Di tengah meningkatnya ketegangan, Arab Saudi juga mencegat rudal yang diluncurkan Houthi ke arah Riyadh, menurut laporan SPA.
Juru bicara Pertahanan Sipil Arab Saudi mengatakan, empat orang terluka dan 15 rumah mengalami kerusakan akibat puing-puing dari dua rudal yang berhasil dicegat.
Sementara itu, tak lama setelah koalisi pimpinan Arab Saudi mengeluarkan perintah evakuasi di Sanaa, tim Al Jazeera di lokasi melaporkan mendengar ledakan di ibu kota Yaman tersebut.
Media yang berafiliasi dengan Houthi menyebut serangan udara pasukan yang didukung Arab Saudi menghantam fasilitas minyak di kawasan al-Sabah.
Koresponden Al Jazeera, Yousef Mawry, mengatakan suara ledakan terdengar saat Arab Saudi menyerang stasiun pusat minyak Yaman di al-Sabah, Sanaa.
Menurut Mawry, serangan juga dilaporkan menargetkan tangki penyimpanan minyak Yaman dan sebuah stasiun minyak di Provinsi Hodeidah yang dikuasai Houthi.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menuduh Houthi menggunakan fasilitas tersebut dan depot bahan bakar bawah tanahnya untuk menyimpan persenjataan rudal dan drone.
Pihak perusahaan minyak Yaman menyatakan fasilitas penyimpanannya dalam keadaan kosong. Karena itu, serangan Saudi disebut tidak akan memengaruhi cadangan minyak maupun pasokan bagi penduduk.
Meski demikian, para saksi mata mengatakan antrean mobil terbentuk di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar karena kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan.
Setelah ledakan dilaporkan terjadi, Saree mengatakan para pejuang Houthi tengah menghadapi pasukan yang didukung Arab Saudi di Sanaa.
Dalam pernyataan di platform X, ia menegaskan Houthi akan menargetkan lokasi-lokasi yang diperintahkan untuk dikosongkan jika koalisi pimpinan Arab Saudi melanjutkan serangan terhadap Sanaa.
Pada Selasa, warga sipil juga diperintahkan mengungsi dari kantor pusat Aramco di Dhahran, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta sebuah kilang yang berafiliasi dengan Aramco di Riyadh.