Liputan6.com, Bogor - PT Geo Dipa Energi (Persero) mendorong reformasi fiskal energi baru terbarukan (EBT) agar listrik hijau lebih kompetitif dan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi serta daya saing ekspor Indonesia.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis mengatakan, pemerintah perlu mengubah paradigma EBT dari sekadar kewajiban mencapai net zero emission menjadi instrumen fiskal untuk mengembangkan industri hijau.
"Kita mau coba bahwa bagaimana EBT kita itu tidak hanya sekadar kita berlaku baik sebagai warga dunia, tapi itu menjadi peluang untuk memicu pertumbuhan ekonomi,β ujar Yudistian di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Yudistian menilai, kebutuhan listrik hijau akan meningkat seiring ekspansi smelter dan hilirisasi mineral, kendaraan listrik dan baterai, data center serta kecerdasan buatan, manufaktur berorientasi ekspor, dan kawasan industri hijau.
Kebutuhan listrik hijau untuk sektor industri tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 140 TWh pada 2034 atau sekitar 70% dari produksi EBT nasional yang diproyeksikan mencapai 199,4 TWh.
Permintaan listrik hijau bahkan diperkirakan meningkat 3,5β6,3 kali sepanjang 2026β2034 karena standar ESG dan tuntutan pasar ekspor semakin memengaruhi daya saing produk.
Namun, Yudistian menyebut, proyek EBT masih menghadapi beban fiskal tinggi yang membuat tarif listrik kurang kompetitif dan biaya investasi meningkat.
Beban fiskal panas bumi mencapai sekitar 32β42%, sedangkan PLTA sekitar 15β25% dan PLTS/PLTB sekitar 8β15% karena mencakup PNBP, PBB, PBB Tubuh Bumi, pajak air permukaan, bonus produksi, dan retribusi daerah.
βKalau kita bisa lihat bagaimana beban fiskal di sisi energi providernya bisa kita manage, dengan harapan di sisi produksi industri dan produksi barang meningkat, maka fiskalnya kalau dikurangi di provider energi, di sisi lainnya bisa naik sepanjang menghasilkan net fiskal positif,β kata Yudistian.