Jateng-KEK indutropolis Batang selaraskan kurikulum pendidikan vokasi dunia industri

Jumat, 21 Agustus 2026 21:39 WIB

Image Print

Dinas Pendidikan Jateng-KEK Batang menggandeng sekolah SMK untuk memastikan lulusan memiliki keterampilan yang benar dibutuhkan perusahaan, di Batang, belum lama ini. (ANTARA/HO-Humas KITB)

Batang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang/Kawasan Industri Batang menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan tuntutan dunia industri.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Sadimin di Batang, Jumat, mengatakan bahwa pihaknya terus menggencarkan pembekalan bagi siswa sekolah menengah kejuruan agar mampu bertransisi langsung ke dunia kerja.

"Upaya ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis melainkan juga pada penguatan karakter kerja yang meliputi integritas, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, kerja sama tim, dan ketahanan dalam menghadapi tekanan," katanya.

Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah Mohammad Saleh nengingatkan bahwa kompetensi yang dimiliki peserta didik tidak boleh bersifat statis.

"Perkembangan industri berjalan sangat cepat. Oleh karena itu, lulusan SMK harus memiliki kemampuan beradaptasi dan semangat belajar berkelanjutan agar tidak tergerus perubahan zaman," katanya.

Pada ruang lingkup perjanjian kerja sama (PKS) Program Ngopeni ini disebutkan fokus pada pembangunan ekonomi serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah setempat.

Ruang lingkup PKS ini mencakup berbagai program terintegrasi mulai dari penyelarasan materi pembekalan, kunjungan pabrik, hingga pelibatan praktisi industri sebagai narasumber sekaligus penguji kompetensi.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KEK Industropolis Batang Angga Arie Saputra mengatakan bahwa pertumbuhan kawasan industri tidak cukup hanya ditopang oleh pembangunan fisik seperti jalur listrik, air, dan teknologi.

Menurut dia, komponen terpenting adalah sumber daya manusia yang mampu mengelola dan mengembangkan ekosistem tersebut.

"Kami memandang SMK memiliki peran strategis sebagai pemasok utama talenta bagi kawasan. Melalui Program Ngopeni (memiliki), kami ingin mempertegas koneksi antara ruang kelas dan lantai produksi," katanya.

Ia mengatakan peserta didik tidak hanya dibekali teori saja tetapi juga diberikan pelatihan konkret, penguatan disiplin, tanggung jawab, serta budaya kerja yang sesuai dengan standar industri.

"Kolaborasi ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan kompetensi agar lulusan memiliki kemauan belajar yang tinggi dan mampu beradaptasi dengan dinamika sektor manufaktur modern," katanya.

Pewarta: Kutnadi
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.