JAKARTA — Persaingan industri pertahanan untuk memasok ratusan drone tempur generasi baru bagi Angkatan Udara Jerman semakin ketat. Airbus berhasil mencuri perhatian setelah bersama perusahaan pertahanan Amerika Serikat, Kratos Defense & Security Solutions, sukses menerbangkan pesawat tempur tanpa awak U740 Valkyrie untuk pertama kalinya di Eropa. Keberhasilan tersebut menjadi modal penting dalam perebutan proyek bernilai miliaran euro yang juga diincar Rheinmetall, Boeing, dan perusahaan teknologi pertahanan Jerman, Helsing.
Media pertahanan Jerman, Hartpunkt, pada 12 Oktober 2026 melaporkan bahwa penerbangan perdana Valkyrie berlangsung di fasilitas pengujian Eropa Utara pada 29 September. Pesawat tersebut berhasil mencapai kecepatan Mach 0,8 dan ketinggian sekitar 30.000 kaki atau 9.100 meter. Meski demikian, pengujian tersebut belum mencakup profil misi tempur taktis maupun integrasi penuh sistem kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan Airbus.
Perkembangan itu terjadi ketika pemerintah Jerman tengah merumuskan kebutuhan pesawat tempur tanpa awak yang dapat mendampingi jet tempur berawak, termasuk Eurofighter Typhoon. Harian bisnis Jerman Handelsblatt pada 8 Juli 2026 melaporkan bahwa Bundeswehr merencanakan pengadaan hingga 500 drone tempur jenis tersebut, dengan target kesiapan awal yang sebelumnya diarahkan pada 2029.
Namun, jumlah pengadaan maupun jadwal operasional belum ditetapkan sebagai kontrak final. Laporan Hartpunkt pada Oktober menunjukkan bahwa tenggat 2029 tidak lagi dipandang sebagai ketentuan yang mengikat, sementara Kementerian Pertahanan Jerman masih menyiapkan mekanisme persaingan antarprodusen.
Situasi tersebut membuat keberhasilan uji terbang Airbus memiliki arti strategis. Perusahaan itu kini memiliki bukti kemajuan penerbangan yang dapat ditawarkan kepada pemerintah Jerman, meskipun persaingan teknologi dan keputusan pembelian masih terbuka.
Bundeswehr Bidik Ratusan Drone Tempur
Rencana pengadaan drone tempur pendamping menjadi salah satu program penting dalam modernisasi kekuatan udara Jerman. Berbeda dengan drone pengintai berukuran kecil atau amunisi berkeliaran, pesawat yang dibutuhkan Bundeswehr merupakan wahana tanpa awak bermesin jet yang dirancang bekerja bersama pesawat tempur berawak.
Handelsblatt melaporkan bahwa Bundeswehr mempertimbangkan pembelian hingga 500 pesawat tanpa awak dengan kemampuan membawa persenjataan dan melaksanakan misi pada jarak jauh. Dalam laporan 8 Juli 2026, media tersebut menyebut kebutuhan wahana dengan muatan persenjataan hingga 500 kilogram dan jangkauan setidaknya 1.000 kilometer.
Angka tersebut menggambarkan persyaratan yang diberitakan untuk program pengadaan Jerman, bukan spesifikasi yang otomatis dimiliki seluruh kandidat. Setiap perusahaan menawarkan platform dengan karakteristik, tingkat kesiapan, dan konfigurasi persenjataan berbeda.
Sementara itu, lembaga penyiaran publik Jerman Bayerischer Rundfunk melalui BR24 pada 8 Juni 2026 menyebut rencana pengadaan sekitar 400 pesawat tanpa awak. Perbedaan angka 400 dan 500 unit menunjukkan bahwa skala kebutuhan yang diberitakan masih berkembang dan belum boleh diperlakukan sebagai keputusan pembelian final.
Bagi industri pertahanan, jumlah tersebut tetap menggambarkan peluang bisnis yang sangat besar. Pengadaan ratusan pesawat tempur tanpa awak akan membutuhkan investasi untuk produksi, sistem kendali, perangkat lunak, persenjataan, pelatihan, serta dukungan pemeliharaan jangka panjang.
Dalam wawancara yang dimuat Handelsblatt pada September, pejabat Kementerian Pertahanan Jerman juga menjelaskan bahwa Berlin sedang menyiapkan pendekatan pengadaan berbasis persaingan teknologi. Pemerintah akan menetapkan sasaran kemampuan, kemudian memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mengembangkan solusi yang dapat diuji militer.
Pendekatan tersebut berbeda dari pemilihan langsung satu jenis pesawat sejak awal. Bagi Airbus, Rheinmetall, dan Helsing, kemampuan membuktikan kemajuan teknologi menjadi faktor penting dalam persaingan memperebutkan kontrak.
Airbus Lebih Dulu Terbangkan Valkyrie di Eropa
Airbus memperoleh momentum setelah U740 Valkyrie menyelesaikan penerbangan perdananya di Eropa. Pengujian dilakukan bersama Kratos, perusahaan Amerika Serikat yang mengembangkan platform dasar XQ-58A Valkyrie.
Menurut Hartpunkt, pesawat tersebut diluncurkan menggunakan bantuan roket dari sebuah landasan peluncur khusus. Roket pendorong dilepaskan sekitar dua detik setelah lepas landas, kemudian Valkyrie melanjutkan penerbangan dengan mesin utamanya.
Selama pengujian, pesawat menjalankan sejumlah manuver pada ketinggian dan kecepatan berbeda. Airbus menyatakan seluruh sasaran penerbangan awal berhasil dicapai, termasuk penyesuaian misi selama pesawat berada di udara.
Valkyrie mencapai kecepatan hingga Mach 0,8 dan ketinggian sekitar 30.000 kaki dalam penerbangan tersebut. Setelah menyelesaikan program pengujian, pesawat mendarat menggunakan parasut dan kemudian berhasil dipulihkan oleh tim penguji.
Namun, pengujian itu belum membuktikan kesiapan Valkyrie untuk melaksanakan misi tempur sebenarnya. Hartpunkt menjelaskan bahwa pesawat belum menjalankan profil misi taktis dan belum dilengkapi sistem misi MARS yang menjadi bagian penting dari konsep Airbus.
Perbedaan tersebut penting karena keberhasilan menerbangkan pesawat tidak sama dengan keberhasilan mengoperasikan sistem persenjataan secara lengkap. Sebuah drone tempur pendamping juga harus mampu menerima perintah, memproses informasi, bekerja sama dengan pesawat lain, dan menjalankan misi sesuai aturan operasi militer.
Airbus menargetkan pengujian lanjutan dengan sistem misi yang lebih lengkap pada 2027. Perusahaan juga merencanakan serangkaian penerbangan tambahan hingga awal 2028 untuk mengembangkan kemampuan operasional Valkyrie.