Jakarta (ANTARA) - PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) membukukan laba bersih sebesar Rp700,01 miliar pada semester I 2026, meningkat 100,86 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp348,51 miliar.
Direktur Utama HRTA Sandra Sunanto dalam keterangannya di Jakarta, Senin, menyampaikan pencapaian pada semester pertama tahun ini menunjukkan bahwa strategi perseroan dalam memperkuat ekosistem bisnis emas yang terintegrasi telah memberikan hasil yang positif.
“Dengan fundamental bisnis yang semakin solid, dukungan dari pertumbuhan permintaan institusi keuangan dan bullion bank, serta prospek industri emas yang tetap menjanjikan, kami akan terus berfokus pada penciptaan pertumbuhan yang berkelanjutan, memperkuat daya saing perseroan, dan memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemegang saham,” kata Sandra.
Lebih lanjut, perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp33,80 triliun, meningkat 124,61 persen (yoy) dibandingkan Rp15,05 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun volume penjualan emas murni meningkat sebesar 46,74 persen (yoy) menjadi 13 ton, sejalan dengan kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 53,21 persen (yoy) menjadi Rp2.591.673 per gram.
Dari sisi segmen usaha, catat perseroan, penjualan masih didominasi oleh segmen grosir dengan kontribusi sebesar 89,33 persen, termasuk kontribusi institusi keuangan dan bullion bank sebesar 80,34 persen, diikuti segmen ritel sebesar 10,31 persen dan bisnis gadai sebesar 0,33 persen.
Hal ini, catat perseroan, mencerminkan struktur permodalan yang sehat di tengah pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Sejalan dengan dinamika pasar global, harga emas sepanjang Juli 2026 cenderung bergerak stabil dengan rata-rata sebesar 4.072,54 dolar AS per troy ounce.
Secara tahunan, harga emas meningkat 21,99 persen (yoy), sementara secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) naik 2,39 persen.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa harga emas masih bertahan pada level yang relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya didukung oleh pelemahan rupiah serta tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas.
Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik, termasuk kebijakan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Juli, perkembangan inflasi Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus menopang permintaan terhadap aset safe haven.
Sementara di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian global, sehingga turut memengaruhi pergerakan harga emas domestik.
Pewarta : Rizka Khaerunnisa
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026