AKURAT.CO Media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai aktivitas dapat dibagikan melalui platform digital, mulai dari pekerjaan, pendidikan, perjalanan, hingga ungkapan perasaan. Tidak jarang pula seseorang menuliskan doa dan harapan di media sosial.

Unggahan seperti “Semoga Allah memberikan kemudahan”, “Ya Allah, sembuhkanlah orang tua saya”, atau doa agar mendapatkan rezeki dan keberkahan kerap muncul dalam berbagai platform media sosial. Lantas, bagaimana hukum berdoa melalui media sosial menurut Islam?

Pada dasarnya, berdoa melalui media sosial diperbolehkan selama isi doa tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab, doa merupakan bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah SWT dan dapat dilakukan kapan saja serta di mana saja.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.”

Baca Juga: Texas Setujui Kurikulum yang Dinilai Menggambarkan Islam secara Negatif

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT dekat dengan hamba-Nya dan mendengar doa yang dipanjatkan. Tidak ada ketentuan bahwa doa hanya dapat dilakukan di tempat tertentu atau melalui bentuk tertentu.

Persoalan yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah doa ditulis di media sosial, melainkan untuk apa doa tersebut dipublikasikan.

Jika seseorang menuliskan doa dengan tujuan mengingatkan diri sendiri, mengajak orang lain berdoa, atau meminta dukungan doa dari sesama Muslim, hal tersebut pada dasarnya tidak menjadi persoalan.

Namun, seseorang perlu berhati-hati apabila unggahan doa dibuat semata-mata untuk mendapatkan pujian, menunjukkan kesalehan, atau membangun citra sebagai orang yang religius. Dalam kondisi seperti itu, persoalannya berkaitan dengan niat dan potensi riya.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal perbuatan sangat berkaitan dengan niat. Karena itu, sebelum mengunggah doa, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah unggahan tersebut benar-benar menjadi sarana kebaikan atau justru ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain?

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga keikhlasan. Karena itu, tidak semua doa yang dipanjatkan harus diketahui orang lain.