Jakarta -
Gado-gado khas Indonesia tak kalah mendunia. Bahkan di Portland, Amerika Serikat ada restoran gado-gado dibangun oleh keturunan China-Indonesia menggunakan resep warisan.
Selain rendang atau nasi goreng, gado-gado juga termasuk makanan khas Indonesia yang populer di kancah internasional.
Nama 'gado-gado' memiliki arti 'campur-campur' dalam bahasa Betawi yang menggambarkan komposisi hidangan terdiri dari berbagai macam bahan dalam satu piring. Makanan ini memadukan sayuran rebus, seperti kacang panjang, kangkung, kol, hingga tauge yang dicampur dengan bumbu kacang gurih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak lama gado-gado dikenal di kalangan masyarakat internasional. Bahkan beberapa sumber menyebut bahwa gado-gado mulai populer di masa kolonial, ketika masyarakat lokal memanfaatkan bahan pangan yang tersedia untuk menciptakan hidangan bergizi dengan biaya terjangkau.
Restoran Gado-Gado di Portland yang didirikan oleh pria Amerika keturunan China-Indonesia. Foto: Instagram @gadogadopdx
Beberapa pendapat juga mengaitkan sejarah gado-gado dengan pengaruh budaya Tionghoa dan China. Konsep mencampur sayuran dan saus menyerupai salad dari Barat, tetapi memakai bumbu kacang tanah yang sesuai dengan cita rasa lokal. Tampilannya memang seperti salad, tetapi cita rasanya dikenal lebih kaya.
Dalam perkembangannya, gado-gado juga menyebar ke berbagai daerah, sampai ke dunia internasional.
Bahkan ada restoran Gado-Gado berdiri di Portland, Amerika Serikat. Restoran ini didirikan oleh Thomas Pisha-Duffly seorang chef asal Amerika Serikat keturunan China-Indonesia.
Dilansir dari unggahan voaindonesia.com (8/11/2019), Thom yang memang memiliki hobi masak, merintis bisnis kuliner menggunakan resep sang nenek sebagai inspirasi.
Thomas dibesarkan dengan kebiasaan menikmati masakan dari resep neneknya yang berasal dari Surabaya. Setelah kunjungan pertamanya ke Indonesia, Thom akhirnya mulai memasak dengan resep sang nenek dan mendirikan restoran Gado-Gado di tahun 2019.
Bersama istrinya, Thom membuka bisnis food cart Gado-Gado yang kini dikembangkannya sebagai bisnis restoran. Nama tersebut diambil karena sesuai arti gado-gado (campur-campur), di mana kehadiran restoran ini merupakan campuran warisan budaya yang ia miliki dan campuran berbagai masakan yang pernah ia buat sepanjang kariernya.
Menu andalan di sini adalah gado-gado, makanan yang sering tersaji di mejanya sejak kecil. Namun, latar belakang berasal dari keturunan China-Surabaya membuat masakan yang disajikan Thom di restorannya tidak hanya fokus pada masakan Indonesia tetapi juga banyak dipengaruhi makanan China kaki lima, juga makanan Singapura, dan Malaysia.
Begini tampilan sajian Gado-Gado di restoran tersebut. Foto: Instagram @gadogadopdx
Mungkin campuran banyak budaya membuat masakan di restoran Gado-Gado terdengar tidak autentik. Namun, menurut Thom sendiri, kata 'autentik' merujuk pada memasak makanan yang ia nikmati sepanjang dibesarkan, tetapi dengan cara dia sendiri.
Kini restoran Gado-Gado telah sukses besar bahkan masuk dalam James Beard Foundation Awards atau ajang sekelas 'Oscar' di dunia kuliner. Chef Thomas dinobatkan sebagai finalis untuk Best Chef: Northwest & Pacific di Penghargaan James Beard 2026.
Dalam unggahan @gadogadopdx (1/4/2026), restoran ini mengungkap, "Kami pernah menjadi finalis sebelumnya, tetapi setiap kali rasanya berbeda karena kami selalu berbeda setiap saat. Saya dapat dengan yakin mengatakan, apa pun yang terjadi, kami lebih baik hari ini daripada sebelumnya dan itu memberi saya begitu banyak kebahagiaan," tulis unggahan tersebut.
Gado-Gado telah menerima banyak nominasi Penghargaan James Beard dan dikenal karena rasa masakan Indonesia yang berani serta penggunaan bahan baku musiman yang variatif dan kreatif.
(aqr/adr)