Selular.id – Harga memori DRAM kembali melonjak di tengah ketatnya pasokan global, didorong terutama oleh meningkatnya kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru bahkan menyebut nilai 1 kilogram chip memori produksi Korea Selatan kini setara dengan sekitar 620 gram emas 24 karat.
Kenaikan tersebut menggambarkan betapa tajamnya perubahan harga di pasar memori sepanjang 2026. Menurut laporan Wccftech, harga DRAM tertentu yang diproduksi perusahaan Korea Selatan mengalami lonjakan hingga 401 persen dibandingkan periode sebelumnya. Perbandingan dengan emas digunakan untuk menggambarkan tingginya nilai ekonomis komponen yang selama ini menjadi bagian kecil dari biaya sebuah perangkat elektronik.
Fenomena tersebut terjadi ketika produsen memori besar seperti Samsung dan SK hynix mengarahkan semakin banyak kapasitas produksi ke kebutuhan server, AI, dan memori berbandwidth tinggi atau HBM. Pergeseran ini membuat pasokan DRAM untuk PC, smartphone, dan perangkat konsumen semakin terbatas.
AI Menyedot Pasokan Memori
TrendForce melihat kebutuhan AI menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar DRAM global semakin ketat. Pada kuartal ketiga 2026, harga kontrak DRAM konvensional diperkirakan naik 13–18 persen secara kuartalan. Sementara harga NAND Flash diproyeksikan meningkat 10–15 persen.
Kondisinya sudah terlihat sejak awal tahun. TrendForce pada Februari memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional pada kuartal pertama 2026 melonjak 90–95 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Permintaan dari penyedia layanan cloud dan produsen server menjadi salah satu pendorong utama kenaikan tersebut.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Masalahnya, kapasitas produksi tidak bisa ditambah secepat pertumbuhan permintaan. Produsen harus menentukan jenis memori mana yang mendapatkan prioritas. Produk untuk server dan AI memiliki nilai jual lebih tinggi, sehingga sebagian kapasitas diarahkan ke segmen tersebut.
Samsung dan SK hynix Jadi Sorotan
Dua perusahaan Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK hynix, berada di posisi penting dalam rantai pasokan DRAM global.
SK hynix, misalnya, mencatat kinerja keuangan kuartal kedua 2026 yang sangat kuat. Perusahaan membukukan pendapatan 79,32 triliun won dan laba operasional 60,54 triliun won. Kinerja tersebut didorong penjualan produk bernilai tinggi, termasuk HBM, DRAM untuk server AI, dan enterprise SSD.
SK hynix juga menyebut harga DRAM dan NAND Flash mengalami kenaikan signifikan secara kuartalan. Perusahaan telah menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang dengan sekitar 10 pelanggan dan masih melanjutkan pembicaraan dengan pelanggan strategis lainnya.
Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi besar mulai mengamankan pasokan memori lebih jauh ke depan. Bagi penyedia cloud dan pengembang infrastruktur AI, kepastian pasokan menjadi semakin penting ketika kapasitas produksi global terbatas.
Harga Smartphone Ikut Tertekan
Dampaknya tidak berhenti di pusat data. Smartphone juga mulai merasakan tekanan dari mahalnya memori.
TrendForce memperkirakan harga rata-rata LPDDR4X—memori yang banyak digunakan pada perangkat mobile—melonjak setidaknya 70–75 persen pada kuartal kedua 2026. Sementara LPDDR5X diproyeksikan naik 78–83 persen secara kuartalan.
Kondisi ini membuat biaya produksi smartphone meningkat. Produsen perangkat harus memilih antara mempertahankan margin keuntungan, menaikkan harga jual, atau melakukan penyesuaian spesifikasi.
Bagi konsumen, efeknya dapat muncul dalam berbagai bentuk. Harga perangkat dengan kapasitas RAM besar berpotensi semakin mahal, sementara produsen bisa memilih kapasitas memori yang lebih rendah untuk menjaga harga tetap kompetitif.
Pasokan Konsumen Makin Terjepit
Persoalan utamanya adalah prioritas produksi. TrendForce mencatat produsen DRAM besar pada kuartal ketiga 2026 semakin memprioritaskan kebutuhan server. Akibatnya, pasokan DRAM untuk pasar konsumen ikut tertekan.
Situasi tersebut menciptakan kondisi yang cukup unik. Di satu sisi, permintaan konsumen mulai terpengaruh oleh mahalnya harga perangkat. Di sisi lain, produsen memori masih memiliki kekuatan untuk menaikkan harga karena permintaan dari sektor AI dan pusat data tetap tinggi.
Data harga spot TrendForce pada 28 Agustus 2026 juga menunjukkan harga DDR5 16Gb berada pada rata-rata sesi US$53,933, sedangkan DDR4 16Gb 3200 mencapai rata-rata US$91,293. Angka tersebut merupakan harga spot komponen memori dan tidak bisa disamakan langsung dengan harga modul RAM yang dibeli konsumen.
Kekurangan Bisa Berlanjut
Tekanan pasokan diperkirakan belum segera berakhir. TrendForce memperkirakan harga server DRAM masih akan meningkat pada kuartal ketiga 2026, sekitar 13–18 persen secara kuartalan. Bahkan, perusahaan riset tersebut sudah mengantisipasi potensi kekurangan server DRAM pada 2027 karena pertumbuhan pasokan RDIMM diperkirakan hanya sekitar 15–20 persen secara tahunan.
Di saat yang sama, SK hynix melihat permintaan memori untuk AI terus berkembang seiring meluasnya penggunaan AI dari pelatihan model menuju inferensi dan layanan AI yang bekerja secara langsung bagi pengguna. Perusahaan menilai perubahan tersebut memperluas kebutuhan memori, baik untuk AI maupun komputasi umum.
Artinya, kenaikan harga DRAM saat ini bukan hanya persoalan satu jenis chip atau satu perusahaan. Perubahan struktur permintaan industri semikonduktor membuat kapasitas produksi semakin diperebutkan oleh pusat data AI, server, PC, dan smartphone.
Perbandingan 1 kilogram DRAM dengan ratusan gram emas memang terdengar ekstrem. Namun, di balik angka tersebut terdapat perubahan yang lebih besar: memori komputer kini menjadi salah satu komponen strategis dalam perlombaan membangun infrastruktur AI global.
Baca juga: CXMT Tolak Permintaan Diskon DRAM Apple untuk Pasokan iPhone 18