Jakarta, CNBC Indonesia - Musisi Amerika Serikat John Mayer ternyata menghabiskan jutaan dolar dari kantong pribadinya untuk mendukung penelitian mengenai gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD) dan kesehatan veteran perang.

Mayer mengungkapkan, selama sekitar 15 tahun terakhir ia secara diam-diam mendanai berbagai penelitian ilmiah melalui organisasi nirlaba Heart and Armor yang resmi didirikannya pada 2019.

Penyanyi berusia 48 tahun itu telah menggelontorkan sekitar US$5 juta atau sekitar Rp90,4 miliar (asumsi kurs Rp18.080 per US$) untuk membiayai studi ilmiah dan program bagi para veteran. Berkat kontribusinya tersebut, Mayer masuk dalam daftar Philanthropists of the Year versi The Hollywood Reporter.

Mayer mengatakan kepeduliannya bermula setelah mengunjungi Camp Lejeune, sebuah pangkalan militer di North Carolina, pada akhir 2000-an. Di sana ia bertemu langsung dengan para prajurit yang mengalami cedera otak traumatis dan PTSD.

"Saya sangat tersentuh ketika berbicara dengan seseorang yang mengalami cedera otak traumatis. Saat itu saya benar-benar melihat seperti apa PTSD secara nyata," ujarnya dikutip dari The Hollywood Reporter, Selasa (28/7/2026).

Sejak 2012, Mayer mulai mendanai berbagai penelitian terkait PTSD. Bersama direktur eksekutif Heart and Armor, Gerard Choucroun, organisasinya telah menghasilkan hampir selusin studi, mulai dari hubungan olahraga dengan gejala PTSD, dampak trauma seksual di lingkungan militer, hingga kesehatan perempuan veteran.

Saat ini, salah satu penelitian yang dinilai paling menjanjikan berfokus pada kualitas tidur. Para peneliti ingin mengetahui apakah mengatasi insomnia segera setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis dapat mencegah berkembangnya PTSD.

Riset tersebut dilakukan bersama University of California San Francisco (UCSF) dan University of North Carolina terhadap korban kecelakaan lalu lintas. Penelitian lain juga mengkaji hubungan PTSD dengan sistem glymphatic, yakni mekanisme alami otak untuk membuang limbah yang bekerja paling aktif saat tidur.

Menurut Mayer, PTSD sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan kesehatan mental, tetapi juga sebagai cedera fisik yang dapat dipelajari secara ilmiah.

"Jika kita bisa mengeluarkannya dari misteri pikiran dan melihatnya sebagai tantangan ilmiah yang objektif, orang akan lebih bersemangat mencari solusinya," kata Mayer.

Ia juga berharap penelitian tersebut dapat mengurangi stigma terhadap PTSD, khususnya di kalangan veteran perang. Mayer menilai banyak penderita yang akhirnya melakukan pengobatan sendiri, misalnya dengan mengonsumsi alkohol, karena kesulitan tidur setelah mengalami trauma.

Meski penelitian difokuskan pada veteran militer, Mayer menilai hasilnya kelak berpotensi membantu korban kekerasan, kecelakaan, bencana alam, maupun bentuk trauma lainnya. Namun ia menegaskan riset ilmiah bukanlah proses yang instan.

"Penelitian bukan soal berhasil atau gagal. Ini adalah proses panjang yang membawa kita menuju secercah harapan berikutnya," ujarnya.

Mayer menambahkan, ia tidak ingin kredibilitas Heart and Armor bergantung pada statusnya sebagai seorang selebritas.

"Saya ingin semua yang saya kerjakan bisa berdiri sendiri, baik ada nama John Mayer maupun tidak. Jika tetap bermanfaat tanpa label selebritas, maka itu layak dilakukan," kata Mayer.

(hsy/hsy)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]