Jakarta (ANTARA) - Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Kamerun merangkap Chad, Guinea Ekuatorial, Gabon, Kongo, dan Republik Afrika Tengah, Agung Cahaya Sumirat menyatakan Indonesia saat ini tengah merintis kerja sama di sektor logam tanah jarang dengan Gabon.
“Kita punya kepentingan yang sangat strategis untuk menjalin kemitraan dengan Pemerintah Gabon. Ini belum selesai, masih berproses, on going, sedang dirintis berbagai kerja sama di sektor rare earth minerals, mineral tanah jarang,” ucap Agung Cahaya Sumirat di Jakarta, Selasa (13/10).
Selain itu, ia mengatakan bahwa Indonesia juga tengah menjajaki kerja sama terkait mineral fosfat dengan Republik Kongo.
Namun, karena pembahasan kerja sama yang belum selesai, ia pun belum dapat menyampaikan detail lebih lanjut mengenai proses maupun hasil dari kemitraan dengan kedua negara di benua Afrika itu.
Agung menuturkan, selama ini kerja sama terkait komoditas mineral dan tambang antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika Tengah berfokus pada sektor minyak dan gas (migas).
Ia menyatakan, terdapat dua negara di kawasan itu yang menjadi sumber utama impor minyak mentah Indonesia, yakni Angola dan Gabon. Nigeria yang terletak di kawasan Afrika Barat juga masuk dalam tiga besar negara Afrika pemasok minyak mentah untuk Indonesia.
Tidak hanya menjalin kerja sama perdagangan, Indonesia juga berinvestasi pada sektor migas di Gabon.
PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) menguasai lebih dari 70 persen saham perusahaan eksplorasi migas asal Prancis, Maurel & Prom, yang memiliki aset di Angola, Gabon, hingga Tanzania.
“Ini menjadi salah satu (hal mengapa) kita berkepentingan untuk terus memperkuat kerja sama dengan Gabon,” ujar Dubes Agung.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada Januari hingga Agustus 2026, Indonesia tercatat mengalami defisit perdagangan dengan Gabon sebesar 411,3 juta dolar AS (sekitar Rp7,38 triliun), dengan nilai ekspor 11,4 juta dolar AS (Rp204,50 miliar) dan impor 422,7 juta dolar AS (Rp7,58 triliun).
Indonesia juga mencatatkan defisit dengan Angola senilai 1,086 miliar dolar AS (Rp19,48 triliun), dengan nilai ekspor 94,1 juta dolar AS (Rp1,69 triliun) dan impor 1,18 miliar dolar AS (Rp21,17 triliun).
Sementara itu, neraca dagang Indonesia dengan Republik Kongo meraih surplus 104,3 juta dolar AS (Rp1,87 triliun) dengan nilai ekspor 106,9 juta dolar AS (Rp1,92 triliun) dan impor 2,6 juta dolar AS (Rp46,64 miliar).
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.