, tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
"Temuan paling penting dalam analisis Walhi menunjukkan bahwa 25.524 hotspot atau sekitar 74% dari total hotspot di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan," kata Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Uli menambahkan, sebanyak 10.739 hotspot berada di dalam HGU perkebunan kelapa sawit, 7.880 hotspot berada di konsesi pertambangan, dan 6.905 hotspot berada di konsesi PBPH.
Selain Kalimantan, kata Uli, pola yang sama juga terjadi di Pulau Sumatra dan wilayah lainnya, di mana mayoritas titik api berada di wilayah konsesi perusahaan.
"Lagi-lagi data ini membuktikan bahwa akar persoalan karhutla adalah gagalnya negara memastikan perlindungan ekosistem penting seperti gambut dan hutan dan lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan penjahat lingkungan", tambah Uli.
Uli bilang, seharusnya, wilayah ekosistem penting dan genting seperti hutan serta gambut tak boleh dibebani dengan izin konsesi. Pasalnya jika wilayah itu rusak dan kering maka akan terus mengalami keberulangan kebakaran.
Apa penyebab karhutla?
Setidaknya terdapat dua penyebab karhutla di beberapa wilayah tahun ini.
Pertama adalah ulah tangan manusia, kata Uli dari Walhi.
"Data kami, sekitar 90% kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dilakukan oleh manusia, baik sengaja maupun tidak sengaja," kata Uli.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Hal yang sama juga diungkapkan ahli forensik kebakaran hutan dari IPB University, Profesor Basuki Wasis.
"Sekitar 99% kerusakan lingkungan karena dibakar. Yang 1% itu karena bencana alam, misalnya gunung berapi atau petir," ujar Basuki.
Sebelumnya, BNPB juga menyebut bahwa karhutla besar pada 2019 yang menimbulkan kerugian Rp75 triliun dan menghanguskan 328.724 hektare disebabkan ulah manusia.
"Saya mempunyai data, penyebab Karhutla adalah 99% ulah manusia ada yang disengaja ada yang lalai, dan 80% lahan yang terbakar pada akhirnya menjadi kebun," kata Kepala BNPB saat itu, Doni Monardo.
Motif pembakaran itu, kata Uli dan Basuki, yaitu untuk pembersihan lahan (land clearing), sebagai cara mudah dan murah agar lahan ditanami oleh sawit dan tanaman perkebunan lainnya.
Motif lainnya, tambah Uli, adalah strategi untuk mendapatkan asuransi. Tujuannya adalah untuk menambah modal untuk menanam sawit dan tanaman lainnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Kedua adalah pengaruh dari fenomena El Nino, yaitu pemanasan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang di atas rata-rata normal. El Nino menyebabkan kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026, yaitu 12,26% luas daratan Indonesia mencapai puncak kemarau pada Juli, 48,84% pada Agustus dan 25,41% pada September 2026.
BMKG juga memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal 2027.
Ahli forensik kebakaran hutan dari IPB University, Profesor Bambang Hero Saharjo berkata, El Nino di Indonesia tahun ini spesial, bahkan mendapat julukan El Nino Godzilla.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Merujuk beberapa badan riset internasional, dia berkata, El Nino Godzilla tahun ini bahkan disebut paling kuat dalam periode 150 tahun terakhir.
Bambang bilang, tahun lalu tanpa El Nino, karhutla telah membakar 359.000 hektare dan bahkan asapnya dilaporkan satelit Sentinel telah sampai ke Malaysia.
"Dan beberapa melaporkan kemungkinan El Nino tahun ini berpotensi setara dengan kebakaran 1997/98, yang kebakarannya sampai 10 sampai dengan 11 juta hektare," kata Bambang.
Ahli IPB, Bambang melihat prediksi BMKG dan badan riset internasional tentang potensi karhutla itu tidak ditanggapi serius oleh pemerintah.
Dia melihat pemerintah tidak serius untuk segera melakukan persiapan personel, sarana prasarana, hingga menjadikan karhutla sebagai skala prioritas.
"Saya sekarang sedang di Ketapang. Saya lewat lahan yang kebakaran sampai ke bukit. Saya tanya, siapa yang memadamkan, ada berapa personelnya? Sumber airnya darimana? Ternyata tidak ada persiapan untuk itu," tambahnya.
"Akhirnya yang terjadi omission, pembiaran dari tingkat paling bawah hingga atas. Terlihat bahwa karhutla ini dianggap bukan sebagai persoalan penting. Akhirnya berulang terus karhutla," kata Bambang.
Selain itu, ujarnya, indikator dugaan pembiaran terlihat menurun drastisnya anggaran penanggulangan bencana melalui BNPB.
Pada 2026, anggaran BNPB sebesar Rp 491 miliar, menurun dibandingkan 2025 sebesar Rp2,01 triliun.
Kemudian pada 2024 sebesar Rp 4,92 triliun, 2023 sebesar Rp 5,43 triliun, dan 2022 sebesar Rp 5,05 triliun.
