Iran, Oman sepakati rute pelayaran Selat Hormuz, tunggu komitmen AS
Sabtu, 29 Agustus 2026 08:40 WIB
Tim nasional bola voli putri Indonesia dikalahkan Iran, 1-3 (25-19, 16-25, 12-25, dan 17-25) dalam babak perempat final AVC Continental 2026. (X/volleyballidn)
Istanbul (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Jumat (28/8), mengatakan bahwa Teheran telah menyepakati rute pelayaran melalui Selat Hormuz dengan Oman dan akan membuka kembali Selat Hormuz jika Amerika Serikat (AS) memenuhi komitmennya berdasarkan Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada Juni.
"Kami telah menyepakati rute pelayaran melalui Hormuz dengan Oman, dan jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kami akan membuka selat itu," kata Pezeshkian, sebagaimana dikutip kantor berita Iran, IRNA.
Pezeshkian mengatakan bahwa rencana rute pelayaran itu juga telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran.
"Saat ini kami sedang menindaklanjuti masalah tersebut. Jika AS memenuhi komitmennya terkait pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset, dimulainya investasi, serta pengakhiran perang di Lebanon, kami juga akan membuka Selat Hormuz," katanya.
"Sejauh perkembangan pembicaraan yang ada, pihak AS juga mengakui bahwa kita harus kembali pada nota kesepahaman tersebut," tambahnya, merujuk pada pihak AS.
Pezeshkian mengatakan bahwa Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah mencapai konsensus yang disebutnya "luar biasa" mengenai kesepakatan, dengan 12 dari 13 anggotanya memberikan suara mendukung.
"Kebijaksanaan kolektif ini merupakan pencapaian besar," ujarnya.
Presiden Iran mengatakan bahwa sanksi dan blokade pada awalnya telah dicabut, sementara negosiasi mengenai pelepasan dana Iran yang dibekukan telah dimulai dan rencana investasi senilai 300 miliar dolar AS (Rp5.327 triliun) sedang dipersiapkan.
Pezeshkian menyebutkan bahwa angka impor dan ekspor Iran telah mengalami penurunan antara 25 persen hingga 35 persen.
Dia mengatakan bahwa sanksi di sektor perbankan dan petrokimia telah dihapus berdasarkan nota kesepahaman tersebut, dan Iran telah mengekspor hampir 90 juta barel minyak selama kesepakatan itu berlaku.
Pezeshkian menambahkan bahwa Teheran telah melakukan pembicaraan dengan Qatar dan Uni Emirat Arab mengenai rencana investasi itu, namun menyatakan bahwa proyek-proyek tersebut tidak dapat dilanjutkan jika perang terus berlangsung.
Di sisi lain, Iran berupaya mengembalikan status Selat Hormuz seperti semula, tambahnya. "Namun, karena mereka tidak mematuhi nota kesepahaman tersebut, akhirnya gagal."
Iran dan Oman telah mengadakan pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas pelayaran di jalur air tersebut sejak nota kesepahaman yang disepakati antara Washington dan Teheran gagal terlaksana bulan lalu.
Berdasarkan kesepakatan, AS dan Iran setuju memperpanjang gencatan senjata pada April dan secara bertahap mengizinkan pelayaran melalui Selat Hormuz kembali ke tingkat sebelum perang, sambil kedua pihak melakukan pembicaraan mengenai penyelesaian akhir untuk mengakhiri perang yang dimulai pada Februari.
"Kita sedang dalam keadaan perang"
Beralih ke tekanan energi dalam negeri, Pezeshkian mengatakan bahwa Iran sedang menghadapi kondisi masa perang di mana jalur-jalur transportasi terblokir, barang-barang tidak masuk ke dalam negeri, dan pendapatan negara menurun, sementara pasokan bensin tetap harus dipastikan ketersediaannya.
"Kita sedang dalam keadaan perang. Pertama, kita harus memahami bahwa kita sedang berperang. Jalur saat ini terblokir, dan barang-barang tidak masuk. Bensin adalah salah satu dari barang-barang tersebut," ujarnya.
Presiden mengatakan pemerintah belum memutuskan kapan atau seberapa besar kenaikan harga bensin akan dilakukan, seraya menambahkan bahwa satu-satunya usulan yang sedang dipertimbangkan berkaitan dengan tingkat harga ketiga untuk konsumsi yang melebihi kuota reguler.
"Tarif yang diusulkan untuk kuota ketiga ini adalah sekitar 10.000 toman. Rumor mengenai harga 50.000 toman tidaklah benar," katanya, seraya menambahkan bahwa konsultasi dengan pihak yudikatif dan parlemen diperlukan sebelum langkah apa pun diterapkan.
Pezeshkian juga mengimbau peningkatan penggunaan transportasi umum dalam situasi saat ini.
"Kita berada dalam kondisi masa perang. Infrastruktur kita, termasuk pembangkit listrik serta sumber daya minyak dan gas, telah menjadi sasaran serangan, dan produksi energi telah menurun," ujarnya.
Dia mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan kerja jarak jauh, perluasan layanan transportasi umum, standar efisiensi kendaraan yang lebih tinggi, serta elektrifikasi taksi dan sepeda motor untuk mengurangi konsumsi bahan bakar tanpa menambah beban bagi masyarakat.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Cindy Frishanti Octavia
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026