Tokyo (ANTARA) - Jepang akan melakukan langkah tegas untuk melindungi teknologi pertahanan strategisnya seiring dengan rencana pengembangan dan produksi bersama kapal pendarat cepat (high-speed landing craft) dengan Vietnam.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyampaikan dalam konferensi pers di Tokyo, Jumat, bahwa langkah tersebut tanggapan atas kekhawatiran terkait kedekatan hubungan antara Vietnam dan China.

Kekhawatiran tersebut mengemuka usai Koizumi dan Menteri Pertahanan Vietnam Phan Van Giang pada Senin (13/7) menyepakati dimulainya pembicaraan terkait proyek pengembangan alutsista bersama tersebut.

Ketika ditanya mengenai adanya risiko kebocoran teknologi dalam kolaborasi tersebut, Koizumi menegaskan bahwa Pemerintah Jepang akan bekerja sama secara erat dengan Pemerintah Vietnam untuk memastikan perlindungan terhadap teknologi milik perusahaan-perusahaan Jepang.

"Kami akan terus menjalin komunikasi erat dengan pemerintah negara penerima teknologi dan mengambil semua langkah yang diperlukan, termasuk lewat proses penyaringan (mitra) yang ketat serta pengelolaan yang tepat," ujarnya.

Pertemuan kedua menteri pada awal pekan ini merupakan upaya untuk memperkuat hubungan pertahanan antara Jepang dan Vietnam di tengah meningkatnya tantangan keamanan regional.

Koizumi mengatakan kepada Giang bahwa aktivitas militer China merupakan "kekhawatiran serius bagi komunitas internasional," merujuk pada uji coba peluncuran rudal balistik oleh China pada 6 Juli lalu.

Kedua menteri sepakat mengenai pentingnya menghormati kebebasan pelayaran dan penerbangan antarnegara di kawasan, serta menentang upaya untuk mengubah status quo secara sepihak melalui kekuatan atau paksaan dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan internasional.

Mereka juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk keamanan siber, serta berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas regional.

Sumber: Kyodo

Baca juga: Inpex: Abadi Masela berkontribusi pada keamanan energi Jepang

Penerjemah: Uyu Septiyati Liman
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.