Penyelidik mengatakan mantan kepala wihara tersebut diduga menyelewengkan uang hasil penjualan amulet dan benda-benda keagamaan lainnya.
Alih-alih menyetorkan uang itu ke rekening wihara, ia dilaporkan mendirikan sebuah yayasan dan mengalihkan dana ke rekening pribadi. Sementara itu, kuitansi donasi tetap diterbitkan atas nama wihara.
Menurut Natthasak, pola penggelapan tersebut mirip dengan yang digunakan dalam skandal besar Wat Phrabat Namphu, wihara di Provinsi Lop Buri yang mengelola rumah perawatan bagi penderita AIDS. Kerugian dalam kasus itu diperkirakan mencapai 10 miliar baht atau sekitar Rp 5,3 triliun.
Sementara itu, rekaman yang memperlihatkan mantan kepala wihara tersebut berhubungan seksual diserahkan kepada polisi oleh sekelompok pengikutnya.
Menurut Natthasak, mereka mengatakan tidak sanggup lagi menoleransi perilakunya.
Polisi juga menggeledah rumah Punyavee di Distrik Khlong Luang, Provinsi Pathum Thani. Dari penggeledahan tersebut, polisi menyita 35 amulet emas, serta emas batangan dan perhiasan dengan berat keseluruhan 90 baht atau sekitar 1,36 kilogram. Nilainya diperkirakan mencapai 6,04 juta baht atau sekitar Rp 3,2 miliar.
Selain itu, polisi menyita uang tunai 3,6 juta baht atau sekitar Rp 1,9 miliar, tiga telepon seluler, sebuah iPad, 10 set dokumen pertanahan dan perbankan, dua sertifikat tanah, tujuh buku tabungan, satu kontrak jual beli tanah, 18 dokumen investasi, satu polis asuransi kesehatan, enam sertifikat asuransi emas, tujuh bukti transaksi jual beli emas, serta empat sertifikat lotre Government Savings Bank.
Penyelidik mengatakan kasus tersebut kemungkinan berkaitan dengan dua atau tiga orang lainnya. Polisi menduga lebih dari satu perempuan mungkin terlibat.
Seorang pengelola non-biksu Wat Phutthaisawan bernama Chettha Ninsukhum juga dibawa ke kantor CIB untuk dimintai keterangan.
Ia menolak menjawab pertanyaan wartawan sebelum dibawa masuk ke dalam gedung.