REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA — Turki dan Irak membuka babak baru kerja sama energi setelah menandatangani perjanjian pengangkutan minyak mentah selama satu tahun melalui jaringan pipa yang menghubungkan ladang-ladang minyak Irak dengan Pelabuhan Ceyhan di pesisir Mediterania Turki.

Kesepakatan itu ditandatangani di Ankara pada Sabtu (1/8/2026), hanya beberapa hari setelah pengaturan antarpemerintah yang telah berlaku selama puluhan tahun berakhir pada Senin, 27 Juli 2026. Perjanjian sementara tersebut memastikan aliran minyak tidak terputus sembari kedua negara merundingkan kerangka kerja sama energi yang lebih luas dan berjangka panjang.

Perjanjian ditandatangani perusahaan jaringan pipa milik negara Turki, BOTAŞ, dengan State Organization for Marketing of Oil atau SOMO dan North Oil Company atau NOC dari Irak. Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki Alparslan Bayraktar serta Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed Khudair menghadiri penandatanganan tersebut.

Dalam perjanjian baru itu, kapasitas sebesar 750 ribu barel per hari pada sistem transmisi Silopi–Ceyhan dialokasikan kepada SOMO dan NOC. Namun, angka tersebut merupakan kapasitas yang tersedia berdasarkan kontrak, bukan kepastian bahwa 750 ribu barel akan langsung dipompa setiap hari. Data Turki menunjukkan aliran aktual melalui pipa tersebut saat ini masih sekitar 170 ribu barel per hari.

Perbedaan ini penting. Sejumlah pemberitaan menyebut 750 ribu barel sebagai target atau volume minimum ekspor. Akan tetapi, keterangan resmi Kementerian Energi Turki menyatakan jumlah itu sebagai bagian kapasitas pipa yang “dialokasikan” kepada perusahaan-perusahaan negara Irak. Artinya, realisasi pengiriman tetap bergantung pada produksi di lapangan, kesiapan infrastruktur, kontrak penjualan, keamanan, dan hubungan Baghdad dengan Pemerintah Regional Kurdistan atau KRG.

Bukan pipa baru

Judul “jalur minyak baru” tidak berarti Turki dan Irak telah membangun saluran fisik baru dari nol. Minyak akan diangkut melalui koridor Irak–Turki yang telah beroperasi selama hampir setengah abad.

Kesepakatan awal pembangunan pipa ditandatangani kedua negara pada 27 Agustus 1973. Jalur pertama sepanjang 986 kilometer mulai dioperasikan pada 1976, sedangkan pengapalan tanker pertama dari Terminal Ceyhan berlangsung pada 25 Mei 1977. Pipa tersebut dibangun untuk mengalirkan minyak dari Kirkuk dan ladang-ladang produksi Irak lainnya menuju Laut Mediterania.

Jaringan itu kini terdiri atas dua jalur dengan kapasitas gabungan sekitar 1,5 juta barel per hari. Dengan aliran aktual sekitar 170 ribu barel per hari, sebagian besar kapasitasnya masih menganggur. Kesepakatan satu tahun ini karena itu lebih tepat dipahami sebagai jalur hukum dan komersial baru untuk menghidupkan kembali koridor lama yang selama bertahun-tahun tersandera perselisihan politik, hukum, dan bisnis.

Bagi Baghdad, pipa tersebut memiliki nilai yang jauh melampaui kapasitas teknisnya. Reuters menyebutnya sebagai satu-satunya jaringan pipa ekspor minyak Irak yang saat ini berfungsi menuju pasar internasional. Sebagian besar ekspor Irak selama ini dikirim melalui terminal-terminal selatan di Teluk, sehingga gangguan pelayaran di Selat Hormuz segera mengancam pendapatan negara.