Bahkan saat pandemi Covid-19 pada 2020, anggaran BNPB pernah mencapai rekor tertingginya yakni Rp 11,78 triliun.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Padahal, karhutla menyebabkan kerusakan lingkungan yang masif dan menimbulkan kerugian triliunan rupiah.
Pada 2025, kerugian negara akibat karhutla pada 2025 sebesar Rp 6,7 triliun, dengan luas area yang terbakar mencapai 359.619 hektare.
Pada 2024, karhutla menyebabkan 376.805 hektare terbakar dengan total 629 kejadian bencana. Angka ini lebih luas dari 2025.
Pada 2023, kerugian akibat karhutla diprediksi mencapai Rp31 triliun, dengan luas area terbakar mencapai 1,16 juta hektare.
Pada 2019, kerugian mencapai Rp75 triliun, dengan total area terbakar 942.485 hektare.
Pada 2015, kerugiannya mencapai hingga Rp220 triliun, dengan luas 2,61 juta hektare terbakar dan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penanganan karhutla di Indonesia.
Bagaimana prediksi ke depannya?
Uli dan Bambang sepakat bahwa rangkaian karhutla yang terjadi saat ini belum mencapai titik tertinggi.
Pasalnya, puncak musim kemarau diprediksi hingga awal tahun 2027.
"Ini belum selesai, baru babak awal dari karhutla," kata Bambang.

Sumber gambar, BMKG
Bambang merujuk peringatan kebakaran hutan dan lahan yang dikeluarkan BMKG.
Hasilnya, menunjukkan mayoritas wilayah Indonesia masuk dala zona merah, yaitu sangat mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.
"Merah itu artinya bahan bakar siap, hanya menunggu percikan, hanya menunggu sentuhan itu bakar," kata Bambang.
Senada, Uli bilang "kalau enggak ada penanganan serius maka karhutla tahun ini bisa jauh lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi anggaran bencana kita telah berkurang drastis angkanya," kata Uli.
"Ditambah untuk memadamkan api butuh air, tapi airnya enggak ada karena kemarau. Jadi krisis bertemu dengan krisis dan situasinya semakin buruk," kata Uli.
Apa yang harus dilakukan?
Untuk itu, kata Uli, pemerintah perlu segera mengambil langkah nyata untuk meminimalisir potensi meluasnya karhutla.
Pertama adalah membenahi tata kelola hutan dan lahan. Salah satunya adalah dengan mengevaluasi izin-izin korporasi di wilayah yang rawan terjadinya karhutla, kata Uli dari Walhi.
"Presiden Prabowo harus segera memimpin proses penegakan hukum dengan mengevaluasi menyeluruh perizinan, terutama yang berada di ekosistem gambut dan hutan alam," kata Uli.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Kedua, kata Basuki dari IPB, adalah dengan segera memperkuat manajemen air di wilayah-wilayah yang rawan terjadi kebakaran, walaupun telat.
Di antaranya adalah membangun embung dan sumur-sumur sebagai sumber air jika terjadi kekeringan dan kebakaran.
"Lalu membangun sekat bakar, yaitu jalur atau area kosong yang sengaja dibuat untuk memutus jalur rambatan api dan mencegah karhutla meluas," kata Basuki.
Ketiga, menurut Bambang dari IPB, adalah menciptakan efek jera dengan menghukum korporasi yang tak mampu menjaga wilayahnya dari kebakaran, dari pidana hingga denda.
"Kalau sentuhan gakkum minim nanti dianggap seperti melegalkan kebakaran hutan. Para pelaku akan tenang-tenang saja karena enggak dihukum dan akhirnya terus berulang karhutla," ujar Bambang.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Terkait meluasnya karhutla, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni berkata bahwa Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah untuk melindungi masyarakat dari ancaman karhutla yang berpotensi terjadi di musim kemarau.
"Perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto jelas, pemerintah siap melindungi warga negara kita dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Negara hadir untuk mencegah kebakaran hutan," kata Menhut Raja Antoni.
Walaupun demikian, Raja Antoni optimistis Indonesia mampu menekan angka karhutla meski El Nino 2026 diperkirakan datang lebih cepat akibat perubahan iklim.
"Mudah-mudahan tahun ini angka karhutla jauh lebih rendah dibandingkan 2023, dengan dampak yang seminimal mungkin bagi masyarakat," katanya.
Menko Polkam Djamari Chaniago berkata hingga Senin (10/08), karhutla telah membakar 107.000 hektare di seluruh Indonesia.
Djamari menambahkan, pemerintah mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia. Dia bilang sebanyak 43 helikopter dikerahkan.
Selain lewat udara, penanganan melalui operasi darat tetap dilakukan, terutama karena ketersediaan air di sejumlah lokasi mulai terbatas.
Pemerintah, kata Djamari, menyiapkan sejumlah alternatif, seperti penggunaan flexible tank untuk menampung dan mendistribusikan air.
Pemerintah juga mempertimbangkan pembuatan sumur di lokasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan air dalam penanganan karhutla.
Wartawan Rahman Muchtar berkontribusi untuk artikel ini.