Jakarta (ANTARA) - Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tepatnya di RT 09/07 menghasilkan omzet jutaan rupiah dari pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
"Dalam satu bulan, hasil penjualan sampah anorganik mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta yang dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan di lingkungan," kata Lurah Grogol Utara Syopwani di Jakarta, Senin.
Syopwani mengatakan pengelolaan sampah tersebut merupakan implementasi Instruksi Gubernur DKI Jakarta mengenai pemilahan sampah dari sumber.
Melalui pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumber, warga tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi.
"Program ini mendorong masyarakat mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi," katanya.
Menurut dia, pengelolaan sampah di lokasi ini terbilang baik. Meskipun berada di kawasan permukiman, kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sangat tinggi.
Syopwani menjelaskan warga terlebih dahulu memilah sampah menjadi tiga kategori, yakni organik, anorganik, dan residu.
Sampah organik, seperti daun, dicacah sebelum dimasukkan ke dalam lubang biopori dan komposter untuk diolah menjadi pupuk cair.
Menurutnya, hasil pengelolaan yang telah berjalan selama beberapa bulan mulai terlihat. Pupuk cair yang dihasilkan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di area budi daya kelolaan warga.
"Hasil pupuk organik tersebut kini digunakan untuk menyiram tanaman di lokasi budi daya yang telah disiapkan warga," ucapnya.
Ia menambahkan sejak diberlakukannya Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, Kelurahan Grogol Utara sudah membangun dua teba modern, 44 biopori jumbo dan 59 komposter.
"Pembangunan sarana pengelolaan sampah masih terus berlanjut. Kami bersama warga, dengan dukungan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, terus menyiapkan sarana, prasarana, dan lokasi untuk memperluas pengelolaan sampah," ucapnya.
Sementara itu, Pengelola Kelompok Tani (Poktan) Perumahan Senayan Residence Arifin memaparkan untuk mempercepat proses penguraian sampah organik, pihaknya menggunakan aktivator EM4 setelah sampah dicacah dan dimasukkan ke dalam biopori maupun komposter.
"Pupuk cair yang dihasilkan dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman di seluruh kompleks, termasuk tanaman buah. Adapun sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan, kami haluskan menggunakan blender untuk dijadikan pakan ikan lele di kolam bioflok," katanya.
Dia mengatakan pemanfaatan pupuk kompos hasil olahan sendiri telah membuahkan hasil.
Kelompok tani berhasil memanen hampir satu ton semangka yang dibudidayakan tanpa menggunakan pestisida kimia.
"Hasil panennya cukup memuaskan. Buah semangka terasa lebih manis karena seluruh proses budidayanya menggunakan pupuk kompos hasil olahan sendiri. Keuntungan dari penjualan panen dimasukkan ke kas lingkungan untuk mendukung kegiatan budi daya berikutnya," ucapnya.
Baca juga: Kebayoran Lama Selatan miliki 56 fasilitas pengelolaan sampah organik
Baca juga: Biowash jadi solusi cepat olah sampah organik di Manggarai Selatan
Baca juga: Jaksel gencarkan pembuatan "eco enzyme" untuk kurangi sampah organik
Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.