REPUBLIKA.CO.ID, SANAA – Kelompok Houthi pada Kamis mengancam akan menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur vital di Arab Saudi. Ancaman ini dikeluarkan menyusul potensi Riyadh turut serta dalam serangan terhadap Yaman.

"Seluruh fasilitas minyak dan instalasi vital Saudi akan menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak (drone) kami jika Riyadh terlibat" dalam serangan terhadap Yaman, ujar pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato yang disiarkan oleh saluran televisi milik kelompok tersebut, Al-Masirah

"Persamaannya adalah (...) bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan, dan blokade dibalas blokade," tegasnya. 

Kelompok Houthi menembakkan rudal ke wilayah Saudi pada hari Senin menyusul serangan pasukan pemerintah Yaman terhadap bandara Sanaa, yang memecah ketenangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Meskipun Houthi menuduh Riyadh sebagai pihak yang melancarkan serangan terhadap bandara tersebut, Riyadh menolak memberikan komentar terkait tuduhan itu.

Dalam pidato mingguan-nya, al-Houthi menegaskan bahwa "menyerah bukanlah pilihan di Yaman," seraya memperingatkan bahwa jika Arab Saudi melangkah menuju eskalasi berskala penuh, Yaman akan membalas dengan tindakan serupa.

Ia menyatakan bahwa Arab Saudi membom Bandara Internasional Sanaa karena menolak pencabutan blokade terhadap Yaman, dan bahwa Riyadh marah atas respons Sanaa terhadap serangan tersebut, meskipun respons itu sendiri terbatas. "Persamaan yang sebenarnya adalah Bandara Internasional Sanaa dibalas dengan bandara Riyadh," ungkapnya.

Sementara, Military Watch melansir, Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi melancarkan serangan rudal jelajah yang gagal terhadap Bandara Internasional Sana’a di Yaman. Namun, tujuan utamanya, yakni melumpuhkan landasan pacu bandara, tidak tercapai karena sejumlah rudal jelajah Storm Shadow buatan Inggris meleset dari sasaran. 

Sekitar sepuluh rudal Storm Shadow ditembakkan dari jarak jauh oleh pesawat Eurofighter milik Saudi dalam upaya membuat landasan pacu tidak dapat digunakan, namun serangan tersebut dilaporkan gagal menimbulkan kerusakan fatal yang cukup untuk menghentikan operasional bandara. Operasi ini merupakan kemunduran signifikan bagi jenis rudal jelajah yang diluncurkan dari udara yang menjadi andalan Eropa tersebut.

Storm Shadow dikembangkan bersama oleh Inggris dan Prancis serta dirancang untuk menembus wilayah udara dengan pertahanan ketat sebelum menghantam target bernilai tinggi secara presisi. Dilengkapi dengan hulu ledak tandem BROACH yang secara khusus ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur yang diperkuat, rudal ini banyak dipromosikan untuk serangan terhadap bunker, pusat komando, dan fasilitas lapangan terbang. 

Serangan terkoordinasi yang melibatkan sekitar sepuluh rudal akan menghabiskan amunisi berpemandu presisi senilai kurang lebih 20 juta dolar AS. Rudal-rudal ini telah digunakan secara luas dalam pertempuran di medan perang Ukraina, meskipun dengan hasil yang beragam, mengingat sistem peperangan elektronik Rusia dilaporkan telah mencatatkan keberhasilan yang signifikan.

Profil peluncuran yang dilaporkan juga merupakan hal yang signifikan. Alih-alih mendekati sasaran, pesawat penyerang dilaporkan tetap berada pada jarak aman maksimum (stand-off range) sebelum meluncurkan rudal mereka. Taktik semacam itu meminimalkan risiko bagi pesawat penyerang, namun juga dapat mencerminkan kekhawatiran akan ancaman dari sistem pertahanan udara Yaman.