Jakarta, CNN Indonesia --

Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Wita Krisanti menilai banyak program pemberdayaan perempuan tidak berjalan efektif karena penyelenggara gagal memahami kondisi dan kebutuhan nyata peserta program.

Hal itu disampaikan Wita dalam panel diskusi Designing Community Investment for Social Impact pada Bangun Bangsa Conference 2026 bertajuk Sustainable Community Growth: Shaping Indonesia's Future Inclusive Economy di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (6/8).

Menurutnya, keberhasilan program investasi sosial tidak cukup diukur dari keterlibatan perempuan sebagai peserta. Program harus mampu memastikan perempuan benar-benar menjadi penerima manfaat yang memperoleh akses dan kesempatan untuk berkembang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program-program yang inklusif itu biasanya memang berdasarkan kebutuhan. Sudah ada social mapping sebelumnya. Jadi memang penerima manfaatnya betul-betul sesuai dengan sasaran, apakah kelompok rentan atau mereka yang memang belum punya akses," ujarnya.

Ia mencontohkan masih banyak program sosial yang gagal menjangkau perempuan karena tidak mempertimbangkan kondisi keseharian mereka. Salah satunya, pelatihan yang digelar pada jam ketika perempuan masih disibukkan dengan pekerjaan domestik.

"Ada program pemberian makanan tambahan, tetapi diselenggarakan pada saat perempuan sedang sibuk mengurus rumah, menyiapkan sarapan, mencuci baju, bersih-bersih. Akhirnya mereka tidak bisa hadir," katanya.

Selain waktu pelaksanaan, lokasi kegiatan hingga tidak tersedianya dukungan transportasi juga dinilai menjadi hambatan yang membuat perempuan kesulitan mengikuti program.

Wita mengatakan penyelenggara juga perlu mempertimbangkan tanggung jawab pengasuhan yang dimiliki peserta perempuan, terutama bagi mereka yang masih memiliki anak kecil.

(asa)

[Gambas:Video CNN]