Moskow (ANTARA) - Eskalasi lebih lanjut konflik di Timur Tengah dapat menjadi bencana bagi puluhan juta orang sehingga seluruh pihak harus mengambil langkah untuk meredakan ketegangan dan melindungi warga sipil, sebut lembaga medis internasional.
βWarga sipil membayar harga yang tidak dapat diterima akibat operasi militer di Timur Tengah. Eskalasi lebih lanjut akan menjadi bencana bagi puluhan juta orang,β kata Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Mirjana Spoljaric, Selasa.
βUpaya mendesak harus dilakukan untuk meredakan ketegangan dan melindungi warga sipil dari dampak yang lebih buruk,β tambahnya, seperti dikutip kantor pers ICRC.
ICRC menyatakan bahwa kematian, korban luka, dan kehancuran di Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir menjadi contoh lain dampak buruk konflik terhadap warga sipil.
Di Yaman, termasuk di Aden dan Sanaa, jumlah korban tewas, pengungsi, serta kerusakan infrastruktur sipil terus meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan, kata Spoljaric.
Menurut dia, infrastruktur sipil di berbagai wilayah Timur Tengah berulang kali menjadi sasaran dan menimbulkan korban jiwa.
βWarga sipil dan objek sipil harus dilindungi dari serangan. Pihak-pihak yang berkonflik harus selalu membedakan antara warga sipil, objek sipil, dan sasaran militer,β kata Spoljaric.
Bentrok antara gerakan Houthi dan pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali terjadi pada pertengahan Juli setelah periode relatif tenang selama empat tahun.
Eskalasi tersebut terjadi setelah Houthi mulai menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah sebagai balasan atas serangan militer Yaman terhadap Bandara Sanaa.
Houthi menguasai seluruh pesisir barat Laut Merah serta sejumlah kota di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: RI kutuk serangan ke infrastruktur sipil dalam konflik Houthi-Saudi
βββββββBaca juga: Putra Mahkota Saudi gunakan istana berbunker di tengah serangan Houthi
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: M Razi Rahman
Copyright Β© ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.