• Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, saham menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street ambruk berjamaah setelah data inflasi memanas
  • Data inflasi AS hingga diskusi The Fed akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam Rabu kemarin. Saham menguat sementara rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (14/10/2026). IHSG naik 0,39% atau 22,85 poin ke level 5.948,83.

IHSG dibuka di posisi 5.940,68. Sempat melemah ke kisaran 5.920 pada awal perdagangan, indeks kemudian melesat hingga menyentuh level tertinggi harian di 6.009,96 menjelang pukul 10.30 WIB.

Namun, penguatan di atas level 6.000 tak bertahan lama. IHSG berbalik melemah dan sempat tertekan tajam sekitar pukul 11.00 WIB. Sepanjang sisa perdagangan, indeks bergerak di kisaran 5.940-5.960, dengan level terendah harian di 5.906,74.

Aktivitas perdagangan mencatat volume sekitar 31,3 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp11,3 triliun.

Secara keseluruhan, sebanyak 280 saham menguat, sementara 321 saham melemah dan 194 saham stagnan.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,13 triliun.

Mengutip data Refinitiv, sektor properti menjadi penopang utama IHSG dengan kenaikan 2,09%. Disusul sektor keuangan yang menguat 0,7% dan konsumer non-primer yang naik 0,4%.

Sejumlah saham turut menopang indeks, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Astra International Tbk (ASII), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Sebaliknya, tekanan terhadap IHSG datang dari saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Dari eksternal, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi mereda seiring pelemahan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik.

Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (14/10/2026). Mata uang Garuda ditutup di zona merah setelah bergerak fluktuatif sepanjang hari.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.895/US$ atau melemah 0,06% dibandingkan penutupan Selasa (13/10/2026) di Rp17.885/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat hingga Rp17.870/US$ sebelum kembali tertekan. Rupiah juga sempat menyentuh level Rp17.915/US$ setelah dibuka di posisi Rp17.900/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB, terpantau melemah 0,02% ke posisi 102,164.

Pergerakan rupiah dibayangi perkembangan ekonomi China serta sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Dari pasar obligasi,imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,169%.