Jakarta, CNBC Indonesia - Posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) selalu menjadi salah satu jabatan paling strategis di pemerintahan. Tak heran, jabatan ini hampir selalu diisi oleh sosok yang mendapat kepercayaan penuh dari presiden.
Salah satu nama yang menonjol adalah Gubernur BI ke-6, Radius Prawiro. Ia menjadi salah satu pejabat ekonomi Orde Baru yang paling dipercaya Presiden Soeharto. Kepercayaan itu muncul karena Radius dinilai berhasil membantu pemerintah memulihkan kondisi makroekonomi Indonesia yang terpuruk pada awal Orde Baru.
Saat Soeharto mulai memimpin pemerintahan pada 1966, Radius diangkat sebagai Menteri Urusan Bank Sentral sekaligus Gubernur Bank Sentral. Tak lama kemudian, ia bergabung dalam Tim Ahli Ekonomi Presiden yang dipimpin Widjojo Nitisastro.
Tim yang kemudian dikenal sebagai "Mafia Berkeley" ini dibentuk Soeharto untuk mengatasi berbagai persoalan ekonomi yang diwarisi pemerintahan sebelumnya. Mulai dari hiperinflasi, defisit neraca pembayaran, menipisnya cadangan devisa, hingga kesulitan membayar utang luar negeri.
Sebagai anggota tim tersebut, Radius berperan dalam penyusunan program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Menurut Gubernur BI ke-10 J. Soedradjad Djiwandono dalam tulisan "A Team Player Technocrat: Radius Prawiro, 1928-2005" (2005), selama memimpin Bank Indonesia Radius ikut membuka kembali hubungan Indonesia dengan negara-negara kreditor serta berperan dalam pembentukan Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) pada 1967 sebagai forum untuk merundingkan kembali utang luar negeri Indonesia.
Langkah-langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemulihan ekonomi nasional. Namun, menurut Radius, keberhasilan itu tidak hanya ditentukan oleh kebijakan para teknokrat, tetapi juga oleh sikap Soeharto yang bersedia mendengarkan masukan mereka.
"Meskipun bukan ekonom, Soeharto mendengar dengan cermat rekomendasi dari penasihat ekonominya, dan mempelajari pilihan kebijakan ekonomi yang diusulkan," tulis Radius dalam memoar berjudul Radius Prawiro: Kiprah, Peran, dan Pemikiran (1998).
Keberhasilan program stabilisasi ekonomi itulah yang membuat Radius terus memperoleh kepercayaan Soeharto. Dalam biografi Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000), ekonom Sumitro mengungkap bahwa Radius memang orang yang paling piawai membangun komunikasi dengan presiden. Bahkan, beberapa ekonom sering meminta tolong Radius untuk menyampaikan sesuatu hal kepada Soeharto.
"Kelak terbukti, Radius dipakai terus oleh Soeharto," ungkap Sumitro.
Selama tujuh tahun jadi Gubernur BI, Radius kemudian digeser menjadi Menteri Perdagangan (1973-1983), Menteri Keuangan (1983-1988), hingga Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Pengawasan Pembangunan (1988-1993). Keberhasilan Radius menempati beberapa pos menteri membuatnya dinobatkan sebagai menteri paling lama dalam sejarah Indonesia, yakni menjabat selama 28 tahun berturut-turut.
Bahkan setelah tidak menjadi menteri pun, Radius tetap berada di pemerintahan sebagai penasehat ekonomi presiden. Kiprah Radius Prawiro berakhir pada 26 Mei 2005. Hari itu, Radius meninggal di usia 76 tahun.
(mfa)
Add
as a preferred
source on Google