Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi kembali menegaskan tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sebelum negara Palestina merdeka terbentuk di sepanjang perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Sikap ini muncul di tengah laporan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya mengaitkan kerja sama nuklir sipil AS-Saudi dengan normalisasi hubungan Riyadh-Israel.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump telah meneruskan perjanjian kerja sama nuklir sipil AS dan Arab Saudi ke Kongres untuk ditinjau. Namun, kesepakatan tersebut disebut tidak akan berlaku jika Riyadh tidak bergabung dalam Abraham Accords.
"Posisi presiden tidak berubah, dan perjanjian itu tidak akan bergerak maju kecuali Arab Saudi bergabung dengan Kesepakatan Abraham," kata seorang sumber pemerintah AS, seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Jumat (28/8/2026).
Pilihan Redaksi
- Breaking: Iran Umumkan Syarat Mutlak Buka Selat Hormuz ke AS
- Bos CIA Nyelonong ke Moskow, Putin Diperingatkan soal NATO
- Trump "Aneh-Aneh" Lagi, Mendadak Ubah Nama Danau Ontario
Laporan tersebut muncul setelah Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menandatangani perjanjian nuklir sipil pada bulan lalu.
Namun, sumber Saudi yang dikutip Channel 12 Israel membantah adanya kaitan antara kerja sama nuklir tersebut dengan normalisasi hubungan Saudi-Israel.
"Posisi Saudi jelas, tegas, dan tak tergoyahkan," kata sumber tersebut, dikutip Middle East Monitor. "Tidak akan ada hubungan diplomatik dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina independen dalam perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya."
Sumber itu menegaskan program nuklir sipil Saudi merupakan bagian dari kemitraan strategis yang lebih luas antara Riyadh dan Washington. Karena itu, program tersebut dinilai tidak semestinya bergantung pada keputusan Arab Saudi untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Penegasan Riyadh ini menunjukkan isu Palestina masih menjadi syarat utama dalam kemungkinan normalisasi dengan Israel, meski Washington terus mendorong perluasan Abraham Accords di Timur Tengah.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]