Kapolres Flotim mengutamakan pendekatan adat redam konflik di Adonara

Selasa, 21 Juli 2026 04:26 WIB

Image Print

Aparat kepolisian dan TNI menjaga keamanan di lokasi Konflik antardesa di Pulau Adonara. ANTARA/HO-Humas Polres Flotim.

Kupang (ANTARA) - Kapolres Flores Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Adhitya Octorio Putra mengedepankan pendekatan adat dan humanis untuk meredam konflik perbatasan antara Dusun Bele, Desa Waiburak dengan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, yang kembali terjadi.

"Konflik ini bukan sekadar persoalan yang muncul hari ini, tetapi memiliki akar sejarah yang panjang terkait batas wilayah. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum, melainkan juga harus mengedepankan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Adonara," kata Adhitya dari Larantuka, Flores Timur, Kamis.

Hal ini disampaikan Kapolres berkaitan dengan perkembangan konflik antardesa di Pulau Adonara yang dilaporkan mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan beberapa orang dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis.

Ia menjelaskan konflik tersebut dipicu persoalan batas wilayah yang telah berlangsung cukup lama sehingga penyelesaiannya memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Menurut Adhitya, masyarakat Adonara memiliki budaya Lamaholot yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan atau kaka arik sehingga nilai tersebut menjadi modal penting dalam membangun kembali hubungan harmonis antarmasyarakat.

"Kami percaya para tokoh adat memiliki peran yang sangat penting dalam memulihkan hubungan yang sempat renggang. Melalui dialog adat, musyawarah, dan penghormatan terhadap mekanisme hukum adat, kami optimistis penyelesaian yang bermartabat dapat tercapai sehingga perdamaian dapat terwujud secara berkelanjutan," ujarnya.

Sebagai langkah menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, Polres Flores Timur bersama TNI dan Kompi 1 Batalyon B Satuan Brimob Polda Nusa Tenggara Timur sejak Minggu (19/7) melaksanakan pengamanan terpadu di lokasi konflik.

Menurut Adhitya, kehadiran aparat tidak hanya bertujuan menjaga keamanan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat sekaligus membuka ruang dialog antara pihak-pihak yang berkonflik.

Ia mengatakan pemerintah daerah bersama unsur TNI dan Polri juga telah memfasilitasi berbagai upaya penyelesaian, salah satunya melalui Sarasehan Penanganan Konflik Komunal Kabupaten Flores Timur 2026 yang digelar di Desa Horinara, Kecamatan Kelubagolit.

Forum tersebut mempertemukan tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan untuk membangun komunikasi serta mencari solusi yang mengedepankan nilai budaya dan persaudaraan.

Kapolres juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar melalui media sosial.

Ia mengajak masyarakat menghidupkan kembali semangat gemohing atau gotong royong sebagai warisan budaya masyarakat Flores Timur serta mendukung proses rekonsiliasi yang difasilitasi pemerintah bersama para tokoh adat.

"Kami ingin memastikan seluruh masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman. Kedamaian adalah tanggung jawab bersama. Dengan mengedepankan kebersamaan, nilai-nilai adat, dan semangat persaudaraan, kami yakin setiap persoalan dapat diselesaikan secara damai demi masa depan Flores Timur yang harmonis," katanya.

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.