Liputan6.com, Jakarta - Budayawan Seno Gumira Ajidarma dalam satu tulisan di buku kumpulan esai Tiada Ojek di Paris, menertawakan obsesi kepemilikan mobil kaum urban di Jakarta. Melalui kritik bergaya satir, dia menelanjangi 'ilusi status vs realitas fungsional' atas kepemilikan mobil. Dalam pandangannya, makna dari punya mobil bagi Homo Jakartensis --istilah yang dipakainya untuk menyebut kaum urban di Jakarta-- bukan sekadar alat angkut dari satu titik ke titik lain. Lebih dari itu, mobil dipuja sebagai simbol kesuksesan, harga diri, dan strata sosial.
Dalam tulisannya yang berjudul Mobil: Sebuah Mitos, Seno menertawakan fakta tentang pertumbuhan Jakarta yang justru melahirkan gelombang orang-orang bermobil, yang ironisnya membuat kota ini pada akhirnya 'macet oleh pertumbuhannya sendiri'. Membeli mobil demi gengsi modernitas ternyata membuat sang pemiliknya lebih lama terjebak dalam ruang sempit bernama kemacetan.
"Sekali lagi, makna mobil itu telah melampaui fungsinya, dan pada gilirannya menjadi tidak proporsional: atau dipuja sebagai benda sakral, atau diharamkan sekalian. Sementara itu, semua ini rupa-rupanya berlangsung di masyarakat munafik. Walaupun pro-kontra kemewahan cenderung membuat orang sungkan, mobil-mobil mewah tetap berdatangan. Melihat mobil-mobil dahsyat dengan kecepatan kilat itu, saya jadi heran. Di Jakarta, yang memuliakan kemacetan, mobil-mobil itu mau ditancap di mana? Tidak ada tempat ngebut untuk mobil-mobil itu. Namun, pemiliknya tidak terlalu peduli dengan kecepatan sebetulnya, melainkan dengan suatu mitos. Itulah mitos tentang suatu martabat yang bisa didapatkan manusia melalui benda-benda, yang akan meletakkannya dalam suatu derajat sosial tertentu, dan hanya dengan itulah hidupnya akan bermakna." (Seno Gumira Ajidarma, Tiada Ojek di Paris: 2015)
Membaca tulisan Seno itu memberikan kita sebuah landasan filosofis yang kokoh untuk mulai menerapkan frugal living secara jujur. Frugal living sendiri adalah pilihan gaya hidup hemat dan bijaksana di mana seseorang secara sadar mengalokasikan sumber penghasilannya demi mencapai tujuan keuangan di masa depan. Konsep ini menekankan pada pengelolaan keuangan yang efisien, memprioritaskan kebutuhan utama di atas keinginan dasar, serta memastikan bahwa setiap pengeluaran memberikan nilai dan manfaat yang maksimal.
Seno menyadarkan banyak orang bahwa sejumlah kebutuhan hidup di kota besar sebenarnya hanyalah 'mitos' yang dikonstruksi oleh industri dan tuntutan pergaulan sosial. Kita dipaksa percaya bahwa masyarakat kota harus punya mobil misalnya, tanpa peduli apakah kendaraan itu benar-benar efektif untuk menunjang produktivitas atau justru menjadi beban pasif yang menguras dompet. Bagi para penganut gaya hidup hemat, membeli barang yang kehilangan fungsi utamanya, seperti membeli mobil yang tidak bisa berjalan cepat karena macet, hanya demi memuaskan ego adalah bentuk pemborosan terbesar.
Itu juga yang diyakini Intan Fauzi (34), seorang Pegawai Negeri Sipil di Jakarta. Menurutnya, jalan hidup yang tidak selalu di atas mengajarkan dirinya bahwa pengelolaan keuangan yang bijak itu sangat penting. Dirinya juga merasa beruntung tidak punya kebiasaan FOMO dan pamer di media sosial, sehingga membeli mobil saat dirinya sukses bukan suatu keharusan.
Meski begitu, seiring bertambah dewasa, Intan merasa penting juga untuk benar-benar menerapkan gaya hidup frugal living. Bukan hanya karena in this economy yang tidak menentu, dirinya juga mengaku berada dalam kondisi yang terjepit sebagai kelas menengah: dibilang miskin tapi gaji cukup, dibilang kaya tapi uang habis untuk membantu kebutuhan keluarga. Dengan frugal living, Intan kini menyadari betul mana yang jadi prioritas mana yang hanya kepuasan sesaat.
"Dulu saya gak kelola uang dengan baik, pendapatan dan pengeluaran gak pernah tercatat. Saat kondisi hidup sedang di bawah, saya kewalahan. Dulu cenderung enggak mikir di dompet ada berapa, selama dompet belum kosong, saya akan berpikir untuk terus belanja atau mengeluarkan uang, di samping kebutuhan sehari-hari seperti untuk hobi dan kesenangan belanja," katanya.
Ada kepuasan terbesar bagi Intan di saat dirinya berhasil menahan diri dari pengeluaran yang tidak perlu. Salah satunya adalah kebahagiaan melihat isi tabungan yang cukup banyak. Saat menjalani gaya hidup frugal living, Intan mengaku punya mekanisme menahan diri dua kali lebih besar saat ingin membeli sesuatu. Caranya dengan memberikan waktu berpikir satu hari sebelum memutuskan untuk membeli.
"Kalau ternyata saya tidak butuh, cuma suka aja, gak jadi beli," katanya.
Banyak layer pertimbangan dalam dirinya sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu, seperti dipikirkan dulu tingkat kebutuhannya, apakah dirinya sudah punya barang serupa yang ternyata fungsinya sama, hingga pertimbangan harga. Meski demikian, Intan mengaku ada satu benda yang tetap dibelinya meski mahal karena pertimbangan kualitas: sepatu original. Baginya memiliki sepatu lebih dari satu adalah kebutuhan, sementara pilihan sepatu original ketimbang yang palsu, juga merupakan pertimbangan penghematan. Mengingat sepatu original, selain nyaman juga punya nilai ekonomis yang panjang ketimbang yang abal-abal.
"Kenyamanan nomor satu dan awet dipakai," ungkapnya.
Intan meyakini, frugal living bukan berarti pelit, dan hemat memang tidak bisa membuat kaya seperti dalam lagu, tapi berpikir berulang-ulang sebelum membeli barang in this economy jadi 'jalan ninja' baginya untuk tetap di jalur aman.
Hal yang sama juga dituturkan Nur Aisah Zamil (24), seorang pegawai swasta di Jakarta. Seiring bertambah dewasa, Aisah mulai sadar bahwa mengatur uang itu penting, terlebih masih ada cita-cita yang ingin dicapainya di masa depan. Saat ditanya mengapa kini menjalani gaya hidup frugal living, dirinya mengaku hanya ingin lebih kuat secara finansial dan tidak terus-menerus menghabiskan uang hanya untuk memenuhi keinginan sesaat apalagi membeli sesuatu hanya karena lapar mata.
"Dulu memang saya suka beli sesuatu cuma karena tertarik atau merasa barang itu lucu dan menarik, meski sebenarnya belum terlalu dibutuhkan dan terkadang saya membeli karena penasaran kadang karena kebiasaan scroll Tiktok atau shopee membuat saya tertarik membeli hal yang belum tentu ada manfaatnya atau benar-benar butuh. Dari situ, saya mulai belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan supaya pengeluaran lebih terkontrol," katanya.